KUR BRI Sering Tersandung Kasus Korupsi, CBA Sebut Visi Inklusi Keuangan Cuma “Gombal”?

Hukum, Nasional108 Dilihat

​Jakarta. Markaberita.com — Isu korupsi dalam penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) di sejumlah unit PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) kembali bikin sorotan publik panas. Center for Budget Analysis (CBA) blak-blakan menilai kalau berbagai kasus hukum ini jadi bukti nyata adanya masalah serius dalam sistem pengawasan internal bank pelat merah tersebut.

​Direktur Eksekutif CBA, Uchok Sky Khadafi, menyentil keras fenomena ini. Menurutnya, ada jarak yang jauh banget antara visi besar BRI di atas kertas dengan realitas pahit di lapangan.

​”Visinya bagus, tetapi sayang banyak pegawai BRI yang justru dijadikan tersangka oleh aparat penegak hukum. Bagaimana mau jadi champion financial inclusion kalau penyaluran kreditnya masih konsisten nyangkut masalah hukum?” ujar Uchok.selasa (18/8).

Baca Juga  Ketum PPDI Hadiri Peringatan HKSN dan Hari Disabilitas Internasional di Bali

​Kritik ini bukan tanpa alasan. Baru-baru ini, Kejari Samarinda resmi menahan delapan tersangka (dua pegawai internal dan enam pihak eksternal/calo) akibat rekayasa data KUR di Unit Temindung dan Sei Pinang Dalam (2023–2025). Kasus serupa juga meledak di Majene, di mana kerugian negara tembus sekitar Rp5,26 miliar, serta di Bandung dengan nilai kredit bermasalah mencapai Rp3,6 miliar.

​CBA menilai modus operandi seperti rekayasa data debitur dan cawe-cawe calo yang terjadi di berbagai daerah tidak bisa lagi dianggap sekadar “kenakalan individu”. Manajemen BRI diminta untuk melakukan evaluasi total pada sistem kontrol dan tata kelola internalnya agar tidak terus-menerus kecolongan.

​Di sisi lain, CBA juga menyoroti kontras antara kondisi finansial dan kebijakan bonus petinggi BRI di tengah penurunan laba bersih pada 2025 yang berada di kisaran Rp56,7 triliun (turun sekitar 5,5–5,8 persen dibanding tahun sebelumnya). Walaupun turun, jajaran direksi tetap mengantongi tantiem sebesar Rp181 miliar dan dewan komisaris sekitar Rp12,5 miliar.

Baca Juga  GP Ansor Jakarta Timur Panaskan Mesin Organisasi, Gelar Pra Musker III: Konsolidasi Total Menuju Kaderisasi Militan dan Organisasi Berdampak!

​Kebijakan bagi-bagi bonus besar di tengah deretan kasus hukum dan penurunan laba ini pun dipertanyakan urgensinya jika tidak dibarengi perbaikan performa pengawasan.

​”BRI harus membuktikan bahwa slogan inklusi keuangan bukan sekadar gimmick atau jargon semata. Bank yang sukses itu bukan cuma dilihat dari seberapa besar uang yang disalurkan, tapi juga dari seberapa ketat mereka menjaga kualitas tata kelola dan mencegah kebocoran dana,” pungkas Uchok.(red).