Aset Nyaris Rp3 Triliun tapi Laba Nyaris Diam, GSBK: Ada yang “Busuk” di Kursi Direksi Mandiri!

News94 Dilihat

​JAKARTA, Markaberita.com — Diskursus mengenai efisiensi dan tata kelola perbankan nasional kembali memanas. Di tengah predikat PT Bank Mandiri (Persero) Tbk sebagai institusi finansial dengan total aset terbesar di Indonesia, performa perolehan labanya justru menuai sorotan tajam dan kritik terbuka dari publik.

​Koordinator Nasional Gerakan Santri Biru Kuning (GSBK), Febri Yohansyah, secara kritis mempertanyakan rasionalitas lompatan finansial antara Bank Mandiri dan PT Bank Central Asia Tbk (BCA) dalam perbandingan kinerja periode 2024–2025.

​Berdasarkan data yang dihimpun, total aset Bank Mandiri pada tahun 2025 sukses menembus angka fantastis di Rp2.829 triliun. Angka ini jauh melampaui aset Bank BCA yang berada di kisaran Rp1.586 triliun—atau hampir dua kali lipat lebih besar. Kendati demikian, skala raksasa tersebut ternyata gagal dikonversi menjadi produktivitas laba yang sepadan.

Baca Juga  Punya Utang Bukan Berarti Bisa Asal Comot, Aksi Bank Mandiri Dibedah Habis Pakar Hukum!

​Perbandingan Pertumbuhan Laba (2024–2025)

    • ​Bank BCA: Mencatatkan pertumbuhan laba yang sehat sebesar Rp2,7 triliun.
    • ​Bank Mandiri: Hanya membukukan pertumbuhan laba mini senilai Rp181 miliar.

​”Pertumbuhan Bank Mandiri ini secara logika ekonomi sangat tidak masuk akal. Jika diibaratkan dua bidang kebun, Mandiri adalah kebun raksasa dengan luas hampir dua kali lipat, tanah subur, dan air yang melimpah. Sementara BCA adalah kebun yang lebih kecil. Namun saat panen, kebun kecil BCA menghasilkan Rp2,7 triliun, sementara kebun raksasa Mandiri cuma bertumbuh Rp181 miliar,” ujar Febri di Jakarta, Kamis (1/10/26).

​Febri menyoroti jurang pemisah pertumbuhan laba yang terpaut hingga hampir 15 kali lipat lebih lambat dibanding BCA. Menurutnya, anomali ini mengindikasikan kegagalan manajemen dalam mengoptimalkan potensi aset yang ada.

Baca Juga  Rekening Gendut Tiba-Tiba Disunat? Nasabah Jambi Tagih Kejujuran Bank Mandiri Soal Saldo Raib Rp90 Juta!

​”Aset Bank Mandiri itu ibarat piala yang hanya dipajang. Padahal, aset harus bekerja dan menghasilkan nilai tambah. Kalau asetnya membengkak tapi labanya nyaris diam, sudah pasti ada yang tidak beres di ruang kemudi, pada jajaran komisaris dan direksi Bank Mandiri,” tegasnya.

​Lebih lanjut, GSBK mengingatkan bahwa besaran aset tidak pernah menjadi jaminan mutlak atas kesehatan sebuah institusi keuangan. Ibarat pohon berbatang raksasa namun berbuah sedikit, kondisi ini menyiratkan adanya masalah serius di sektor fundamental. Bank dengan aset yang terus meroket namun labanya kerdil dinilai bertransformasi menjadi institusi yang berat, lambat, dan tidak efisien.

​Fenomena ini membuktikan bahwa lanskap perbankan modern menuntut kecerdasan manajerial, bukan sekadar ukuran fisik di atas kertas. Mengingat ekspektasi publik yang mengutamakan stabilitas dan profitabilitas, GSBK mendesak adanya evaluasi total terhadap pucuk pimpinan bank pelat merah tersebut.

Baca Juga  Ramai Isu #Mandiri OTW Bangkrut, AMPB Ancam Duduki Kantor Bank Mandiri Pati 4 Bulan Full

​”Banyak nasabah tidak butuh bank yang cuma besar di atas kertas. Nasabah butuh bank yang sehat, kredibel, dan produktif. Kalau asetnya makin menumpuk tapi labanya kerdil, yang harus diperiksa bukan sekadar laporan keuangannya—tetapi yang jauh lebih penting, mengevaluasi kompetensi mereka yang duduk di kursi komisaris dan dewan direksi,” pungkas Febri.(red).