BNI Catat Kinerja Kuartal III 2026: PPOP Tembus Rp27,5 Triliun, Tertinggi dalam Sejarah Berkat Fondasi Bisnis yang Tangguh

Nasional57 Dilihat

​Markaberita.com, Jakarta – Di tengah dinamika ekonomi global dan tekanan margin industri perbankan, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI kembali menorehkan pencapaian historis. Hingga kuartal III 2026, perseroan membukukan laba operasional sebelum pencadangan (pre-provision operating profit / PPOP) sebesar Rp27,5 triliun, tumbuh 11,6% secara tahunan (year-on-year / YoY). Angka ini merupakan rekor tertinggi sepanjang sejarah BNI untuk periode kuartal III, sekaligus merefleksikan ketahanan fundamental perusahaan yang solid.

​Kinerja gemilang ini ditopang oleh ekspansi kredit yang masif dan merata di seluruh segmen, dengan pertumbuhan 22,2% YoY hingga mencapai Rp992,5 triliun. Di sisi pendanaan, dana murah (current account savings account / CASA) melesat 19,6% YoY menjadi Rp733,7 triliun, sementara kualitas aset kian membaik dengan rasio non-performing loan (NPL) gross yang turun ke level 1,9%.

​Capaian positif ini juga berjalan selaras dengan langkah Bank Indonesia (BI) yang mempertahankan BI-Rate di level 5,75% serta memutuskan pelonggaran Giro Wajib Minimum (GWM) secara bertahap mulai November 2026 untuk memperkuat likuiditas perbankan serta mendorong sektor produktif.

Baca Juga  Bey Machmudin Tutup KKJ - PKJB 2024

​Direktur Utama BNI, Putrama Wahju Setyawan, mengungkapkan bahwa ketekunan dalam menjaga prinsip kehati-hatian dan kedisiplinan pengelolaan risiko menjadi kunci utama di balik konsistensi pertumbuhan bisnis berkualitas BNI.

​“Di tengah dinamika pasar yang menantang, BNI tetap menjaga momentum pertumbuhan dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian… Fokus kami adalah memperkuat fundamental dan produktivitas untuk menciptakan pertumbuhan yang berkualitas dan berkelanjutan,” ujar Putrama. Selasa (27/10/26).

 

​Secara finansial, BNI mencatatkan pendapatan bunga bersih (net interest income / NII) sebesar Rp33,2 triliun (tumbuh 13,6% YoY) dan fee-based income sebesar Rp13,9 triliun (tumbuh 8,3% YoY). Kendati industri menghadapi tekanan margin, BNI tetap berhasil mendongkrak laba bersih sebesar 6,6% YoY menjadi Rp16,1 triliun.

​Ekosistem digital BNI terus menunjukkan traksi yang mengesankan sebagai motor penggerak pendanaan:

​wondr by BNI: Pengguna melesat 58% YoY mencapai 16,6 juta, dengan nilai transaksi menembus Rp1.774 triliun (tumbuh 25% YoY).

​BNIdirect: Solusi perbankan transaksi korporasi ini mencatat nilai transaksi sebesar Rp9.234 triliun (tumbuh 16% YoY) dengan basis pengguna mencapai 293 ribu.

Baca Juga  Borok Korupsi bank bjb Terbongkar Lagi, Tiga Petinggi Ini Digarap KPK di Bandung

​Transformasi jaringan cabang melalui inisiatif BRAVE (Branch, Region & Area Value Empowerment) turut memperkuat produktivitas layanan secara terintegrasi, memperluas jangkauan, dan mempererat hubungan dengan nasabah di berbagai lini.

​Strategi Ekspansi Selektif dan Kualitas Aset Terkendali

​Direktur Finance & Strategy BNI, Hussein Paolo Kartadjoemena, menjelaskan bahwa pertumbuhan kredit dilakukan secara selektif dengan standar underwriting yang ketat. Strategi ini sukses mendongkrak pangsa pasar kredit BNI sebesar 113 bps menjadi 10,6%.

​Dari sisi pendanaan, pertumbuhan giro yang impresif sebesar 25,9% YoY berhasil melampaui rata-rata industri, mendongkrak pangsa pasar giro BNI menjadi 13,2%. Di tengah penurunan Net Interest Margin (NIM) industri, NIM BNI terkoreksi tipis 30 bps ke level 3,5%, sementara Cost of Fund (CoF) berhasil dijaga tetap terkendali di angka 2,77%.

​Dari aspek manajemen risiko, Direktur Risk Management BNI, David Pirzada, memaparkan bahwa perbaikan kualitas aset tercermin dari penurunan rasio Loan at Risk (LaR) dari 10,4% menjadi 7,8%. BNI juga menerapkan prinsip kehati-hatian ekstra dengan menjaga rasio total pencadangan terhadap kredit di level 3,8% serta NPL coverage ratio di angka 193,3%.

Baca Juga  Tragedi Deodoran Berapi di Asrama Tel-U: Mahasiswa Ngamuk, Rektorat Didesak Tindak Pelaku!

​BNI menutup kuartal III 2026 dengan permodalan dan likuiditas yang sangat memadai untuk mendukung ekspansi lanjutan:

​LDR (Loan to Deposit Ratio): 87,9%

​LCR (Liquidity Coverage Ratio): 143,4%

NSFR (Net Stable Funding Ratio): 128,4%

​CAR (Capital Adequacy Ratio): 19,2% (jauh di atas ketentuan minimum)

​Seluruh penguatan fundamental ini turut sejalan dengan arah transformasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di bawah koordinasi Danantara Indonesia, yang berfokus pada peningkatan daya saing dan penciptaan nilai jangka panjang bagi perekonomian nasional.

​Memasuki kuartal IV 2026, BNI berkomitmen untuk terus konsisten memperkuat pendanaan berbasis transaksi, menyalurkan pembiayaan secara selektif, mengoptimalkan tata kelola risiko, serta mengakselerasi inovasi digital demi mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan.(Red/MB).