Puing Monorel dan Jargon Gen Z: Menuntut Inovasi Substantif, Bukan Sekadar Etalase Politik

Megapolitan283 Dilihat

​Markaberita.id | Editorial 22 Desember 2025 – Rencana Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk mulai mencabut tiang-tiang monorel yang mangkrak pada Januari 2026 adalah sebuah ironi puncak dalam manajemen kota. Setelah hampir dua dekade berdiri tegak sebagai “monumen kegagalan,” tiang-tiang di koridor Senayan dan Rasuna Said itu akhirnya akan diruntuhkan. Namun, di balik langkah estetika ini, muncul sebuah pertanyaan fundamental: Apakah solusi yang ditawarkan pemerintah—termasuk pelibatan narasi Gen Z di dalamnya—merupakan inovasi nyata atau sekadar etalase politik untuk menutupi kecacatan birokrasi?

​Paradoks pertama terletak pada logika finansial yang menyakitkan. Jakarta kini dipaksa menanggung apa yang bisa disebut sebagai “biaya penghapusan dosa.” Proyek ini telah menjadi lubang hitam anggaran: membangunnya membutuhkan modal raksasa yang menguap sia-sia, dan kini, meruntuhkannya pun menuntut alokasi dana, tenaga, serta waktu yang tidak sedikit. Kita sedang berada di titik di mana penghancuran dianggap sebagai kemajuan—sebuah pengakuan bahwa selama 20 tahun, kita bukan membangun masa depan, melainkan memelihara kesalahan perencanaan yang sangat mahal.

Baca Juga  CBA Desak KPK Bongkar Kejanggalan 19 Proyek Gedung DPRD DKI Senilai Rp50,3 Miliar

​Pencabutan ini bukan sekadar urusan teknis demolition atau merobohkan beton semata. Melakukan pembongkaran besar-besaran di pusat saraf ekonomi Jakarta—Kuningan dan Senayan—pada tahun 2026 akan menjadi ujian manajemen konflik yang sangat berat.

​Jika tidak dikelola dengan presisi tinggi dan rencana kontigensi yang matang, proses “pembersihan” ini justru berisiko menciptakan kemacetan horor baru yang melumpuhkan aktivitas warga. Jangan sampai upaya menghancurkan kesalahan lama justru melahirkan masalah baru yang sama melelahkannya bagi publik. Pemerintah harus membuktikan bahwa mereka mampu mengeksekusi solusi tanpa menambah beban penderitaan masyarakat di jalan raya.

​Di tengah persiapan eksekusi, narasi mengenai “Solusi Berbasis Gen Z” mulai didengungkan sebagai komoditas politik. Kita harus tetap kritis: apakah pelibatan generasi muda dalam perencanaan pasca-pencabutan tiang ini benar-benar mengakomodasi ide segar seperti transportasi mikro-mobilitas dan ruang publik inklusif? Ataukah label “Gen Z” hanya digunakan sebagai kosmetik digital untuk mempercantik citra birokrasi yang sebenarnya masih terjebak dalam pola pikir konservatif?

Baca Juga  Refleksi 1 Tahun Pram-Doel, Ketua Umum FK REPNUS: Jakarta Global Harus Humanis dan Solutif bagi Rakyat  

​Jika pemerintah hanya menjual jargon tanpa memberikan ruang eksekusi yang nyata bagi inovasi anak muda, maka pencabutan tiang ini tak lebih dari sekadar “cuci piring administratif.” Jakarta membutuhkan kebijakan yang substantif, bukan sekadar kebijakan yang tampak “estetik” di media sosial namun keropos secara implementasi.

​Sejarah kelam tiang monorel Jakarta harus menjadi batu ujian bagi integritas pembangunan ke depan. Ada tiga poin krusial yang harus dicatat:

  1. ​Visi Tanpa Eksekusi adalah Beban Sejarah: Ambisi besar tanpa kepastian teknis hanya akan mewariskan puing bagi generasi mendatang.
  2. ​Inovasi Bukan Retorika: Pelibatan lintas generasi dalam kebijakan harus berbasis pada data dan studi kelayakan yang rigid, bukan sekadar strategi pemenangan elektoral.
  3. ​Akuntabilitas Melampaui Jabatan: Kegagalan infrastruktur tidak boleh dianggap selesai hanya karena berganti kepemimpinan; tanggung jawab harus tetap terlacak.
Baca Juga  Eks Kasatpol PP DKI Kembali Disorot! Harta Walikota Jakpus Anjlok 63,5% Saat Utang Meroket 212%

​Menghancurkan tiang monorel memang akan membersihkan cakrawala Jakarta dari pemandangan yang menyakitkan mata. Namun, membayar mahal untuk menghancurkan kesalahan masa lalu adalah pelajaran yang sangat pahit. Jakarta tidak butuh lebih banyak etalase politik yang dipoles dengan narasi kepemudaan yang dangkal. Jakarta butuh keberanian untuk benar-benar berinovasi dan menuntaskan apa yang telah dimulai, tanpa meninggalkan “nisan beton” baru yang akan membebani anak cucu kita di masa depan.(Red).