Editorial: World Caring Day: Antara Sejarah Empati dan Realitas yang Membusuk di Kota Depok

Nasional, Opini176 Dilihat

Markaberita.com, Editorial – ​Hari ini, 7 Juni 2026, dunia merayakan World Caring Day atau Hari Peduli Sedunia. Secara historis, peringatan ini lahir dari sebuah kisah personal yang menyentuh: kelahiran prematur bayi Brighid pada 7 Juni 1997 dan lahirnya platform CaringBridge sebagai jembatan dukungan bagi mereka yang berjuang di masa-masa tersulit. Sejarahnya sederhana, namun substansinya sangat mendalam—yakni pengakuan bahwa tidak ada manusia yang mampu bertahan hidup sendirian tanpa kepedulian sesamanya.

​Namun, mari kita bersikap kritis. Di tengah upaya dunia mengagungkan nilai kepedulian, apakah esensi tersebut benar-benar meresap ke dalam nadi kehidupan kita, atau justru telah tereduksi menjadi sekadar jargon digital yang minim aksi?

​Kritik tajam terhadap realitas hari ini terpampang nyata tepat di depan mata kita. Di saat dunia merayakan semangat berbagi, warga di kawasan flyover Tanah Baru, Kecamatan Beji, Kota Depok, justru digemparkan oleh penemuan sesosok jasad bayi yang terbungkus plastik pada Jumat (5/6/2026). Kondisinya sangat mengenaskan, diduga kuat terlindas kendaraan akibat diletakkan di jalur yang tidak manusiawi. Bungkusan plastik itu, yang awalnya dianggap sampah oleh warga, ternyata berisi nyawa yang terbuang sia-sia. Tragedi di Tanah Baru ini bukan sekadar kriminalitas biasa; ini adalah alarm kegagalan kolektif. Bagaimana mungkin, di kota yang sering membanggakan nilai-nilai religius dan sosial, sebuah nyawa dibuang begitu saja hingga harus berakhir di aspal dingin jalan raya?

Baca Juga  Analisis Hukum: Mengapa Gugatan Ratusan Miliar PT CMNP ke MNC Group Terancam Kandas di Meja Hijau?

​Sejarah World Caring Day mengajarkan kita tentang pentingnya membangun sistem pendukung. Namun, di Depok, sistem pendukung bagi kelompok rentan—khususnya ibu dan anak—tampak lumpuh. Pemerintah kota sering kali terjebak pada narasi pembangunan fisik yang megah, sementara jaring pengaman sosial bagi mereka yang berada di titik terendah justru tercerai-berai. Kepedulian yang kita rayakan hari ini menjadi sangat ironis ketika kita gagal menjamin keselamatan hidup manusia sejak dari rahimnya.

​Kepedulian tidak boleh lagi berhenti pada narasi indah tentang membantu sesama. Kepedulian yang autentik hari ini harus dimanifestasikan melalui ketegasan penegakan hukum, di mana aparat harus mengusut tuntas siapa yang bertanggung jawab atas penemuan jasad bayi di Tanah Baru agar keadilan tidak tumpul. Selain itu, Pemerintah Kota Depok wajib hadir dengan program pencegahan yang konkret, bukan sekadar responsif saat terjadi bencana kemanusiaan. Terakhir, kita harus memperkuat kontrol sosial masyarakat; kita harus berhenti menjadi masyarakat yang apatis. Kepedulian berarti berani mengawasi, berani bersuara, dan berani menolak segala bentuk pengabaian terhadap hak hidup warga.

Baca Juga  PS Law Firm Ungkap Pola TPPO, Desak Aparat Usut Tuntas PT Buana Rizki dan Dokumen PMI

​Dunia mungkin bisa berjalan dengan kemajuan teknologi komunikasi yang menghubungkan jarak ribuan mil, namun jika kita gagal menjaga nyawa di lingkungan terdekat kita sendiri, maka peringatan World Caring Day ini hanyalah tontonan kosong yang munafik. Mari jadikan momentum ini untuk berhenti sejenak, menundukkan kepala atas tragedi di Tanah Baru, dan berjanji bahwa mulai hari ini, kepedulian bukan lagi sekadar ucapan, melainkan aksi untuk melindungi setiap nyawa yang ada di kota ini.

​Selamat Hari Peduli Sedunia, 7 Juni 2026. Semoga kita tidak lagi kehilangan nurani di tengah kerasnya aspal kehidupan.(Red).

Rekomendasi