MARKABERITA.COM, INDONESIA – Tegangan listrik yang rendah dan rumah tangga tanpa sambungan mandiri masih menjadi tantangan pemerataan energi di sejumlah wilayah Indonesia. Kondisi tersebut menjadi perhatian dalam upaya memastikan listrik tidak hanya tersedia, tetapi juga dapat dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat.
Melalui pembangunan jaringan, penguatan infrastruktur distribusi, dan perluasan sambungan rumah tangga, PT PLN (Persero) mendukung upaya menghadirkan akses listrik yang lebih andal sebagai fondasi pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
PT PLN (Persero) terus berperan dalam mendukung pembangunan negeri melalui pemerataan akses listrik yang andal dan terjangkau. Upaya ini tidak hanya bertujuan menerangi permukiman, tetapi juga membuka peluang peningkatan kualitas pendidikan, pelayanan publik, dan produktivitas ekonomi masyarakat.
Salah satu tantangan pemerataan listrik terlihat di Dusun Prau Bosok, Desa Muara Baru, Kecamatan Cilamaya Wetan, Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Meski jaringan listrik telah tersedia, sebagian warga masih menghadapi kendala tegangan rendah dan belum memiliki sambungan listrik sendiri.
Melalui Program Listrik Desa (Lisdes) Tahun Anggaran 2025, pemerintah membangun jaringan tegangan menengah sepanjang 0,549 kilometer sirkuit, jaringan tegangan rendah 0,91 kilometer sirkuit, serta satu gardu distribusi berkapasitas 50 kVA untuk melayani 93 calon pelanggan rumah tangga.
Program tersebut juga didukung Bantuan Pasang Baru Listrik (BPBL) bagi rumah tangga yang memenuhi kriteria. Bantuan ini mencakup instalasi listrik, Sertifikat Laik Operasi (SLO), biaya penyambungan daya 900 VA, serta token listrik perdana senilai Rp100.000.
Bagi PLN, perluasan infrastruktur kelistrikan menjadi bagian penting dalam mendukung aktivitas masyarakat. Ketersediaan listrik memungkinkan anak-anak belajar lebih nyaman, pelaku usaha memperluas kegiatan produksi, serta masyarakat mengakses informasi dan layanan digital.
Namun, manfaat listrik bagi kesejahteraan tidak hanya ditentukan oleh tersedianya jaringan. Keandalan pasokan, keterjangkauan biaya, serta kemampuan masyarakat memanfaatkan energi untuk kegiatan produktif juga menjadi faktor penting.
Karena itu, pembangunan kelistrikan perlu diikuti peningkatan kualitas layanan dan evaluasi manfaat yang dirasakan warga. Dampaknya dapat dilihat dari perubahan aktivitas belajar, jam operasional usaha, produktivitas, hingga peluang peningkatan pendapatan masyarakat.
Pemerataan listrik juga menghadapi tantangan geografis, terutama di wilayah terpencil dan kepulauan. Kondisi tersebut membutuhkan pendekatan yang sesuai, baik melalui perluasan jaringan PLN maupun pemanfaatan pembangkit energi terbarukan skala kecil di daerah yang belum terjangkau jaringan utama.
Melalui pembangunan infrastruktur dan peningkatan kualitas layanan, PLN memiliki peran strategis dalam mendukung pemerataan pembangunan nasional. Tujuannya bukan sekadar menghadirkan terang, melainkan memperluas kesempatan masyarakat untuk belajar, bekerja, mengembangkan usaha, dan meningkatkan kualitas hidup.
Dengan demikian, keberhasilan pembangunan kelistrikan tidak hanya diukur dari bertambahnya jaringan dan sambungan baru, tetapi juga dari manfaat nyata yang dirasakan masyarakat di berbagai pelosok negeri.






