Editorial: Audit Total atau Hancur, Menagih Nyali Prabowo dalam Membersihkan Lembaga Negara

Nasional, Opini533 Dilihat

​JAKARTA, Markaberita.com – Gelombang pembersihan di tubuh pemerintahan kini mencapai titik didih. Setelah desakan publik akan transparansi di Badan Gizi Nasional (BGN) membahana, Presiden Prabowo Subianto akhirnya memberikan sinyal tegas bahwa tidak ada lagi ruang bagi praktik koruptif di kabinet maupun lembaga negara. Ketegasan ini memuncak secara dramatis pada hari Rabu (03/06/26), di mana publik dikejutkan oleh pengumuman penetapan tersangka skandal masif di BGN, yang berselang bersamaan dengan Operasi Tangkap Tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap Wakil Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, Silmy Karim. Rentetan peristiwa ini bukan sekadar insiden hukum biasa, melainkan alarm keras bahwa virus korupsi telah menjalar hingga ke jantung pengambilan kebijakan.

​Program Makan Bergizi Nasional sejatinya adalah visi mulia untuk menjamin kesehatan generasi masa depan bangsa. Namun, visi tersebut sempat tercemar oleh perilaku koruptif para elit yang menjadikannya ladang perburuan rente. Penetapan status tersangka yang diumumkan pada Rabu tersebut terhadap trio petinggi BGN—Dadan Hindayana (Eks Kepala BGN), Sony Sonjaya (Eks Wakil Kepala BGN Bidang Operasional), dan Lodewyk Pusung (Eks Wakil Kepala BGN Bidang Pengembangan Organisasi)—menjadi bukti nyata adanya upaya sistematis dalam menggerogoti anggaran negara.

Baca Juga  Gugatan Hukum Rp 3,7 Triliun terhadap PLN: Mus Gaber Bongkar Skandal FODER, Ledakan PLTU, dan Ancaman Blackout

​Dalam menanggapi situasi ini, kami memandang perlu adanya langkah strategis yang tidak bisa ditawar lagi. Pertama, pemerintah wajib melakukan audit forensik menyeluruh terhadap operasional dapur sebagai jantung program ini. Audit tersebut tidak boleh hanya terbatas pada aspek administratif keuangan, tetapi harus menyentuh kualitas nutrisi, integritas alur logistik, hingga kepatuhan standar higienitas. Dapur harus disterilkan dari tangan-tangan kotor, karena jika intinya membusuk, maka seluruh bangunan program ini akan runtuh. Kedua, pemerintah harus berani melakukan evaluasi radikal terhadap seluruh pihak ketiga atau vendor. Setiap rekanan yang terbukti menjadi mitra kongkalikong oknum pejabat wajib diputus kontraknya dan dimasukkan dalam daftar hitam nasional secara permanen. Transparansi tender adalah harga mati; publik berhak mengetahui siapa penyedia logistik anak-anak bangsa dan bagaimana akuntabilitas kontraknya dikelola.

Baca Juga  Aksi Simpatik! Aliansi Ormas Bekasi, SMSI, dan Brimob Bagikan 2.000 Bendera Merah Putih Jelang HUT RI ke-80

​Peristiwa OTT yang menimpa Wakil Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Silmy Karim pada hari yang sama pun menjadi pengingat keras bagi seluruh pejabat publik bahwa jabatan bukanlah tameng, dan kedekatan dengan pusat kekuasaan bukanlah jaminan kekebalan hukum. Pesan Presiden Prabowo menjadi jelas bahwa jatah makan rakyat dan amanah kementerian bukanlah barang rampasan. Hal ini harus menjadi momentum bagi penegak hukum untuk mengusut tuntas hingga ke akar-akarnya tanpa tebang pilih. Jika para elit pengambil kebijakan berani mengkhianati amanah dengan bermain proyek atau menerima suap, maka hukum harus ditegakkan dengan pasal berlapis tanpa kompromi guna memberikan efek jera yang nyata.

​Sebagai media, markaberita.com berkomitmen untuk terus mengawal proses hukum ini tanpa rasa takut. Kami tidak akan memberi celah bagi siapa pun untuk menjadikan hak rakyat sebagai santapan pribadi. Baik itu kasus korupsi gizi yang menyentuh piring makan anak bangsa, maupun penyalahgunaan wewenang di kementerian, semuanya adalah pengkhianatan terhadap konstitusi. Kami menanti keberlanjutan aksi bersih-bersih ini dari Presiden Prabowo. Jangan biarkan para perampok berseragam bersembunyi di balik jabatan. Hancurkan sistem yang korup, tegakkan integritas, dan kembalikan hak rakyat ke tempat yang semestinya. Sebab, jatah makan rakyat adalah hak suci; siapa pun yang berani merampoknya, mereka harus berhadapan dengan murka rakyat dan jeruji besi.(Red).

Baca Juga  Rapor Keuangan Pertamina NRE Merah di Balik Pertumbuhan Aset, GSBK Desak Pengawasan Ketat