“Pertumbuhan Tanpa Lapangan Kerja”: Saat Sarjana IT Jadi Ojol di Tengah Klaim Ekonomi Mapan

Ekonomi, Nasional50 Dilihat

​MARKABERITA.COM, JAKARTA — Laporan mendalam dari media internasional The New York Times (NYT) yang diterbitkan pada 19 Oktober 2026 dengan tajuk “A Ticking Time Bomb” memicu sorotan tajam publik dan pengamat ekonomi nasional setelah mengibaratkan kondisi perekonomian Indonesia bagaikan bom waktu yang siap meledak kapan saja.

​Dalam artikel tersebut, NYT membedah adanya jurang pemisah (mismatch) antara klaim pertumbuhan data statistik makro pemerintah dan realitas pahit yang dirasakan masyarakat di tingkat akar rumput.

​Meskipun pemerintah mencatatkan angka pertumbuhan ekonomi terbilang stabil di atas 5 persen dan inflasi terkendali di kisaran 3 persen, indikator ekonomi justru menunjukkan tanda-tanda kerentanan yang nyata.

​Kesenjangan Ekonomi dan Penyusutan Kelas Menengah

​Dalam laporannya, NYT menguraikan sejumlah data mengkhawatirkan di tingkat masyarakat bawah hingga menengah. Salah satu poin utama yang disoroti adalah penyusutan proporsi kelas menengah di Indonesia yang merosot hingga 19 persen dari titik puncaknya.

Baca Juga  Dukung Pemberdayaan Petani Perempuan, Eratani Resmi Luncurkan Program Komunitas “Sang Rani”

​Selain itu, angka pengangguran di kalangan usia muda melambung hingga berada di kisaran 17 persen—salah satu yang tertinggi di wilayah Asia.

​Laporan tersebut turut mengangkat kisah Novri Putra, seorang sarjana Teknologi Informasi (IT) yang terpaksa bekerja sebagai pengemudi ojek dalam jaringan (online). Kasus ini dijadikan simbol nyata fenomena “pertumbuhan ekonomi tanpa ketersediaan lapangan kerja yang berkualitas”.

​Krisis Kepercayaan Pasar Finansial

​Ancaman “bom waktu” tersebut semakin nyata akibat gejolak di sektor keuangan. Pasar modal domestik sempat diguncang aksi jual panik (panic selling) usai lembaga pemeringkat internasional Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengeluarkan peringatan evaluasi bagi bursa saham Indonesia. Dampaknya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat anjlok drastis lebih dari 11 persen dalam sehari.

​Tekanan pasar ini diperparah oleh revisi prospek pemeringkatan utang negara (sovereign credit rating) menjadi negatif oleh Moody’s dan Fitch, serta pelemahan nilai tukar Rupiah yang sempat tertekan hingga menembus kisaran Rp18.000 per Dolar AS.

Baca Juga  Chatib Basri di Ajang Perang Ideologi Ekonomi: Menggugat Paradigma Neoliberal

​Sorotan Kebijakan Populis dan Regulasi

​Akar dari persoalan ini dinilai bukan semata-mata dipicu oleh faktor eksternal seperti perang geopolitik atau tarif dagang global, melainkan kebijakan domestik yang dianggap kurang efisien.

​NYT menyoroti implementasi program populis skala besar seperti Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menguras anggaran hingga USD 30 miliar per tahun. Program tersebut dinilai membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tanpa memberikan dorongan efek berganda (multiplier effect) ekonomi dalam jangka pendek.

​Di sisi lain, tingginya ketidakpastian regulasi membuat pelaku usaha mengambil sikap wait and see. Hal ini berdampak pada menumpuknya kredit perbankan yang belum ditarik (undisbursed loan) hingga mencapai Rp 2.576 triliun, yang alih-alih disalurkan ke sektor riil, justru diparkir pada instrumen surat berharga.

Baca Juga  VRITIMES Gandeng Baranewsaceh.co, Radarnews.co.id, dan Agaranews.com dalam Kolaborasi Media Strategis

​Rekomendasi Langkah Strategis

​Untuk meredam gejolak ini, para pengamat menggarisbawahi beberapa langkah mendesak yang perlu diambil oleh otoritas terkait:

  1. ​Sektor Eksekutif (Pemerintah): Segera melakukan penataan ulang skala prioritas anggaran, menyeleksi program yang kurang efektif, serta mengalihkan dana ke stimulus produktif untuk penciptaan lapangan kerja.
  2. ​Regulator (OJK, BEI, BI, & Kemenkeu): Mempercepat reformasi transparansi pasar modal guna memulihkan kepercayaan investor global, memitigasi risiko pelarian modal (capital flight), dan menyajikan data fiskal yang akurat serta transparan.
  3. ​Sektor Swasta dan Masyarakat: Mengedepankan efisiensi, peningkatan keterampilan (upskilling), serta penguatan sektor usaha padat karya guna menjaga daya tahan ekonomi domestik.

​Laporan internasional ini diharapkan menjadi alarm keras (warning call) bagi pemangku kebijakan untuk memprioritaskan kepastian hukum, penguatan daya beli riil masyarakat, serta reformasi struktural demi menjaga stabilitas perekonomian nasional.

​(MB/Red)