JAKARTA, Markaberita.com – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui Dewan Penasihat Sekretaris Jenderal untuk Nol Limbah resmi merilis daftar 20 kota di dunia yang sukses memimpin gerakan menuju Kota Nol Sampah (Zero Waste City). Sayangnya, Jakarta belum berhasil menembus daftar tersebut, meski beberapa kota di kawasan Asia Tenggara sukses menunjukkan taringnya.
Pengumuman yang dirilis secara resmi pada 27 Maret 2026 ini bertepatan dengan momentum menyambut Hari Internasional Nol Sampah (30 Maret). Dalam rilis tersebut, UN-Habitat dan Program Lingkungan PBB (UNEP) memberikan apresiasi kepada kota-kota yang berhasil menghentikan siklus “buang di TPA” melalui inovasi dan kebijakan progresif.
Penetapan ini didukung penuh oleh UN-Habitat dan Program Lingkungan PBB (UNEP) sebagai bentuk apresiasi terhadap kota-kota yang berhasil mengimplementasikan sistem pengelolaan sampah berkelanjutan secara konkret, bukan sekadar wacana.
Dalam daftar tersebut, negara tetangga seperti Malaysia dan Filipina berhasil menempatkan masing-masing dua kota. Keberhasilan mereka dinilai dari kemampuan melakukan pemilahan sampah dari sumber dan penguatan sistem daur ulang yang inklusif.
Daftar 20 Kota Pemimpin Nol Sampah Dunia:
Asia Tenggara: George Town & Kuala Lumpur (Malaysia), Iloilo City & San Fernando (Filipina).
Asia Timur & Selatan: Hangzhou, Sanya, Suzhou (China); Yokohama (Jepang); Dehiwala (Sri Lanka); Varkala (India).
Eropa & Amerika: Bologna (Italia), San Francisco (AS), Florianópolis (Brasil), Zapopan (Meksiko).
Afrika & Timur Tengah: Accra (Ghana), Chefchaouen (Maroko), Dar es Salaam (Tanzania), Gaziantep (Turki), Kisumu (Kenya), Lilongwe (Malawi).
UN-Habitat menegaskan bahwa predikat ini diberikan kepada kota yang mampu mengintegrasikan kebijakan dengan peran masyarakat.
Kota-kota ini membuktikan bahwa nol sampah bukan sekadar visi, tetapi dapat diwujudkan melalui kebijakan yang tepat, inovasi, dan keterlibatan sektor informal seperti pemulung,
Beberapa strategi kunci yang dijalankan meliputi:
- Pemilahan Ketat: Pengolahan sampah dimulai dari level rumah tangga.
- Manajemen Sampah Organik: Pengolahan limbah dapur menjadi kompos secara masif.
- Pengurangan Plastik: Kebijakan progresif untuk membatasi penggunaan plastik sekali pakai.
Belum masuknya Jakarta dalam daftar ini menjadi “alarm” bagi pemerintah daerah. Sebagai megapolitan, Jakarta masih terjebak dalam masalah klasik: ketergantungan ekstrem pada TPST Bantargebang.
Setiap harinya, Jakarta memproduksi ribuan ton sampah, namun sistem pemilahan di tingkat hulu masih sangat minim. Rendahnya partisipasi masyarakat dan infrastruktur pengolahan berbasis komunitas (TPS3R) yang belum optimal menjadi alasan utama mengapa Jakarta masih tertinggal dibandingkan Kuala Lumpur atau Manila dalam hal pengelolaan sampah berkelanjutan.
PBB berharap praktik baik dari 20 kota terpilih ini dapat menjadi referensi bagi pemerintah Jakarta untuk segera mereformasi kebijakan pengelolaan sampahnya, mengingat dunia kini menghasilkan lebih dari 2 miliar ton sampah padat setiap tahunnya.(Red/ZR).




