HUT ke-499 Jakarta: FPPJ Soroti Banyak ‘PR’ Kepemudaan yang Belum Tuntas di Tengah Transisi Menuju Kota Global

Megapolitan95 Dilihat

​JAKARTA, Markaberita.com – Memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Jakarta ke-499 yang jatuh pada hari ini, Forum Pemuda Peduli Jakarta (FPPJ) memberikan catatan kritis dan refleksi mendalam mengenai kondisi ibu kota. Di usia yang hampir menyentuh setengah milenium ini, FPPJ menilai Jakarta masih menyisakan banyak Pekerjaan Rumah (PR) besar, khususnya yang berdampak langsung pada masa depan generasi muda.

​Ketua Umum FPPJ, Endriansyah dalam keterangannya, senin (22/06/26) menegaskan bahwa momentum HUT ke-499 ini tidak boleh sekadar menjadi perayaan seremonial dan pesta pora tahunan yang semu. Di tengah transisi Jakarta yang kini melepas status Ibu Kota Negara (IKN) dan bersiap menjadi pusat ekonomi serta Kota Global, nasib pemudanya justru dinilai masih terpinggirkan.

​”Kami mengapresiasi segala kemajuan infrastruktur yang ada di Jakarta saat ini. Namun, di balik megahnya gedung pencakar langit dan gemerlapnya kota global, ada jeritan pemuda Jakarta yang masih kesulitan mencari kerja, mahalnya biaya hidup, dan minimnya akses keterlibatan dalam pembangunan. Usia 499 tahun ini harus jadi momen tamparan bagi pemerintah daerah untuk melihat realitas di akar rumput,” ujar Endriansyah dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Senin (22/6).

Baca Juga  Dukungan Ormas Barabaja Kabupaten Bekasi terhadap Pembangunan Karakter Bangsa melalui Budaya Merah Putih

​Tiga Catatan Kritis Kepemudaan FPPJ
​Dalam narasi kritisnya, Endriansyah membeberkan sejumlah rapor merah dan tantangan krusial yang dihadapi pemuda Jakarta saat ini:

​Tingginya Angka Pengangguran Usia Muda (Youth Unemployment).

FPPJ menyoroti bahwa Jakarta sebagai pusat ekonomi masih belum mampu menyerap tenaga kerja lokal dari kalangan pemuda secara optimal. Lapangan kerja formal semakin kompetitif dan sulit ditembus oleh lulusan baru (fresh graduate) asal Jakarta akibat ketidaksesuaian (mismatch) antara kurikulum pendidikan/pelatihan dengan kebutuhan pasar industri modern.

​Krisis Akses Hunian Layak bagi Pemuda
Menembus usia ke-499, Jakarta menjadi kota yang semakin tidak ramah kantong bagi generasi muda. Harga properti dan sewa hunian yang meroket membuat mayoritas pemuda produktif Jakarta terancam tidak bisa memiliki rumah di tanah kelahiran mereka sendiri dan terdepak ke wilayah penyangga (Bodetabek).

Baca Juga  Gubernur Sudah Take Action, Giliran Pemkot Jakpus Buktikan Kepedulian di Lapangan!

​Ruang Kreativitas dan Kesehatan Mental yang Belum Merata
Meskipun ruang terbuka hijau bertambah, fasilitas yang benar-benar memfasilitasi pengembangan ekonomi kreatif, digital, dan ruang aman untuk kesehatan mental (mental health) pemuda di tingkat kecamatan dan kelurahan masih sangat minim dan tidak merata. Pembangunan masih berpusat di jalur-jalur protokol saja.
​Mendesak Pemprov DKI Lepas dari Zona Nyaman

​FPPJ mendesak Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk segera merumuskan Grand Design Kepemudaan yang adaptif dengan status Jakarta sebagai Kota Global.

Endriansyah meminta agar anggaran daerah (APBD) yang besar benar-benar dialokasikan untuk program pemberdayaan pemuda yang konkret, bukan sekadar pelatihan formalitas tanpa penyaluran kerja yang jelas.

Baca Juga  Dorong Akuntabilitas Aset Daerah, CBA Berikan Catatan Atas Tren Dividen PT Delta Djakarta

​”Jika Jakarta ingin sukses menjadi Kota Global pasca-IKN, pondasinya adalah pemuda. Jangan sampai pemuda Jakarta hanya menjadi penonton di rumahnya sendiri karena kalah bersaing dengan talenta global. Pemprov DKI harus melahirkan kebijakan yang progresif dan berani berpihak pada pemuda lokal,” tegas Endriansyah.

​Menutup pernyataannya, Ketua Umum FPPJ ini mengajak seluruh elemen pemuda di Jakarta untuk tetap kritis, mengawal kebijakan pemerintah, dan bersatu demi memastikan Jakarta bertransformasi menjadi kota yang humanis, inklusif, dan ramah bagi masa depan generasi mudanya.

​”Selamat Hari Ulang Tahun ke-499 Jakarta. Mari kita rawat kota ini dengan nalar kritis dan kerja nyata, bukan dengan tepuk tangan kepalsuan,” pungkasnya.(Red).