EDITORIAL: Jakarta di Ujung Tanduk: Ancaman “Bom Waktu” di Bawah Aspal

Megapolitan269 Dilihat

​JAKARTA, Markaberita.com – Jakarta saat ini tengah terobsesi dengan pembangunan di bawah permukaan. Di tengah gencar-gencarnya upaya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan PAM Jaya untuk mencapai target cakupan layanan air bersih 100% pada 2030, ribuan kilometer pipa baru kini tengah ditanam secara masif di bawah jalanan ibu kota. Target ambisius tersebut mencakup pembangunan pipa distribusi sepanjang lebih dari 5.000 kilometer dalam waktu yang sangat singkat. Namun, di balik pengejaran target tersebut, publik berhak bertanya dengan lantang: sudahkah kita menghitung risiko “bom waktu” berupa sinkhole atau lubang ambles yang kini mengintai di balik proyek infrastruktur raksasa ini?

​Insiden jalan amblas yang terjadi di Jalan Raya Lenteng Agung, Jagakarsa, Jakarta Selatan, arah Depok, pada Jumat (29/5/2026), menjadi bukti nyata betapa rapuhnya tanah Jakarta. Lubang yang menganga cukup lebar dan dalam tersebut bukanlah peristiwa tunggal, melainkan sinyal peringatan keras akan bahaya laten di bawah aspal kita. Kasatpel SDA Kecamatan Jagakarsa, Sartono, mengungkapkan bahwa amblasnya jalan tersebut disebabkan oleh crossing saluran air (hong) berukuran kurang lebih 3 meter yang sudah keropos dimakan usia. Sebagian pecahan beton tersebut bahkan tergerus tanah hingga menimbun aliran air.

Baca Juga  Urgensi Pengesahan Anggota KPID DKI Jakarta: Kunci Pengawasan Penyiaran di Ibu Kota Global

​Peristiwa di Lenteng Agung ini adalah potret buram dari ancaman yang lebih luas. Di saat Jakarta sedang melakukan akselerasi penanaman infrastruktur air bersih dengan investasi triliunan rupiah, kita justru dihadapkan pada kenyataan bahwa infrastruktur bawah tanah yang lama telah memasuki fase kritis. Pemasangan pipa baru yang dilakukan secara masif sering kali tumpang tindih dengan utilitas lain—seperti kabel fiber optik dan jaringan listrik—di atas tanah Jakarta yang sudah rapuh akibat beban gedung tinggi serta ekstraksi air tanah selama puluhan tahun. Masalah fundamentalnya adalah percepatan konstruksi yang sering kali mengorbankan kualitas pemadatan tanah kembali (backfilling) dan pemetaan utilitas yang presisi, yang pada akhirnya memicu ketidakstabilan struktur bawah tanah.

Baca Juga  Ambulans Bantuan Diperiksa Aparat Pas Aksi BEM UI, Ketua SBSI 92 Sunarti Heran: "Emang Apa yang Dicurigain?" ​

​Tahun 2030 menjadi titik krusial, bukan hanya karena target akses air bersih yang harus tercapai, tetapi karena pada masa itu infrastruktur yang dibangun hari ini akan mulai menua. Tanpa mitigasi yang serius, kita berisiko menghadapi skenario kegagalan struktural berupa amblesan jalan secara beruntun (chain reaction). Biaya perbaikan jalan yang terus berulang dan kemacetan total akibat sinkhole akan jauh melampaui biaya pemeliharaan sistem pipa itu sendiri. Lebih jauh lagi, ambisi pembangunan akan menjadi sia-sia jika infrastruktur dasar justru berubah menjadi ancaman keselamatan bagi warga yang melintas di atasnya.

​Markaberita.com mendesak pemerintah dan operator penyedia air untuk tidak hanya mengejar target panjang pipa, tetapi juga menjamin ketahanan bawah tanah dengan melakukan audit independen terhadap kualitas pemadatan tanah di seluruh titik proyek. Pemerintah wajib mengintegrasikan sistem real-time monitoring melalui sensor tekanan air dan ground-penetrating radar (GPR) di titik-titik vital, serta membuka data peta utilitas bawah tanah agar pengawasan publik dapat berjalan efektif.

Baca Juga  Sapi Kurban dari Gubernur DKI Jakarta Didistribusikan ke Warga Susukan

​Mengejar akses air bersih adalah kewajiban konstitusional, namun membiarkan jalanan ibu kota ambles akibat kecerobohan konstruksi dan pengabaian pemeliharaan aset lama adalah kegagalan sistemik yang tak bisa dimaafkan. Jangan sampai tahun 2030, saat warga Jakarta akhirnya bisa menikmati air bersih di keran rumah mereka, mereka justru terperangkap dalam lubang-lubang maut di jalanan yang mereka lalui setiap hari. Jakarta butuh air, tapi Jakarta juga butuh keamanan; jangan biarkan pembangunan kita hari ini menjadi kuburan bagi mobilitas masa depan.(Red).