Pramdul: Satu Tahun di Atas Kertas Mewah ​

Megapolitan, Opini247 Dilihat

​
MARKABERITA.ID | Editorial 11 Februari 2026 – ​Jakarta akan melewati 365 hari di bawah kendali duet Pramono Anung dan Rano Karno. Pekan ini, Balai Kota dibanjiri laporan “kinerja mengkilap” yang mengklaim stabilitas ekonomi dan transformasi transportasi. Namun, bagi warga yang setiap hari bergelut dengan debu jalanan dan ancaman genangan, angka-angka tersebut terasa seperti narasi dari kota yang berbeda. Markaberita.id membedah tiga anomali besar antara klaim formal vs realita lapangan.

​Ilusi Angka di Balik Kemacetan

​Pemerintah membanggakan capaian historis dengan total 461 juta penumpang transportasi umum sepanjang tahun 2025 (Sumber: Data BUMD Transportasi DKI, Jan 2026). Angka ini diklaim sebagai bukti keberhasilan integrasi yang telah menjangkau 90% wilayah Jakarta. Namun, di balik angka fantastis itu, Jakarta masih mengidap penyakit ketimpangan antarmoda yang akut.

​Realita di lapangan menunjukkan bahwa “integrasi” seringkali hanya indah di jalur protokol. Data pergerakan warga awal 2026 mencatat bahwa waktu tunggu (headway) di wilayah penyangga seperti Jagakarsa, Cilincing, hingga perbatasan Jakarta Barat masih sering menembus 25–30 menit pada jam sibuk. Bagi warga pinggiran, transportasi publik bukan soal pilihan gaya hidup, melainkan perjuangan durasi yang tidak pernah sinkron dengan jadwal di aplikasi resmi.

Baca Juga  Jika Hutan Punya Suara, Barangkali Ia Akan Meminta Raja Juli Mundur

​Ekonomi Makro yang “Bocor” di Akar Rumput

​Laporan satu tahun ini juga menonjolkan pertumbuhan ekonomi Jakarta sebesar 5,21% (Sumber: BPS DKI Jakarta, Feb 2026), sebuah angka yang melampaui rata-rata nasional. Pemerintah pun memamerkan nilai investasi yang menembus Rp270 triliun sebagai indikator kepercayaan pasar.

​Namun, statistik makro ini mengalami disonansi tajam saat kita menilik indeks daya beli. Inflasi pangan di Jakarta pada awal 2026 menunjukkan tren yang mencekik bagi kelas menengah bawah. Pertumbuhan ekonomi yang dibanggakan tampak lebih banyak berputar di sektor jasa dan keuangan yang eksklusif, sementara penyerapan tenaga kerja melalui Job Fair seremonial pemerintah belum mampu mengimbangi angka pengangguran di sektor informal yang tetap tinggi. Ekonomi Jakarta tumbuh di atas kertas, namun dompet warga justru semakin mengempis.

Baca Juga  Ngeri Banget! Mayat Tanpa Kaki Dalam Karung di Depok Sempat Dikira Sampah dan Nyaris Dibakar Warga

​Mitigasi Banjir: Antara Infografis dan Evakuasi

​Sektor yang paling mengundang perdebatan adalah penanggulangan banjir. Pemprov mengklaim telah menekan titik banjir hingga 15% melalui normalisasi sungai dan penguatan pompa. Dokumen resmi menyebutkan bahwa durasi genangan kini “jauh lebih cepat surut” dibandingkan periode sebelumnya.

​Pembuktian pahit terjadi pada Januari 2026 kemarin. Data BPBD mencatat setidaknya 219 kejadian banjir sepanjang tahun lalu yang polanya masih berulang hingga hari ini. Di wilayah seperti Cipinang Melayu dan bantaran Kali Krukut, warga masih harus menghadapi ketinggian air hingga 95 cm (Sumber: Laporan Harian BPBD DKI). Publik pun bertanya-tanya: apakah anggaran triliunan rupiah benar-benar dialokasikan untuk solusi struktural, atau habis terserap untuk pemeliharaan rutin yang bersifat kosmetik demi konten media sosial?

Baca Juga  Pansel FKDM Jakarta Kredibel, FPPJ: Jangan Jadi "Kompor Meleduk"!

​Menanti Kepemimpinan yang Membumi

​Satu tahun pertama Pramono-Rano adalah kemenangan dalam hal branding dan visualisasi data. Namun, Jakarta tidak bisa dikelola hanya dengan presentasi yang apik. Jika pemerintah terus berlindung di balik angka statistik tanpa mau mengakui kegagalan di lapangan, maka Jakarta hanya akan menjadi “Kota Pameran”—elok dipandang dari layar ponsel, namun rapuh saat dipijak di kehidupan nyata.

​Satu tahun sudah cukup bagi warga untuk sekadar “menunggu”. Sekarang saatnya pemerintah berhenti mewarnai kertas dan mulai bekerja di atas tanah yang basah.(Red).