Prestasi Keamanan Jakarta di Tengah Ujian ‘El Clasico’: Antara Piagam ASEAN dan Realitas Izin Kepolisian

Megapolitan, Olahraga521 Dilihat

​JAKARTA, Markaberita.com – Keputusan pemindahan laga penuh gengsi antara Persija Jakarta kontra Persib Bandung ke Stadion Segiri, Samarinda, memicu polemik panas. Meski Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menyatakan kekecewaannya, kritik tajam justru datang dari mantan Ketua Umum The Jakmania, Richard Ahmad Suprianto pada saat di hubungi pada hari Jum’at (08/05/26), yang menyebut kebijakan ini sebagai tamparan bagi marwah Jakarta sebagai Kota Global.

​Pertandingan pekan ke-32 Super League 2025-2026 yang dijadwalkan pada 10 Mei nanti resmi “terusir” dari Ibu Kota. Direktur Utama I.League, Ferry Paulus, mengonfirmasi pemindahan ini usai koordinasi di Mabes Polri, Rabu (6/5/2026). Alasan keamanan terkait rentetan agenda besar di Jakarta, termasuk pasca-Hari Buruh (May Day), menjadi dasar utama kepolisian tidak menerbitkan izin di Jakarta.

Baca Juga  Mengupas Tuntas Polemik Perseroda PAM Jaya: Mungkinkah Pelayanan Publik Tergerus Demi Keuntungan?

​Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, mengaku merasakan kekecewaan yang sama dengan The Jakmania. Namun, ia memilih untuk menghormati pertimbangan kepolisian demi menjaga stabilitas Ibu Kota.

​“Saya termasuk yang kecewa. Kemarin teman-teman juga tahu saya menerima Kapolda. Tetapi apa pun yang menjadi keputusan bersama, saya sebagai Gubernur karena ada reasoning yang masuk akal, bagaimanapun saya lebih baik menjaga Jakarta tetap adem, ayem, tentrem,” ujar Pramono di Balai Kota, Rabu (6/5).

​Saat ditanya mengenai detail alasan keamanan, Pramono enggan merinci. “Kalau kecewa, saya kecewa banget. Kalau alasan, biar yang buat alasan saja yang bicara,” tegasnya.

​Merespons hal tersebut, Richard Ahmad Suprianto Mantan Ketua Umum The Jak Mania memberikan pernyataan menohok. Baginya, alasan keamanan yang dikemukakan sangat tidak sejalan dengan prestasi Jakarta yang baru saja dinobatkan sebagai kota teraman kedua di Asia Tenggara pada 2026.

Baca Juga  Tolak Putus Cinta, Buruh Bangunan di Ciracas Tega Sebar Video Syur dan Siram Air Keras ke Mantan Kekasih

​“Ini sangat ironi. Kita sebagai warga Jakarta kecewa. Katanya Jakarta kota teraman ke-2 se-ASEAN, tapi menggelar satu pertandingan saja tidak mampu? Sepertinya status itu harus dipertanyakan kembali,” ujar Richard pada saat di hubungi Markaberita.com Jum’at (08/05/26).

​Richard menambahkan bahwa narasi ‘Jakarta tidak aman’ sangat tendensius bagi warga Jakarta dan Jakmania. Ia juga mempertanyakan fungsi pengayoman kepolisian di tengah status Jakarta sebagai kota global.

​“Bagaimana bisa disebut kota global kalau laga El Clasico saja harus mengungsi karena isu keamanan? Padahal, pihak keamanan mendapatkan hibah dari pajak warga Jakarta. Persija rugi besar karena diusir dari rumahnya sendiri oleh Kapolda dan Kapolri,” lanjutnya.

Baca Juga  Persija Jakarta Terpuruk, LPMAK Desak Audit Investigatif Dana CSR BUMD DKI: "Jangan Jadi Ladang Korupsi!"  

​Menutup pernyataannya, Richard menekankan bahwa satu-satunya cara untuk mengobati luka para pendukung adalah kemenangan di tanah Borneo. Ia juga mendesak adanya penguatan internal di tubuh organisasi suporter agar posisi tawar Jakmania semakin kuat ke depannya.

​“Kekecewaan ini mahal harganya, maka dari itu Persija harus menang lawan Persib! Harga diri warga Jakarta harus dibayar dengan poin penuh di Samarinda,” tegas Richard.

​Ia juga mengingatkan bahwa kejadian ini harus menjadi pelajaran pahit bagi seluruh stakeholder sepak bola Jakarta. “Hal ini menjadi pelajaran sangat penting, jangan sampai di kemudian hari terjadi kembali. Segera konsolidasi organisasi dikencangkan dan disegerakan. Kita harus solid agar Jakarta benar-benar menjadi rumah yang aman bagi tim kebanggaannya,” pungkas tokoh kunci Jakmania tersebut.(MB/Red).