Editorial: Jakarta Menuju Kota Global, Melayani Air Bersih, Mengabaikan Nyawa Pekerja

Megapolitan, Opini205 Dilihat

MARKABERITA.COM – ​Jakarta tengah memacu diri. Di bawah ambisi besar untuk bertransformasi menjadi kota global, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus menggenjot berbagai indikator kinerja. Salah satu pilar yang kerap dibanggakan adalah perluasan cakupan layanan air bersih yang diklaim telah mencapai 82 persen. Angka ini sering dijadikan narasi keberhasilan—sebuah “modal besar” untuk meningkatkan kualitas hidup warga sekaligus mendongkrak daya saing Jakarta di level dunia.

​Namun, di balik statistik yang mengkilap tersebut, tersimpan realitas pahit yang memalukan: nyawa manusia masih dihargai sangat murah. Tragedi tewasnya tiga pekerja di gorong-gorong proyek PAM Jaya di Cipayung, Kamis (9/7/2026), menjadi bukti nyata bahwa mimpi Jakarta menjadi kota global hanyalah bangunan tanpa fondasi yang kokoh jika aspek kemanusiaan terus diabaikan.

Baca Juga  FKDM Bukan Alat Kekuasaan: Warga Jakarta Gugat Rekrutmen 2026 yang Cacat Hukum dan Intervensi Stafsus

​Standar Ganda Keselamatan

​Bagaimana mungkin Jakarta bermimpi masuk dalam jajaran 50 besar kota global jika standar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) pada proyek infrastruktur dasarnya masih berada di level “tradisional” yang membahayakan nyawa?

​Capaian akses air bersih 82 persen seharusnya menjadi cerminan kesejahteraan, bukan justru menjadi nisan bagi para pekerjanya. Penggunaan narasi “modal besar” terasa sangat tidak etis ketika proses pencapaiannya dilakukan dengan mengabaikan prosedur safety di ruang terbatas (confined space). Pekerja yang turun ke lubang tanpa perlindungan diri yang memadai dan tanpa pengawasan prosedur yang ketat menunjukkan bahwa kecepatan pengerjaan proyek—demi mengejar target administratif—lebih diprioritaskan daripada keselamatan nyawa manusia.

Baca Juga  Clear! Pihak Transjakarta Pastikan Penumpang di PGC yang Sempat Dikira Meninggal Ternyata Aman

​Manajemen yang Terjebak Budaya Lalai

​Kota global tidak hanya diukur dari infrastruktur fisik yang megah, tetapi juga dari martabat dan perlindungan yang diberikan kepada tenaga kerjanya. Insiden di Cipayung membongkar fakta bahwa manajemen PAM Jaya beserta para mitranya masih terjebak dalam budaya kerja yang abai. Apakah target 82 persen tersebut harus dibayar dengan hilangnya nyawa pekerja yang hak-hak keselamatannya diabaikan?

​Jika pemerintah serius ingin menjadikan Jakarta sebagai global city, maka syarat mutlaknya adalah kepatuhan penuh terhadap standar global, termasuk dalam tata kelola K3. Tidak ada ruang bagi kontraktor yang beroperasi tanpa standar keselamatan dalam proyek strategis kota.

​Tuntutan Evaluasi Menyeluruh

Baca Juga  Realita Pahit Warga Disabilitas Jakarta: Miskin Ekstrem Tapi Dicatat "Sultan" Gara-Gara Data Desil Zonk!

​Kami mendesak Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan manajemen PAM Jaya untuk berhenti berlindung di balik data statistik. Evaluasi menyeluruh terhadap vendor yang terlibat dalam proyek air bersih harus dilakukan secara transparan dan berani. Jika mitra kerja tidak mampu memenuhi standar keselamatan yang setara dengan kota global, maka mereka tidak layak menjadi bagian dari pembangunan Jakarta.

​Jangan biarkan Jakarta menjadi kota global yang dibangun di atas penderitaan dan kelalaian. Infrastruktur kelas dunia tidak ada gunanya jika tata kelola manusianya masih kelas bawah. Ingat, sebuah kota yang gagal menjamin keselamatan pekerja di bawah tanahnya, tidak akan pernah bisa tegak berdiri dengan terhormat di permukaan.(red).