Daftar 10 Orang Terkaya RI Mei 2026: Sektor Energi Dominan, Ichsanuddin Noorsy Kritik Struktur Ekonomi Elitis

Ekonomi, Nasional259 Dilihat

JAKARTA, Markaberita.com – Majalah ekonomi terkemuka, Forbes, kembali merilis daftar 10 orang terkaya di Indonesia per Mei 2026. Data terbaru ini menunjukkan dominasi para taipan di sektor petrokimia, energi, dan perbankan yang semakin kokoh, di tengah munculnya kekuatan baru di sektor infrastruktur digital.

​Posisi pertama ditempati oleh Prajogo Pangestu dengan kekayaan mencapai US20,9 miliar yang bersumber dari gurita bisnis petrokimia dan energi, Menyusul di posisi kedua, pengusaha batu bara Low Tuck Kwong dengan nilai kekayaan US16,5 miliar.

​Berikut adalah daftar lengkap 10 orang terkaya Indonesia versi Forbes per Mei 2026:

1. ​Prajogo Pangestu: US$20,9 miliar (Petrokimia, Energi)

2. ​Low Tuck Kwong: US$16,5 miliar (Batu Bara)

Baca Juga  Hati-hati Beli Bitcoin di Aplikasi, Begini Cara Aman Melakukannya!

3. ​R. Budi Hartono: US$15,8 miliar (Perbankan, Rokok)

4. ​Michael Hartono: ~US$15 miliar (Perbankan, Rokok)

5. ​Anthoni Salim: ~US$11,9 miliar (Diversifikasi)

6. ​Tahir & Keluarga: ~US$9,7 miliar (Rumah Sakit, Keuangan)

7. ​Sri Prakash Lohia: ~US$8,8 miliar (Petrokimia)

8. ​Mariana Budiman: ~US$6 miliar (Data Centers)

9. ​Lim Hariyanto Wijaya Sarwono: ~US$5,3 miliar (Palm Oil, Nikel, Tambang)

10. ​Haryanto Tjiptodiharjo: ~US$5 miliar (Manufaktur)

​Menanggapi laporan tersebut, Analis Kebijakan Publik dan Ekonomi, Dr. Ichsanuddin Noorsy, memberikan catatan kritis dalam pernyataan resminya pada Senin (4/5/2026). Noorsy menilai komposisi daftar tersebut merupakan cermin dari belum beranjaknya struktur ekonomi Indonesia dari ketergantungan pada sumber daya alam.

Baca Juga  Bantu Akses Pasar UMKM, Sampoerna dan INOTEK Luncurkan Program SEMANGAT

​”Dominasi kekayaan di sektor ekstraktif seperti batu bara dan petrokimia menunjukkan bahwa mesin ekonomi kita masih sangat bergantung pada eksploitasi alam, bukan pada penciptaan nilai tambah melalui manufaktur atau inovasi teknologi yang berakar pada kerakyatan,” ujar Noorsy di Jakarta, Senin (4/5).

​Lebih lanjut, Noorsy menyoroti empat poin utama terkait kondisi ekonomi nasional: Kekayaan besar di puncak piramida masih sangat dipengaruhi oleh fluktuasi harga komoditas global, yang menurutnya rentan terhadap stabilitas ekonomi jangka panjang jika tidak segera dilakukan hilirisasi yang berkeadilan.

Kehadiran pemain lama di sektor perbankan dan rokok menunjukkan bahwa daya beli masyarakat masih menjadi tumpuan utama, namun akumulasi keuntungan tetap terkonsentrasi pada pemilik modal besar.

Baca Juga  Indigo Dukung Startup Binaan Melalui Kolaborasi dengan Telkom Regional

Noorsy memberikan perhatian khusus pada masuknya sektor data center dalam daftar elit ini. Ia memperingatkan agar pertumbuhan infrastruktur digital ini dibarengi dengan kedaulatan data nasional agar tidak sekadar menjadi ladang keuntungan baru bagi segelintir pihak.

Angka-angka fantastis ini, bagi Noorsy, adalah peringatan dini mengenai melebarnya jurang ketimpangan. Ia mendesak pemerintah untuk melakukan evaluasi total terhadap kebijakan fiskal yang lebih mampu mendistribusikan kekayaan secara merata.

​”Jangan sampai angka pertumbuhan ekonomi yang dibanggakan hanya dinikmati oleh segelintir orang di daftar Forbes ini, sementara masyarakat di akar rumput terus terhimpit oleh tekanan struktural domestik dan eksternal yang kian dalam,” tegasnya.(MB/Red).