METAFISIKA DAN JUNGKIR BALIKNYA SKENARIO AMERIKA-ISRAEL DI TIMUR TENGAH

Oleh: Ichsanuddin Noorsy dan M. Arief Pranoto

Internasional, Opini176 Dilihat

MARKABERITA.ID | Jakarta, 8 Maret 2026 – ​Eskalasi konflik sepekan terakhir antara Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran ditandai oleh ambisi Donald Trump yang menuntut Teheran menyerah tanpa syarat. Sebagai Presiden AS (ke-45 dan ke-47), Trump menunjukkan keseriusan untuk mengerahkan kekuatan Angkatan Darat dengan 110 ribu pasukan tempur. Ironisnya, target pemboman AS yang berdekatan dengan fasilitas publik membuka peluang bertambahnya 1.332 korban sipil, termasuk anak-anak. Iran menyebut ambisi Trump ini sebagai sebuah mimpi di siang bolong.

​Faktanya, perang memang kejam—sekejam genosida dan kejahatan kemanusiaan yang dilakukan Israel di Gaza. Di sisi lain, narasi media arus utama Barat menyebut Iran mulai melunakkan posisi dengan meminta maaf kepada negara tetangga guna mencegah meluasnya konflik. Namun, Iran tetap pada prinsip pertahanan diri: mereka tidak akan menyerang kecuali diserang. Di tengah ketegangan ini, Washington mencoba memainkan bidak politiknya dengan memunculkan figur “boneka” untuk memimpin Iran, di mana nama putra Reza Pahlavi santer disebut—sebuah skenario yang mirip dengan penyiapan Delcy Rodriguez untuk menggantikan Nicolas Maduro di Venezuela.

​Runtuhnya Mitos Teknologi Barat

​Konflik ini bukan sekadar eskalasi militer biasa, melainkan panggung ujian bagi narasi besar yang didominasi Barat selama puluhan tahun: superioritas teknologi, hegemoni ekonomi-politik liberal, dan legitimasi moral peradaban modern. Selama ini, dunia dicekoki keyakinan bahwa teknologi militer AS dan Israel adalah “perisai tak tertembus”. Dengan kepemilikan sekitar 5.200 hulu ledak nuklir (1.700 di antaranya siap luncur melalui ICBM), AS ingin ditakuti dan disegani, sementara Israel seolah membiarkan dirinya dibenci demi eksistensi.

Baca Juga  Swiss Mengejutkan, Mengalahkan Italia 2-0 di Euro 2024

​Namun, mitos ini mulai retak. Iran, yang telah berada di bawah sanksi internasional dan embargo ekonomi selama hampir lima dekade, justru berhasil membangun kemandirian industri militer. Sanksi tersebut mereka maknai sebagai “karunia Allah” yang memaksa lahirnya inovasi lokal—mulai dari rudal balistik, drone tempur, hingga sistem peperangan elektronik yang berkembang di luar ekosistem Barat.

​Hasilnya adalah sebuah paradoks geopolitik: negara yang diisolasi mampu menciptakan daya tawar militer yang menantang sistem keamanan regional bentukan Amerika. Keunggulan teknologi terbukti tidak identik dengan dominasi mutlak. Strategi desepsi (penyesatan) dan narasi persepsi menunjukkan bahwa persenjataan mutakhir memang penting, namun semangat juang prajuritlah yang menentukan hasil akhir.

Baca Juga  Permintaan Maaf Markaberita.id Kepada Andy Syukry Amal Dan Masyarakat Atas Pelanggaran Kode Etik Jurnalistik

​Pudarnya Hegemoni Amerika

​Sebagaimana ditulis J.E. Stiglitz, hegemoni AS kini berada di titik nadir. Tanpa kekuatan militer yang dominan dan semangat religius yang menyertainya, AS dan Israel kian dijauhi. Kepudaran ini kian nyata saat Trump harus “mengemis” agar negara-negara Teluk berinvestasi di AS dan membeli persenjataannya.

​Arsitektur keamanan pasca-Perang Dunia II pun mengalami keretakan masif. Negara-negara Teluk seperti Arab Saudi dan UEA kini tidak lagi menggantungkan nasib sepenuhnya pada Washington. Mereka mulai membuka jalur diplomasi dengan China melalui Belt and Road Initiative serta memperkuat hubungan strategis dengan Rusia.

​Kegagalan AS di Afghanistan pada 2021 menjadi simbol paling dramatis bahwa kekuatan militer terbesar di dunia pun memiliki batas. Hukum keseimbangan global sedang bekerja; ketika AS kehilangan kontrol, muncul kekuatan penyeimbang—entah itu bantuan navigasi satelit dari China yang mampu mengunci posisi kapal induk USS Abraham Lincoln, atau dukungan intelijen Rusia yang membantu presisi rudal Iran hingga menghantam Haifa. Kemenangan total AS-Israel atas Iran kini menjelma menjadi sekadar “kebohongan publik” di tengah ketakutan rakyat Israel sendiri.

​Metafisika Geopolitik: Dimensi yang Terlupakan

​Analisis geopolitik Barat seringkali gagal memahami dimensi hakikat kebenaran atau “metafisika geopolitik”. Kekuatan Financial-Military Industrial Complex memang memberikan keunggulan material, namun sejarah membuktikan bahwa materi bukanlah penentu tunggal kemenangan.

Baca Juga  Refleksi 52 Tahun Malari: Menguji Nyali Kedaulatan di Tengah Hegemoni Global ​

​Kita bisa menilik sejarah Nusantara: dari kemenangan Malahayati melawan Cornelis de Houtman hingga Pertempuran Surabaya 10 November 1945. Dalam peristiwa-peristiwa tersebut, pihak yang lebih lemah secara persenjataan mampu memukul mundur kekuatan global karena memiliki modal spiritual, jihad, dan keyakinan moral.

​Inilah inti dari metafisika geopolitik: sebuah dimensi kekuatan yang tidak bisa dijelaskan dengan kalkulasi material semata. Ia berkaitan dengan moral kolektif, identitas peradaban, dan keyakinan spiritual. Kezaliman dan kemunafikan struktural pada akhirnya akan membuahkan pembusukan dari dalam.

​Sejarah sedang memperlihatkan bahwa teknologi mungkin bisa memenangkan satu-dua pertempuran, tetapi keyakinanlah yang menentukan arah sejarah. Timur Tengah hari ini adalah panggung terbaru bagi pelajaran lama ini. Ini bukan sekadar invasi wilayah, melainkan intervensi terhadap sistem kehidupan dan keyakinan. Di hadapan pergiliran zaman ini, pilihannya hanya satu: menjadi saksi bisu atau ikut menegakkan kebenaran.(Red).