JAKARTA, Markaberita.com – Musyawarah Besar (Mubes) The Jakmania yang akan datang semestinya menjadi ajang pesta demokrasi yang inklusif. Namun, Endriansyah atau yang akrab disapa Bang Rian, mencium adanya kebuntuan akibat aturan administratif yang terlalu kaku. Ia pun mendesak para pemilik suara untuk mengevaluasi kembali syarat pencalonan Ketua Umum yang dinilai justru membatasi ruang partisipasi kader potensial.
Bang Rian menyoroti tiga poin utama yang menurutnya telah mencederai semangat keterbukaan di internal The Jakmania: kendala teknis kepemilikan Kartu Tanda Anggota (KTA), eksklusivitas syarat rekomendasi, serta pembatasan usia yang dianggap menghambat regenerasi pemimpin muda.
”Saya menghormati AD/ART, tapi organisasi suporter sebesar The Jakmania tidak boleh mati oleh birokrasi yang kaku. Administrasi adalah pendukung, bukan dinding pembatas bagi anggota yang memiliki loyalitas nyata kepada Persija,” tegas Bang Rian dalam keterangan resminya, Jumat (3/7/2026).
Bang Rian membeberkan bahwa dirinya sendiri mengalami hambatan teknis saat mengurus KTA beberapa waktu lalu. Menurutnya, jika kendala administratif seperti ini terus dipertahankan sebagai syarat mutlak, maka banyak potensi putra daerah terbaik Jakmania yang akan “gugur” sebelum bertanding.
Ia juga menyoroti sistem rekomendasi yang cenderung tertutup. Baginya, sistem tersebut rentan melanggengkan oligarki organisasi dan mematikan ide-ide segar. Selain itu, batasan usia yang diterapkan dinilai tidak relevan dengan kebutuhan zaman.
”The Jakmania perlu perpaduan antara pengalaman senior dan inovasi anak muda. Jangan sampai batasan usia yang dibuat secara sepihak justru memutus rantai regenerasi kepemimpinan yang progresif,” imbuhnya.
Visi “Jakmania untuk Semua”
Alih-alih sekadar bersaing di Mubes, Bang Rian membawa misi transformasi. Ia menawarkan gagasan digitalisasi keanggotaan guna menyederhanakan birokrasi, serta menciptakan stadion sebagai ruang yang benar-benar merangkul semua lapisan anggota, bukan sekadar tempat berkumpul formalitas.
”The Jakmania terlalu besar untuk dibatasi oleh berkas. Mari kita buat Mubes ini menjadi perayaan demokrasi yang sehat. Jangan sampai karena aturan yang kaku, kita melupakan esensi utama, yaitu persaudaraan sesama Jakmania,” pungkasnya.
Bang Rian berharap, para pemilik suara di tingkat Korwil hingga basis dapat lebih bijak melihat urgensi perubahan ini. Baginya, Mubes adalah ruang untuk melahirkan pemimpin yang mampu menyatukan, bukan justru mengotak-ngotakkan anggota berdasarkan syarat-syarat yang elitis.
”Persija adalah harga mati. Mari kita jaga Mubes ini agar tetap sportif, terbuka, dan menggembirakan. Satu Hati, Satu Jakmania,” tutupnya.(red).






