Markaberita.id | Jakarta 3 September 2025– Lembaga Mahasiswa dan Pemuda Lawan Korupsi (LPMLK) kembali menyuarakan kekhawatiran mendalam terhadap situasi PT TransJakarta. LPMLK menilai, alih-alih menjadi tulang punggung transportasi publik, operasional perusahaan ini justru terhambat oleh krisis kepemimpinan yang minim empati dan komitmen.
Dalam rilis yang dikeluarkan pada Rabu (3/9), LPMLK secara tajam menyoroti kinerja Direktur Utama TransJakarta, Welfizon Yuza. Menurut LPMLK, Welfizon dinilai tidak sejalan dengan visi Gubernur. Dengan bahasa kiasan, LPMLK menyebutnya seolah “menikam” upaya Gubernur dari belakang, membuat jalan perbaikan transportasi publik menjadi terjal.
Kiasan “tikaman” ini merujuk pada serangkaian masalah yang terus berulang dan tak kunjung terselesaikan. Masalah ini mencakup kecelakaan bus yang mengancam keselamatan penumpang dan buruknya manajemen yang menyebabkan keterlambatan serta ketidaknyamanan.
”Ini bukan sekadar masalah teknis. Ini adalah cerminan dari kegagalan kepemimpinan. Ketika Gubernur bekerja keras di depan, Dirut TransJakarta justru seolah-olah menghalangi dari belakang,” ujar Nurdin Sumadiharjo, seorang aktivis dari Lingkar Mahasiswa dan Pemuda Lawan Korupsi (LPMLK).
Dalam sebuah wawancara di Otista Raya, Kampung Melayu, Jakarta Timur Rabu (3/9), Nurdin menambahkan, “Kami melihatnya sebagai sebuah ‘tikaman’ terhadap kepercayaan publik. Setiap kecelakaan dan pelayanan yang buruk adalah pukulan telak yang menggerus keyakinan masyarakat terhadap TransJakarta. Gubernur seolah-olah ‘bekerja sendirian’ karena tidak didukung oleh komitmen yang sama dari jajaran direksi yang seharusnya menjadi eksekutor utama di lapangan.”
LPMLK mendesak Gubernur untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kinerja Direktur Utama TransJakarta. LPMLK meyakini bahwa TransJakarta membutuhkan nakhoda baru yang tidak hanya cakap secara manajerial, tetapi juga memiliki integritas, komitmen, dan empati yang tinggi terhadap kepentingan rakyat.
”Jika terus dibiarkan, ‘tikaman’ ini akan membuat TransJakarta kehilangan arah dan kepercayaan publik. Sudah saatnya mengganti nakhoda agar kapal TransJakarta bisa kembali berlayar sesuai dengan tujuan awalnya,” tutup Nurdin.
Markaberita.id telah berupaya menghubungi Direktur Utama TransJakarta, Welfizon Yuza, untuk meminta tanggapan terkait pernyataan tersebut, namun hingga berita ini diturunkan, yang bersangkutan tidak merespon.(Red).






