Benarkah Danantara Sedang Berburu Pinjaman US$1 Miliar di Tengah Tekanan Pasar Modal?

Ekonomi, Nasional44 Dilihat

​MARKABERITA.COM, JAKARTA — Badan Pengelola Investasi Danantara dikabarkan tengah berburu pinjaman baru senilai US$1 miliar (sekitar Rp15,7 triliun). Langkah ini diambil untuk memperkuat likuiditas dan membiayai rencana ekspansi investasi di tengah situasi pasar modal domestik yang sedang menghadapi tekanan.

​Berdasarkan laporan The Edge, sovereign wealth fund yang baru berusia 20 bulan tersebut mengincar fasilitas kredit bergulir (revolving credit facility) bertenor tiga tahun. Dana hasil penggalangan ini rencananya akan dialokasikan untuk kebutuhan korporasi umum, membiayai aksi akuisisi, serta mengejar target investasi tahun 2026 yang ditargetkan mencapai US$13 miliar.

​Rencana pendanaan baru ini melengkapi realisasi investasi Danantara yang telah melampaui US$5 miliar sepanjang tahun ini.

Baca Juga  Bupati Bolaang Mongondow Utara Dikabarkan Terjaring OTT KPK, Sejumlah Ruangan Dinas Disegel

​Guna mengeksekusi fasilitas kredit tersebut, empat lembaga keuangan internasional—yakni DBS Group Holdings Ltd, HSBC Holdings plc, Standard Chartered plc, dan United Overseas Bank Ltd (UOB)—ditunjuk sebagai penjamin (underwriter). Saat ini, pinjaman tersebut mulai ditawarkan ke pasar yang lebih luas melalui proses sindikasi.

​Pinjaman ini akan menambah fasilitas senilai US$1 miliar yang sebelumnya telah didapatkan Danantara pada tahun lalu, dengan penyesuaian tenor agar jatuh tempo secara bersamaan.

​Dari segi struktur bunga, porsi Dolar AS menawarkan margin 95 basis poin di atas suku bunga acuan Secured Overnight Financing Rate (SOFR). Untuk memberikan fleksibilitas transaksi, fasilitas kredit ini tersedia dalam lima mata uang utama: Dolar AS, Dolar Singapura, Euro, Pound Sterling, dan Yen.

Baca Juga  Mengulik Perkembangan Digital Banking Indonesia bersama Binter’s Calling

​Rencana pencarian pinjaman bank ini sejalan dengan pernyataan manajemen Danantara sebelumnya. Pada awal Oktober lalu, Direktur Investasi Danantara, Pandu Sjahrir, telah mengisyaratkan bahwa lembaga yang dipimpinnya memang berencana melakukan penggalangan dana lanjutan untuk mendukung target investasi sebesar US$13 miliar.

​Selain opsi fasilitas pinjaman bank, Pandu menyebutkan bahwa Danantara juga tengah mempertimbangkan penerbitan obligasi di pasar internasional, khususnya di Amerika Serikat dan China, sebagai instrumen diversifikasi pendanaan.

​Langkah Danantara menghimpun pendanaan eksternal menjadi momentum krusial karena berlangsung di tengah gejolak pasar saham Indonesia. Pasar keuangan dalam negeri belakangan ini diselimuti sentimen negatif akibat peringatan dari MSCI Inc terkait isu tata kelola pasar, yang dibayangi ancaman penurunan status Indonesia menjadi stand-alone market.

Baca Juga  Pengembangan SDM Industri melalui Kerjasama Strategis Kementerian Perindustrian dengan Pemerintah Swiss

​Kondisi tersebut sempat memicu kepanikan pasar hingga Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 15% dalam dua hari—penurunan terdalam sejak 1989—sebelum akhirnya mengalami rebound.

​Di tengah risiko pelepasn saham oleh investor asing (capital outflow), respons para kreditur internasional terhadap pinjaman sindikasi ini menjadi indikator penting. Keberhasilan penggalangan dana ini akan menjadi bukti tingkat kepercayaan pasar global terhadap Danantara, yang saat ini mengawasi ratusan BUMN dengan total kelolaan aset mencapai US$900 miliar.(red)