Waspada ‘Badai Sempurna’ Ekonomi 2026: IMF Desak Pemerintah Global Perketat Ikat Pinggang

Ekonomi, Nasional469 Dilihat

​Jakarta, Markaberita.com – Dunia sedang berada di ambang ketidakpastian ekonomi yang ekstrem. Dana Moneter Internasional (IMF) secara resmi mengeluarkan peringatan keras kepada negara-negara anggota agar segera menghentikan kebijakan belanja agresif dan beralih ke konsolidasi fiskal yang disiplin.

​Peringatan ini muncul menyusul eskalasi konflik di Timur Tengah yang berpotensi memicu “efek domino” terhadap harga energi dan stabilitas ekonomi global.

​Kepala Ekonom IMF, Pierre-Olivier Gourinchas, menyoroti potensi gangguan pada Selat Hormuz sebagai ancaman paling nyata. Jika jalur perdagangan energi vital ini terganggu akibat perang, dunia akan menghadapi lonjakan harga minyak dan gas yang tak terkendali.

​”Kita sedang melihat prospek krisis energi besar. Dampaknya bukan sekadar kenaikan harga BBM, tapi merembet ke harga pupuk, transportasi jet, hingga biaya logistik global,” ungkap Gourinchas dalam IMF-World Bank Spring Meetings (20/4/26).

Baca Juga  FranchiseOne dari Indonesia untuk Dunia. Memberdayakan Kuliner Lokal Menuju Pertumbuhan Nasional dan Global

​IMF mengidentifikasi tiga saluran utama yang akan melumpuhkan ekonomi jika konflik terus memanas:

​Guncangan Pasokan Negatif: Lonjakan biaya produksi yang secara langsung memangkas daya beli rumah tangga.

​Ekspektasi Inflasi yang Tak Terkendali: Munculnya fenomena wage-price spiral, di mana tuntutan kenaikan upah pekerja justru memicu inflasi lebih lanjut.

​Pelarian Modal (Capital Outflow): Penguatan dolar AS yang berlebihan dan peningkatan premi risiko akan mencekik likuiditas di negara-negara berkembang.

​Dalam laporan terbarunya, IMF merilis skenario terburuk yang sangat mengkhawatirkan. Jika gangguan pasokan energi menetap hingga tahun depan, pertumbuhan ekonomi global diprediksi anjlok ke angka 2,0%.

​Secara historis, pertumbuhan di bawah ambang 2% adalah sinyal resesi global. Sejak era 1980-an, dunia hanya pernah mengalami fase kelam ini sebanyak empat kali. Sebagai perbandingan, inflasi dalam skenario terburuk ini diperkirakan bakal menembus angka 6%.

Baca Juga  Harga Solana Hari Ini: Optimisme di Tengah Koreksi dan Potensi Persetujuan ETF

​IMF menekankan bahwa pemerintah tidak lagi memiliki “kemewahan” untuk memberikan subsidi harga secara masif. Ruang fiskal yang menyempit akibat utang pascapandemi menuntut kebijakan yang lebih presisi, dan IMF memberikan Rekomnedasi Strategis diantaranya.

​Fiskal Disiplin: Menghentikan subsidi yang bersifat umum dan mendistorsi harga pasar.

​Perlindungan Terukur: Bantuan sosial hanya dialokasikan untuk masyarakat paling rentan melalui skema yang temporer dan tepat sasaran.

​Komunikasi Moneter: Bank sentral diminta untuk tetap tenang namun tegas. Kenaikan suku bunga harus diukur secara hati-hati agar tidak mematikan sektor riil, selama ekspektasi inflasi masih bisa dijaga.

​”Negara-negara harus segera membangun kembali penyangga fiskal (fiscal buffers). Di tengah badai, hanya mereka yang memiliki cadangan kuat yang akan bertahan,” tegas Gourinchas.(Red).

Baca Juga  Kisah Perjuangan Laksamana Mahalayati, Cerita Rakyat Aceh Melawan Penjajah