JAKARTA, Markaberita.com – Krisis air bersih kembali melanda permukiman padat penduduk di Kelurahan Kalianyar, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat. Matinya aliran air PAM Jaya selama beberapa hari terakhir telah melumpuhkan aktivitas warga dan memicu keresahan luas. Meski bantuan air tangki telah disalurkan, warga menegaskan bahwa solusi darurat tersebut tidak cukup untuk menjawab kebutuhan dasar mereka.
Situasi di kawasan yang dikenal sebagai salah satu titik terpadat di Asia Tenggara ini kini berada di ambang darurat sanitasi. Warga terpaksa merogoh kocek lebih dalam untuk membeli air galon atau menggunakan jasa penyedia air swasta, yang membebani ekonomi keluarga di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih.
Anggota LMK Kelurahan Kalianyar, Oki Septian, mengapresiasi langkah cepat PAM Jaya yang telah mengirimkan empat mobil tangki air bersih. Namun, ia menekankan bahwa bantuan tersebut hanyalah penanganan jangka pendek. Menurutnya, persoalan air bersih di Kalianyar tidak boleh dianggap sebagai isu insidental semata. Ia mengajak seluruh pengurus wilayah—RT, RW, hingga unsur masyarakat—untuk bersama-sama mendorong solusi permanen agar kebutuhan pokok masyarakat dapat terpenuhi secara berkelanjutan.
Sorotan tajam datang dari Ketua RT dalam keerangan nya pada Kamis (28/05/26) di Kalianyar, Andi Nugroho, yang memberikan peringatan keras kepada PAM Jaya. Ia menyoroti ambisi perusahaan untuk melakukan Initial Public Offering (IPO) dan mencapai target cakupan layanan 100 persen pada tahun 2029. Menurutnya, target besar tersebut tidak akan berarti jika kualitas pelayanan nyata di lapangan masih belum maksimal. Ia menegaskan agar target tersebut tidak sekadar menjadi slogan di atas kertas, sementara rakyat masih kesulitan mendapatkan hak dasar atas air bersih.
Senada dengan Andi, Ketua RT lainnya, Akram, menyebut kondisi di Kalianyar saat ini sudah layak dikategorikan sebagai darurat air bersih. Ia memperingatkan bahwa jika terus dibiarkan, krisis ini akan berimplikasi serius pada kesehatan masyarakat, sanitasi, dan lingkungan. Ia menekankan bahwa dampak dari krisis ini sangat luar biasa, mulai dari terganggunya sanitasi hingga lumpuhnya aktivitas warga.
Ketua RW 03 Kalianyar, Agus Sukardi, menyatakan bahwa pihaknya tidak akan tinggal diam dan akan terus menyuarakan aspirasi warga kepada PAM Jaya serta Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Ia menuntut transparansi dari PAM Jaya terkait penyebab pasti gangguan distribusi yang terjadi, agar masyarakat tidak terus berada dalam ketidakpastian. Menurutnya, persoalan ini bukan sekadar isu teknis biasa, melainkan masalah pemenuhan hak dasar yang menyangkut hajat hidup orang banyak.
Krisis ini menjadi alarm keras bagi infrastruktur air bersih di Jakarta. Warga mendesak PAM Jaya untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap jaringan distribusi dan kapasitas pasokan, serta segera melakukan pembenahan sistem agar persoalan serupa tidak terus berulang. Hingga saat ini, distribusi bantuan air bersih masih dilakukan di titik-titik terdampak, sementara warga tetap menanti tindakan konkret dari pemerintah dan penyedia layanan agar aliran air dapat kembali normal dan stabil.(Red).



