IIER dan PSPK Perkuat Keamanan Anak di Ruang Digital Melalui Rangkaian Kegiatan Kolaboratif

Megapolitan408 Dilihat

​

Markaberita.id |​Jakarta, 16 September 2025 — Indonesian Institute for Education Reform (IIER) dan Pusat Studi Pendidikan dan Kebijakan (PSPK) menegaskan komitmen mereka dalam menciptakan ekosistem pendidikan digital yang aman dan kondusif bagi anak-anak Indonesia. Upaya ini diwujudkan melalui serangkaian kegiatan, yaitu Reformer Talk #2 dan Reformer Workshop #2, yang melibatkan berbagai pihak, mulai dari akademisi, praktisi, komunitas, orang tua, hingga pelajar.

​Kegiatan diawali dengan Reformer Talk #2 yang diselenggarakan secara daring pada 14 Juni 2025. Dengan tema “Di Balik Layar Gawai: Bagaimana Kita Menjaga Anak-anak Kita dari Risiko Dunia Digital?”, acara ini diikuti oleh 477 peserta.

Baca Juga  Semangat Sumpah Pemuda: Peran Sentral Generasi Muda Jakarta Menuju Kota Global

​Mediodecci Lustarini, Sekretaris Direktorat Pengawasan Ruang Digital Kemkominfo, menyoroti peran pemerintah melalui PP No. 17 Tahun 2025 (PP TUNAS) yang memperkuat akuntabilitas penyelenggara sistem elektronik dalam perlindungan anak. “PP TUNAS hadir untuk memastikan anak aman di ruang digital,” tegasnya.

​Sementara itu, Pandu Ario Bismo dari PSPK menekankan pentingnya upaya sistemik dan kolektif dari berbagai pihak untuk mengatasi kecanduan digital. Psikolog anak, Aretha Ever Ulitua Samosir, menambahkan bahwa anak-anak sangat rentan, dan tanpa pengawasan yang tepat, gawai dapat memperburuk kerentanan tersebut.

​Sebagai tindak lanjut dari talkshow, Reformer Workshop #2 digelar pada 3 Agustus 2025, dengan 60 peserta yang dibagi ke dalam kelompok-kelompok untuk merumuskan rekomendasi nyata.

Baca Juga  Pemprov DKI Dukung Revitalisasi Pasar Pramuka, Mahasiswa Muda Transparansi (MMT) Apresiasi Komitmen Keterbukaan

​Fathiyya Nur Rahmani dari PSPK mengungkapkan keprihatinan tentang dampak gawai terhadap kesehatan mental remaja. “Saat ini kita menghadapi wabah global penyakit mental akibat penggunaan gawai masif,” ujarnya.

​Sheilla Njoto dari Nation Insights menambahkan bahwa era digital telah menghilangkan “penjaga gerbang informasi,” sehingga sistem pendidikan harus tetap menjaga agensi manusia. Pengalaman dari pelajar juga memperkaya diskusi. Adina Rifaya Tsabita dari Sekolah Murid Merdeka, salah satu dari delapan pelajar yang hadir, berbagi pengalamannya. “Teknologi membantu pembelajaran, tapi terkadang menghambat pertumbuhan pribadi. Jika bisa, saya ingin menunda paparan digital agar tidak adiksi sejak dini,” katanya.

​Kegiatan workshop ini didukung oleh berbagai mitra, termasuk Paragon Corp, Guru Belajar Foundation, Taman School, dan Yayasan Teman Saling Berbagi, serta difasilitasi oleh para alumni Indonesia Mengajar.

Baca Juga  Menanti Kepastian Hukum di Balik Tembok Apartemen, Warga Casablanca East Residence 2 Menuntut Haknya

​Sebagai informasi, Indonesian Institute for Education Reform (IIER) merupakan lembaga riset independen, sementara Pusat Studi Pendidikan dan Kebijakan (PSPK) adalah yayasan nirlaba yang fokus pada kebijakan pendidikan yang berpihak pada anak.

​Melalui rangkaian kegiatan ini, IIER dan PSPK berkomitmen untuk terus mendorong dialog, riset, dan kolaborasi demi terciptanya ekosistem pendidikan digital yang inovatif, inklusif, dan aman bagi anak-anak Indonesia.(Kemal)