Kena Deh! Giliran Gunung Erupsi, Wakil Rakyat Malah ‘Ghosting’ Rakyat Sendiri

Megapolitan80 Dilihat

​MARKABERITA.COM – Hei, Gen Z dan Milenial! Coba deh pikirin, rasanya pas lagi butuh-butuhnya support tapi orang yang harusnya tanggung jawab malah ghastly missing in action alias ngilang? Nah, itulah sindiran pedas yang baru aja dilempar sama Koalisi Peduli Indonesia (KPI) buat para anggota dewan.

​Baru-baru ini, aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda lagi naik daun—tapi dalam artian yang serem, alias makin aktif dan berpotensi sebarin abu vulkanik! Wilayah kayak Banten, DKI Jakarta, Jabar, Lampung, Bengkulu, sampai Sumsel kena sorotan karena masuk zona rawan.

​Masalahnya, di tengah ancaman bencana ini, Ketua Umum KPI, Ahmad Fauzi, ngerasa geram banget sama kelakuan para politisi dan wakil rakyat (vibes-nya kayak red flag banget).

​“Jangan pas lagi butuh suara aja, warga didatengin kayak bestie. Tapi pas giliran warga kena musibah dan butuh perlindungan, wakil rakyatnya malah gak kelihatan batang hidungnya!” tegas Ahmad Fauzi. Senin (7/09/26).

​Buat kita yang melek politik, fenomena ini udah gak asing lagi. Anggota DPR RI dan DPRD dari dapil-dapil terdampak sering banget kena kritik karena terjebak jadi “wakil kepentingan politik 5 tahunan” doang. Padahal, saat situasi emergency kayak sekarang, yang dicari warga itu bukan janji manis atau baliho kampanye, tapi aksi nyata.

Baca Juga  Janji Kolaborasi BUMD Food Station dan Realitas Pukulan Telak di KKMP Kalianyar

​KPI ngingetin kalau para pejabat di Senayan atau DPRD itu punya power lewat fungsi representasi, pengawasan, dan penganggaran. Jadi, tugas mereka bukan cuma duduk manis di ruang AC, apalagi cuma datang ke lokasi bencana demi konten feed Instagram doang.

​Supaya gak dituduh cuma pencitraan, KPI mendesak agar langkah-langkah konkret ini langsung dieksekusi tanpa banyak drama:

  1. ​Update Info Real-Time: Kasih info status GAK yang transparent, cepat, dan akurat biar warga gak panik.
  2. ​Pendataan Gercep: Data warga yang terdampak abu vulkanik langsung di lapangan, jangan pake lambat.
  3. ​Fasilitas Kesehatan Siaga: Sediakan posko dan layanan kesehatan darurat, terutama buat antisipasi gangguan pernapasan akibat debu vulkanik.
  4. ​Kolaborasi Lintas Sektor: Anggota dewan harus aktif networking bareng Pemda, BPBD, dan nakes setempat.
  5. ​Kawal Bantuan Sampai Tangan Warga: Jangan cuma ngasih bantuan seremonial lalu ditinggal, tapi pastikan distribusinya beneran sampai ke tangan masyarakat yang membutuhkan.
Baca Juga  PPMJ Bangun Sinergi Strategis Bersama Pemprov DKI dan Sumbar, Perkuat Wajah Jakarta Sebagai Kota Global Berbudaya

​Intinya, KPI bakal nge- tracking dan ngawal ketat performa para wakil rakyat ini. Siapa yang beneran kerja tulus buat nolong warga, dan siapa yang cuma tebar pesona pas mau Pemilu bakal keliatan banget.

​Safety and well-being warga itu harga mati dan gak boleh diperjualbelikan demi kepentingan politik. Kalau lagi darurat gini wakil rakyatnya gak turun tangan, worth it gak sih mereka terus dipilih?

​Gimana, setuju gak kalau politisi model begini harus kita cancel bareng-bareng di pemilu berikutnya?(red).