Merawat Kesaktian Pancasila di Tengah Deru Tantangan Kontemporer

Nasional1112 Dilihat

​Markaberita.id | Editorial 1 Oktober 2025 – ​Hari ini, 1 Oktober, bangsa Indonesia kembali memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Momen ini bukan sekadar rutinitas seremonial untuk mengenang tragedi kelam Gerakan 30 September 1965, namun adalah penegasan kembali bahwa Pancasila—sebagai dasar negara, ideologi, dan falsafah hidup bangsa—telah teruji dan terbukti sakti. Kesaktian itu terletak pada kemampuannya menyatukan keragaman yang ekstrem di bawah lima sila yang kokoh.

​Namun, merayakan kesaktian di era digital dan globalisasi ini berarti menghadapi tantangan yang jauh lebih halus dan kompleks ketimbang ancaman fisik di masa lalu.

​Ancaman Ideologis Baru: Polarisasi dan Intoleransi

​Jika dahulu Pancasila menghadapi ancaman dari ideologi ekstrem kiri dan kanan yang terorganisir, kini tantangannya datang dari polarisasi sosial yang tajam, didorong oleh arus informasi yang tak terkendali. Ruang-ruang digital menjadi medan tempur bagi ujaran kebencian, hoaks, dan ekstremisme yang mengancam persatuan.

Baca Juga  Transformasi Digital Markaberita: Resmi Migrasi ke Domain .Com untuk Jangkauan Global

​Sila Persatuan Indonesia dan Kemanusiaan yang Adil dan Beradab kini diuji oleh fenomena intoleransi yang menggerogoti kerukunan. Intoleransi dalam beragama, berpolitik, bahkan dalam perdebatan sehari-hari, menunjukkan bahwa nilai-nilai musyawarah dan penghargaan terhadap perbedaan mulai luntur. Kita harus menyadari, kesaktian Pancasila tidak akan bertahan tanpa kesadaran kolektif untuk mengamalkan nilai-nilai tersebut, bukan sekadar menghafalnya.

​Membumikan Sila Kelima: Keadilan di Tengah Jurang Ekonomi

​Tantangan terbesar yang membutuhkan perhatian serius pemerintah dan seluruh elemen bangsa adalah aktualisasi Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Kesaktian Pancasila akan terasa hampa jika jurang ketimpangan ekonomi dan sosial semakin melebar.

​Keadilan bukan hanya berarti kesetaraan di mata hukum, tetapi juga kesempatan yang setara dalam mengakses pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan. Ketika sekelompok kecil menikmati kekayaan yang luar biasa sementara mayoritas masih berjuang, maka spirit Pancasila terancam kehilangan relevansinya di mata rakyat kecil.

Baca Juga  CBA Tuding KPK 'Pengecut' Jika Tak Berani Seret Dirjen Bea Cukai ke Meja Pemeriksaan

​Pemerintah dan lembaga negara harus memastikan bahwa setiap kebijakan, mulai dari anggaran hingga pembangunan infrastruktur, benar-benar berorientasi pada pemerataan dan penghapusan kemiskinan, sebagaimana diamanatkan oleh sila kelima.

​Refleksi Kolektif: Tugas Kita Merawat Kesaktian

​Hari Kesaktian Pancasila harus menjadi momentum refleksi kolektif. Tugas merawat kesaktian ideologi ini bukan lagi hanya milik militer atau pemerintah, tetapi tanggung jawab setiap warga negara, mulai dari lingkungan keluarga hingga ruang publik digital.

​Pancasila adalah alat konsensus kita yang paling berharga. Ia bukan ideologi yang memaksa keseragaman, melainkan wadah yang merangkul keberagaman.

​Oleh karena itu, di Hari Kesaktian Pancasila ini, mari kita berkomitmen untuk:

  • ​Menjunjung tinggi toleransi dan menolak segala bentuk ekstremisme dan ujaran kebencian.
  • ​Mewujudkan keadilan sosial melalui tindakan nyata, mulai dari partisipasi publik yang konstruktif hingga pengawasan terhadap kebijakan negara.
  • ​Mengembalikan musyawarah sebagai cara berdemokrasi, mengedepankan akal sehat di atas emosi dan kepentingan kelompok sempit.
Baca Juga  Sinyal Perlawanan Menguat, Ribuan Mahasiswa dan Elemen Masyarakat Turun ke Jalan di 5 Titik Jakarta

​Hanya dengan mengamalkan lima sila tersebut dalam setiap aspek kehidupan, kita dapat memastikan bahwa Pancasila akan terus sakti, relevan, dan menjadi suluh penerang bagi masa depan bangsa Indonesia. Kesaktian Pancasila adalah kesaktian kita semua.(Red).