Realita Pahit Warga Disabilitas Jakarta: Miskin Ekstrem Tapi Dicatat “Sultan” Gara-Gara Data Desil Zonk!

​JAKARTA, Markaberita.com — Hidup di ibu kota buat para penyandang disabilitas ternyata masih jauh dari kata ideal. Bukan cuma soal akses fasilitas publik yang sering boncos, urusan bansos yang harusnya jadi penyelamat hidup juga banyak yang salah alamat.

​PPDFI (Perkumpulan Penyandang Disabilitas Fisik Indonesia) baru saja membongkar fakta yang bikin geleng-geleng kepala. Bayangin aja, 70 persen dari sekitar 100 anggota PPDFI di Jakarta yang jelas-jelas hidup pas-pasan, justru zonk alias nggak dapet bansos sama sekali—baik itu Kartu Penyandang Disabilitas Jakarta (KPDJ) maupun bantuan dari pusat.

​Usut punya usut, biang kerok dari semua drama ini ada di data desil pemerintah yang dinilai “ngawur” dan nggak relate sama kondisi real di lapangan.

Baca Juga  Spill Aksi Peduli Lingkungan! Ketum MMT Abid Zahid Fadhillah Ajak Warga CFD Jakarta Gas Pol Pilah Sampah

​Buat yang belum tahu, data desil itu sistem pengelompokan ekonomi dari 1 sampai 10. Desil 1-5 buat masyarakat rentan/miskin, sementara 6-10 buat kelas menengah ke atas.

​Nah, masalahnya, banyak temen-temen disabilitas yang kerjanya cuma jadi tukang jahit atau pedagang kopi keliling—yang jelas-jelas butuh uluran tangan—malah nyasar masuk ke desil 6 ke atas. Otomatis, mereka langsung tereliminasi dari daftar penerima bansos kayak PKH atau KPDJ.

​Bahkan, Ketum PPDFI Mahmud Fasa ngalamin sendiri kejanggalan sistem ini. Status desilnya tiba-tiba nangkring di angka 10!

​“Banyak sekali teman-teman yang enggak mampu tapi desilnya tinggi loh. Ada yang desil 6, 7 padahal dia enggak mampu. Contoh saya sendiri, saya melihat desil saya bingung, saya desilnya 10. 10 itu desil yang sudah punya mobil dua, saya bilang boro-boro dua, setengah saja enggak punya,” curhat Mahmud saat ditemui di Pasar Rebo, Jakarta Timur, Jumat (7/8/2026).

​Kondisi kayak gini jelas nggak bisa dibiarin terus-terusan. Kasus salah data yang bikin warga disabilitas gigit jari ini udah sering kejadian tapi minim Solusi nyata dari instansi terkait.

Baca Juga  Barisan Jakarta Desak Transjakarta: Jangan Khianati Program Prioritas Mas Pram!

​Makanya, PPDFI dengan tegas mendesak pemerintah buat gercep (gerak cepat) mengevaluasi ulang sistem pendataan desil. Jangan sampe anggaran bansos yang tujuannya ngebantu fakir miskin malah salah sasaran gara-gara validasi data yang zonk dan nggak valid secara real-time. Buka mata, pemerintah!(red).