CBA: Stok BBM Hanya 20 Hari, Dirut Pertamina dan Menteri ESDM Terancam “Disemprot” Prabowo

Nasional294 Dilihat

​MARKABERITA.ID | Jakarta, 3 Maret 2026 – Situasi geopolitik global yang kian mendidih akibat blokade Selat Hormuz oleh Teheran mulai memicu alarm bahaya di Indonesia. Direktur Eksekutif Center for Budget Analysis (CBA), Uchok Sky Khadafi, memperingatkan bahwa kondisi ini bisa menjadi “mimpi buruk” bagi para petinggi sektor energi nasional jika tidak segera dimitigasi dengan langkah konkret.

​Pada akhir tahun 2025, Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Simon Aloysius Mantiri, sempat menuai apresiasi setelah berhasil mengamankan pasokan 1 juta barel minyak mentah dari Aljazair melalui kapal MT Spyros. Namun, menurut Uchok, capaian strategis tersebut kini dibayangi oleh ancaman kelangkaan yang nyata.

​Menanggapi pernyataan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia yang menyebut stok BBM nasional aman untuk 20 hari ke depan, Uchok justru melihat angka tersebut sebagai risiko besar yang memicu kecemasan publik.

​“Tenang saja Simon Aloysius Mantiri,” sindir Uchok (3/3/2026). “Namun ingat, jika dalam 20 hari pemerintah gagal mengamankan pasokan tambahan atau harga dunia melonjak drastis, stabilitas ekonomi dan sosial kita taruhannya.”

​Uchok memprediksi bahwa kegagalan dalam menjaga ketahanan energi pasca-blokade Selat Hormuz akan memancing reaksi keras dari Presiden Prabowo Subianto. Ia bahkan melontarkan prediksi berani mengenai peta politik di kabinet:

  • ​Risiko Jabatan: Uchok menilai posisi Bahlil Lahadalia sebagai Menteri ESDM jauh lebih rentan. “Siap-siap Bahlil dicopot,” ujarnya. Sementara itu, ia memprediksi Simon Aloysius Mantiri mungkin relatif lebih aman dari rotasi jabatan.
  • ​Efek Domino: Jika distribusi terganggu, harga BBM diprediksi bisa melonjak tajam “setinggi langit Teheran,” yang secara otomatis akan menekan daya beli masyarakat serta membengkakkan beban subsidi negara.
Baca Juga  LQ Indonesia Lawfirm Tantang Raja Sapta Oktohari Ajukan 1000 Gugatan Pencemaran Nama Baik

​Selat Hormuz merupakan urat nadi energi dunia yang menyalurkan sekitar 20 persen pasokan minyak global setiap harinya. Penutupan jalur ini bukan sekadar isu internasional, melainkan ancaman langsung bagi Indonesia yang masih bergantung pada impor minyak. Gangguan di kawasan ini dipastikan akan menekan neraca perdagangan dan mengganggu stabilitas harga BBM domestik.

​Meski mendapat kritik tajam, Kementerian ESDM menyatakan telah menyiapkan skenario darurat untuk menghadapi krisis ini, di antaranya:

  1. ​Optimalisasi stok cadangan energi nasional secara menyeluruh.
  2. ​Diversifikasi sumber impor untuk mengurangi ketergantungan pada jalur Timur Tengah.
  3. ​Percepatan distribusi dari kilang-kilang minyak dalam negeri ke seluruh wilayah Indonesia.

​keterangan rilis dari CBA ini menjadi pengingat keras bagi pemerintahan Prabowo Subianto bahwa ketahanan energi nasional sedang diuji. Publik kini menunggu apakah Pertamina dan Kementerian ESDM mampu membuktikan bahwa sistem energi Indonesia cukup tangguh untuk bertahan lebih dari sekadar hitungan pekan di tengah badai geopolitik.(Red).

Baca Juga  CBA Bongkar Skandal "Pesta Meubelair" Kemenag Rp4,9 M: Kursi Menteri Setara Harga Rumah Mewah