Catatan dari Jalur: Saat Pendakian Tektok Disalahartikan sebagai “Main-main” di Gunung Gede

Oleh: Redaksi Markaberita.com

​Jakarta, markaberita.com – Dunia pendakian kembali menyoroti insiden evakuasi delapan pendaki wanita muda di Gunung Gede pada Senin (13/7/2026). Jika kita melihat lebih dalam dari sekadar tayangan video yang viral, ada sebuah kekeliruan fatal yang sering kali luput dari pemahaman pendaki masa kini: menganggap pendakian tektok adalah sebuah kemudahan, bukan sebuah disiplin ilmu.

​Delapan pendaki tersebut ditemukan terkulai lemah saat perjalanan turun. Mereka menempuh pendakian tanpa carrier besar, tanpa perlengkapan darurat memadai, dan hanya berbekal tas kecil dengan logistik “seadanya”.

​Bagi para pegiat alam bebas yang telah bertahun-tahun merawat jalur pendakian, tektok bukanlah jalan pintas untuk mencapai puncak dengan gaya. Tektok adalah tentang efisiensi, manajemen energi, dan pemahaman mendalam atas batas kemampuan fisik sendiri.

Baca Juga  Dugaan Bansos PKD DKI 2025 Salah Sasaran, GERTAK Desak Kejagung Periksa Kadinsos Iqbal Akbarudin

​“Pendakian tektok justru menuntut persiapan yang lebih rigid dibanding pendakian bermalam. Anda tidak punya ‘tempat berlindung’ (tenda) jika cuaca buruk atau kondisi fisik drop. Jika Anda tidak punya stamina yang mumpuni, maka Anda sedang menjemput bahaya,” ujar Dedi Satria salah satu pendaki senior yang akrab dengan medan Gede-Pangrango.

​Dalam video evakuasi, terlihat petugas harus memikul beban tanggung jawab dari kelalaian para pendaki. Mereka digendong turun bukan karena kecelakaan alam, melainkan karena ketiadaan persiapan fisik yang matang.

​Gunung Bukan Panggung Konten

​Ada pergeseran tren di mana gunung seolah dijadikan latar belakang panggung konten media sosial. Ketika pendakian hanya dilakukan untuk estetika atau sekadar “cek ombak”, aspek fundamental pendakian—yaitu keselamatan dan kemandirian—seringkali diabaikan.

Baca Juga  CBA Desak Kejati DKI Usut Dugaan Kejanggalan Proyek Mobil Derek Rp62,8 Miliar

​Kepada para pendaki muda, perlu diingat kembali filosofi mendasar yang sering terabaikan:

  1. ​Puncak itu Bonus: Mencapai puncak tidak ada artinya jika harus merepotkan orang lain untuk mengevakuasi kita saat turun.
  2. ​Etika Pendaki: Mendaki adalah tentang kemandirian. Jangan biarkan logistik dan fisik yang tidak siap menjadi beban bagi petugas atau pendaki lain di jalur.
  3. ​Pulang dengan Selamat adalah Tujuan: Gunung akan selalu ada di sana. Tidak perlu memaksakan diri jika tubuh sudah memberikan sinyal untuk berhenti.

​Insiden di Gunung Gede ini hendaknya menjadi cermin bagi siapa pun yang hendak menjajaki ketinggian. Hormatilah gunung dengan persiapan yang setara dengan besarnya ambisi Anda untuk mencapai puncaknya.

Baca Juga  Padepokan Hukum Indonesia Segera Laporkan PT Nurrumi Sanggabuana Berdikari ke Polda Metro Jaya

​Gunung menuntut tanggung jawab, bukan hanya kesiapan untuk update status. Tetaplah rendah hati di puncak, dan tetaplah waspada saat turun, karena pendakian yang baik adalah pendakian yang berakhir dengan aman di rumah.(red).