MRT Kurang Gaul? FPPJ Sentil Strategi Promosi yang Masih “Kaku”

Megapolitan45 Dilihat

JAKARYA, Markaberita.com – Kampanye perubahan perilaku masyarakat Jakarta untuk beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi umum, khususnya Moda Raya Terpadu (MRT), dinilai belum berjalan secara maksimal. Di tengah investasi besar pembangunan jaringan transportasi modern dan tingginya subsidi pemerintah, pola komunikasi publik dinilai masih perlu diperluas agar tidak hanya berorientasi pada promosi layanan, tetapi mampu membentuk budaya baru masyarakat dalam melakukan perjalanan.

​Ketua Umum Forum Pemuda Peduli Jakarta (FPPJ), Endriansah, dalam keterangannya pada Rabu (02/09/26), mengatakan bahwa tantangan terbesar MRT Jakarta bukan semata-mata membangun rel dan stasiun, melainkan mengubah kebiasaan masyarakat yang selama puluhan tahun bergantung pada sepeda motor dan mobil pribadi.

​Menurut dia, perubahan perilaku tidak dapat dihasilkan hanya melalui iklan, promosi tarif, konten media sosial, atau kampanye pada momentum tertentu. Dibutuhkan strategi komunikasi jangka panjang yang menyasar masyarakat sejak usia dini.

​”Jakarta sedang membangun transportasi publik modern, tetapi perubahan perilaku masyarakat untuk meninggalkan kendaraan pribadi belum terasa optimal. Kita tidak cukup hanya membangun MRT dan kemudian berharap masyarakat otomatis beralih. Budaya menggunakan transportasi umum harus dibentuk, diajarkan, dan ditanamkan sejak kecil,” kata Endriansah pada Rabu (02/09/26).

​Kritik tersebut mengemuka ketika pemerintah terus mendorong penggunaan transportasi publik sebagai salah satu solusi mengurangi kemacetan, polusi udara, konsumsi energi, serta pemborosan waktu akibat perjalanan. Namun, pembangunan infrastruktur tanpa diikuti kampanye perubahan perilaku yang masif dinilai berpotensi membuat pertumbuhan pengguna transportasi umum tidak secepat yang diharapkan.

Baca Juga  Festival Kreasi Inklusi Indonesia 2025: Depok Rayakan Kekuatan Tanpa Luka dengan Dukungan Penuh Forkopimda

​Endriansah menilai kampanye MRT selama ini perlu memasuki ruang kehidupan masyarakat yang lebih luas. MRT tidak seharusnya hanya dikenal oleh masyarakat ketika mereka melihat stasiun, memasuki kereta, atau menerima informasi promosi di media sosial.

​”MRT harus menjadi bagian dari imajinasi dan keseharian warga Jakarta. Anak-anak harus mengenal transportasi umum sebelum mereka memiliki keinginan untuk menggunakan kendaraan pribadi. Karena itu, pendidikan mengenai budaya naik transportasi umum harus dimulai sejak dini,” ujarnya.

​Salah satu program yang didorong FPPJ adalah pelaksanaan MRT Goes to School secara lebih masif dan berkelanjutan. Program tersebut, menurut Endriansah, tidak hanya menyasar pelajar tingkat sekolah menengah atau mahasiswa, tetapi juga perlu diperluas hingga sekolah dasar, taman kanak-kanak, bahkan kelompok pendidikan anak usia dini.

​Dalam program itu, edukasi tidak cukup dilakukan dalam bentuk ceramah. Sekolah dapat menjadi ruang simulasi untuk memperkenalkan cara merencanakan perjalanan, membaca peta transportasi, membeli tiket, melakukan transit, mengantre, memberi prioritas kepada kelompok rentan, hingga memahami pentingnya berjalan kaki dan menggunakan angkutan umum sebagai bagian dari mobilitas sehari-hari.

​”Bayangkan jika anak-anak sejak kindergarten sudah diajak mengenal MRT, naik kereta, mengetahui fungsi stasiun, belajar mengantre dan menghargai pengguna lain. Ketika mereka dewasa, naik transportasi umum bukan lagi sesuatu yang asing. Itu sudah menjadi kebiasaan,” katanya.

