Markaberita.com – Amerika Serikat saat ini berada di persimpangan jalan yang menentukan nasib peradabannya. Mengambil perspektif dari pemikiran Jared Diamond dalam karyanya _Collapse,_ terlihat jelas bahwa negara adidaya ini sedang mengalami penurunan struktural yang dipicu oleh berbagai keputusan kebijakan yang merusak fondasi nasional. Pemikiran Diamond sebenarnya sudah usang. Joseph Stiglitz dan Stephen Waltz telah mendahului kajian dan analisis Diamond.
Karenanya, untuk memahami mengapa sebuah bangsa mampu bertahan atau justru gagal di tengah krisis, kita perlu mengawinkan perspektif biofisik Diamond dengan kerangka berpikir Ichsanuddin Noorsy mengenai lima modal bangsa: modal spiritual, modal sosial, modal politik, modal ekonomi, dan modal kultural.
Dua Paradigma: Material-Ekologis vs. Nilai-Institusional
Jared Diamond berargumen bahwa keruntuhan peradaban sering disebabkan oleh faktor biofisik, seperti kerusakan lingkungan dan kegagalan beradaptasi dengan ekosistem. Stiglitz dan Waltz mengkaji keruntuhan itu disebabkan dari dalam secara struktural. Sebaliknya, Ichsanuddin Noorsy menawarkan paradigma sosiosentris, di mana kehancuran sebuah negara dimulai dari degradasi moral internal. Jika Diamond fokus pada batasan fisik-material, Noorsy fokus pada tata kelola manusia dan berhilir pada tata kelola budaya. Dalam anatomi Noorsy, modal spiritual adalah fondasi utama integritas bangsa. Jika fondasi ini rusak, ia memicu korupsi sistemik yang menghancurkan modal sosial (kepercayaan publik), membuat modal politik menjadi transaksional, dan akhirnya menggerogoti modal ekonomi. Kerusakan empat modal itu membuat peradaban menjadi penuh ketidak pastian. Fenomena ini menunjukkan gelapnya kehidupan. Empat modal yang dimiliki akhirnya berdaya karena berpijak pada kekuatan. Siklus budaya yang dikelola oleh kekuatan ini sama seperti kehidupan manusia yang melulu didasarkan atas materi semata. Di dalam lorong kehidupan itulah manusia melakoni kehidupan tanpa cahaya dan kejelasan tujuan kecuali kekuasaan berbasis kekuatan. Ini wujud kemunduran peradaban. Kajian ini disampaikan Noorsy pada awal Juli 2024 dengan tema _Gagalnya Barat Seabad_.
Amerika Serikat dalam Diagnosis Dialektis
Jika kita membedah kondisi Amerika Serikat saat ini, teori Noorsy lebih akurat dalam mendiagnosis penyebab internalnya. Kejatuhan negara modern saat ini jarang terjadi karena kehabisan sumber daya alam secara instan, melainkan karena krisis moral dan tata kelola akibat keserakahan dan hilangnya etika bernegara.
Pemborosan anggaran militer AS adalah bukti nyata hilangnya modal spiritual dan modal politik yang sehat. Pengeluaran triliunan dolar untuk perang proksi di tengah pengabaian kebutuhan domestik adalah cerminan kebijakan yang telah kehilangan tanggung jawab terhadap kepentingan umum. Selain itu, sistem kesehatan yang terjebak dalam kapitalisme kroni menunjukkan bagaimana kepentingan ekonomi telah mengesampingkan keadilan sosial, yang pada akhirnya menggerus kepercayaan masyarakat terhadap institusi negara. Dalam cara pandang Noorsy, tergerusnya kepercayaan masyarakat menjalar ke lingkup makin miskinnya komitmen hidup bersama. Kemiskinan ini bukan sekadar menunjukkan ketimpangan sosial dan ekonomi, tapi juga menandai sirnanya nilai-nilai yang menenun kebersamaan dalam kemanusiaan. Itulah wujud hadirnya krisis kepemimpinan di seluruh struktur lapisan masyarakat.
Teori Noorsy Lebih Tajam untuk Konteks Modern
Meskipun teori Jared Diamond memberikan peringatan penting tentang batasan fisik-material, gagasan Ichsanuddin Noorsy jauh lebih tajam dalam mendiagnosis dinamika kontemporer. Dalam buku _Collapse,_ Diamond menyoroti bahwa “Respons Masyarakat terhadap Masalah Lingkungan” adalah faktor penentu keruntuhan. Di sinilah teori Noorsy melengkapi: sebuah bangsa yang kehilangan modal spiritual dan sosialnya akan menjadi korup dan egois, sehingga tidak akan mampu mengambil keputusan politik yang benar untuk menyelamatkan ekosistem atau mengatasi krisis fisik yang diperingatkan oleh Diamond.
Sebagai penutup, dunia mencatat dengan getir bagaimana kebijakan para pemimpin Amerika dalam beberapa dekade terakhir, dari era Bush hingga kepemimpinan saat ini, secara tidak langsung justru mempercepat kebangkitan pesaing global. Strategi Amerika melalui financia-digital and military industrial complex tetap akan berhadapan dengan China, Rusia, Iran, Korea Utara, Brazil, Siria, Afrika Selatan, dan negara-negara lain yang mulai menghindar menggunakan dolar AS dan sistem pembayaran SWIFT Code. Keputusan pertemuan tahunan NATO pada 7-8 Juli di Ankara, Turki memberi pesan, Amerika sedang mempertahankan posisi hegemoninya. Upaya ini merupakan bukti bahwa Washington sadar tentang teregerusnya posisi hegemoni. Ini perubahan global menjadi pola multilateral dan bilateral. Noorsy menggambarkan, itulah model kepemimpinan tim di panggung global. Soalnya, siapa anggota tim itu? Trump menjawab dengan Board of Peace. Sayangnya, jawaban di balik layar pentas global ditolak dan dilecehka. Di sini tesa Noorsy terbukti.(red).





