JAKARTA, Markaberita.com – Hasil survei terbaru dari Indonesia Development Monitoring (IDM) periode 28 Agustus–3 September 2026 resmi dirilis. Hasilnya? Layanan digital dan kecepatan proses Bea Cukai dapet vibe positif dari para pelaku usaha. Tapi, di balik pujian itu, urusan tarif dan aturan belanja online internasional masih bikin banyak pihak mengelus dada.
Melibatkan 1.005 responden (dari total 8.087 pelaku usaha ekspor-impor), survei ini menunjukkan performa DJBC yang makin upgrade dengan 89,2% responden setuju prosesnya mudah dan cepat, serta 79,2% puas banget sama sistem digital yang dipakai. Selain itu, 80,8% puas sama kompetensi petugas yang sat-set menjawab pertanyaan, dan 88,6% menilai waktu penyelesaian ekspor-impor sangat tepat waktu.
Meskipun layanan digitalnya dipuji, masih ada dua PR besar yang jadi sorotan utama. Sebanyak 43,7% responden nge-judge tarif bea masuk dan cukai masih terlalu overprice, sementara 50,7% lainnya masih memaklumi karena demi kas negara. Selain itu, 52,8% responden menilai regulasi pembebasan bea untuk barang bawaan dan kiriman belanja e-commerce internasional kurang fleksibel mengikuti hype perdagangan digital saat ini.
Direktur Eksekutif IDM, Dedi Rohman dalam keterangan tertulis yang di terima redaksi pada Sabtu (12/09/26), mengingatkan kalau pencapaian ini nggak boleh bikin Bea Cukai puas diri. Tantangan integritas dan pengawasan pungutan liar harus terus ditekan agar pelayanan publik tetap bersih. Senada dengan itu, Akademisi Universitas Pasundan, Dr. Maruly H. Utama, menjelaskan kalau Bea Cukai bukan cuma soal narik uang pajak negara, melainkan punya fungsi krusial mulai dari melindungi industri lokal dari gempuran produk impor, mengamankan pasokan bahan baku domestik, hingga mengontrol konsumsi barang-barang tertentu.
Bea Cukai punya peran ganda yang krusial—antara mengamankan ekonomi nasional, melindungi konsumen, dan tetap suportif terhadap dinamika bisnis modern.
Menurut kamu sendiri, aturan impor barang belanja online sekarang sudah cukup ramah belum buat generasi yang hobi belanja lintas negara?. (Red).







