Kritik Tajam Ichsanuddin Noorsy: Menggugat Oligarki dan Kegagalan Sistemik Indonesia

Ekonomi, Nasional117 Dilihat

JAKARTA, markaberita.com – Pakar ekonomi politik senior, Ichsanuddin Noorsy, melontarkan kritik keras terhadap arah pembangunan dan kondisi sistemik di Indonesia saat ini. Dalam sebuah diskusi mendalam pada selasa (30/06/26), Noorsy membedah berbagai persoalan krusial yang ia nilai telah menjauhkan bangsa dari amanat konstitusi dan kesejahteraan rakyat.

​Noorsy menyoroti hilangnya model perencanaan, penganggaran, dan evaluasi yang berpijak pada kebutuhan mendasar masyarakat. Ia menyoroti pergeseran peran Bappenas yang dinilai tidak lagi berfungsi efektif sejak kewenangannya dipangkas. Ia juga menuding perubahan Undang-Undang Dasar pasca-2002 sebagai akar ketidakstabilan sistem yang menghambat terciptanya arah pembangunan jangka panjang yang kokoh.

​Dalam analisisnya, kedaulatan rakyat kini dinilai telah terampas oleh segelintir pihak, yakni oligarki politik dan ekonomi. Menurut Noorsy, negara saat ini cenderung hanya berfungsi sebagai instrumen bagi kelompok elit untuk mengakumulasi kekayaan dan kekuasaan, yang pada gilirannya memperlebar jurang ketimpangan sosial di tengah masyarakat.

Baca Juga  Plasgos Marketplace Membuka Peluang Bisnis Lebih Luas dengan Peluncuran Fitur RFQ

​Terkait kondisi ekonomi dan pendidikan, Noorsy memperingatkan bahwa ketergantungan pada standar luar dan sistem ekonomi liberal membuat nilai tukar Rupiah rentan dalam jangka panjang. Ia juga mengkritik sistem pendidikan nasional yang dianggap masih terjebak dalam sekularisme dan gagal menjawab tantangan kemanusiaan secara substansial.

​Di sisi lain, terdapat sisi unik dalam metodologi riset Noorsy, di mana ia menggunakan Artificial Intelligence (AI) sebagai lawan debat untuk menguji validitas data dan argumennya. Melalui pendekatan tersebut, ia membuktikan bahwa fenomena geopolitik—seperti kebijakan Amerika Serikat maupun dinamika global lainnya—tidak bisa dipahami dari satu variabel tunggal, melainkan harus dilihat melalui konstruksi yang kompleks.

​Menutup diskusinya, di tengah pesimisme akan sistem yang ada, Noorsy mengajak masyarakat untuk tidak berputus asa. Ia menekankan pentingnya memperbaiki kualitas diri dan keluarga, serta menjadikan nilai-nilai spiritual sebagai panduan utama dalam mendidik generasi penerus. Baginya, martabat bangsa hanya bisa diangkat melalui kombinasi antara penguasaan ilmu pengetahuan dan kekuatan iman.

Baca Juga  CBA: Sumbangan Sukarela 'Rereongan Sapoe Sarebu' KDM Berpotensi Jadi Pemerasan Sosial terhadap Warga Miskin

​Secara keseluruhan, diskusi ini merupakan refleksi kritis atas kegagalan sistemik yang dipandang Noorsy sebagai konsekuensi dari penerapan demokrasi liberal dan pasar bebas yang tidak selaras dengan jiwa konstitusi Indonesia. Analisis ini menjadi pengingat bagi publik akan pentingnya mengevaluasi arah bangsa demi masa depan yang lebih berdaulat.(red).