​Selain pendidikan sejak dini, FPPJ juga mengkritisi pola penyebaran identitas dan produk promosi MRT yang dinilai belum sepenuhnya menjangkau seluruh pengguna. Salah satu contohnya adalah maskot dan merchandise MRT.

Baca Juga  Jalan Terjal Menuju TPS: Curahan Hati Penyandang Disabilitas Depok Minta Akses Pemilu 2024 Diperbaiki

​Menurut Endriansah, maskot tidak boleh sekadar menjadi barang koleksi yang sulit ditemukan atau hanya tersedia di lokasi tertentu. Keberadaan merchandise dan identitas visual MRT justru dapat menjadi salah satu instrumen untuk membangun kedekatan emosional antara layanan transportasi publik dengan masyarakat.

​”Kalau MRT memiliki maskot dan merchandise, seharusnya masyarakat dapat menemukannya dengan mudah. Jangan hanya tersedia di tempat tertentu. Setiap stasiun idealnya memiliki ruang atau akses yang memadai untuk merchandise resmi MRT. Ini bukan sekadar soal menjual barang, tetapi membangun engagement dan rasa memiliki,” ujarnya.

​Ia menilai merchandise dapat menjadi medium kampanye yang relatif efektif, terutama bagi anak muda dan keluarga. Maskot, miniatur kereta, buku aktivitas anak, permainan edukatif, pakaian, hingga produk kolaborasi kreatif dapat menjadi bagian dari strategi memperkenalkan budaya transportasi umum di luar ruang stasiun.

​FPPJ juga mendorong MRT melakukan inovasi komunikasi publik dengan pendekatan yang lebih agresif dan berbasis komunitas. Kampanye, menurut Endriansah, harus menjangkau sekolah, kampus, permukiman, perkantoran, pusat perbelanjaan, rumah ibadah hingga komunitas warga.

​”Komunikasi publik harus berubah. Jangan hanya menunggu masyarakat datang ke MRT. MRT harus hadir mendatangi masyarakat. MRT Goes to School, MRT Goes to Campus, MRT Goes to Community, bahkan MRT Goes to Kindergarten harus menjadi gerakan masif,” katanya.

Baca Juga  Kado Hari Transportasi Nasional: Transjakarta Borong Penghargaan Global, BAJA Sebut Jakarta Telah "Naik Kelas"

​Menurut dia, kampanye tersebut perlu dirancang sebagai program jangka panjang dengan target perubahan perilaku yang terukur. Pemerintah dan pengelola MRT harus dapat mengukur apakah kampanye berhasil meningkatkan pemahaman masyarakat, frekuensi penggunaan transportasi umum, dan kesediaan warga meninggalkan kendaraan pribadi.

​”Yang kita butuhkan bukan hanya kampanye agar orang mengetahui MRT. Masyarakat sudah tahu MRT. Tantangan berikutnya adalah membuat mereka merasa transportasi umum adalah pilihan utama. Karena itu, indikator keberhasilan kampanye harus bergeser dari sekadar jumlah publikasi menjadi perubahan perilaku,” ujar Endriansah.

​Di tengah ambisi Jakarta membangun sistem transportasi publik yang terintegrasi, kritik tersebut menjadi pengingat bahwa pembangunan rel dan stasiun harus berjalan beriringan dengan pembangunan budaya. MRT, dalam pandangan FPPJ, tidak cukup diposisikan sebagai proyek transportasi, melainkan sebagai bagian dari proyek perubahan gaya hidup warga kota.

​Tanpa investasi serius dalam pendidikan dan komunikasi perubahan perilaku, masyarakat dikhawatirkan tetap memandang kendaraan pribadi sebagai simbol kenyamanan, sementara transportasi umum hanya menjadi alternatif ketika diperlukan. Karena itu, FPPJ menilai kampanye penggunaan MRT harus dimulai dari generasi paling muda.

​”Kalau kita ingin Jakarta lima, sepuluh, atau dua puluh tahun ke depan menjadi kota dengan budaya transportasi publik yang kuat, maka anak-anak hari ini harus mulai diajak naik transportasi umum. Perubahan budaya tidak bisa ditunggu. Harus dimulai sekarang,” pungkas Endriansah.