MARKABERITA.ID | Jakarta, 9 February 2026– Di sebuah sudut hangat Tebb-Six Coffee, Jakarta Selatan, senin (9/2/26), pengamat ekonomi-politik Ichsanuddin Noorsy dan Moh Arief Pranoto membedah realitas pahit yang tengah mencekik Amerika Serikat. Di tengah bara panas geopolitik Asia Barat hingga Laut China Selatan, Washington kini tersungkur bukan oleh peluru musuh, melainkan oleh borok moralitasnya sendiri. Terbukanya dokumen Jeffrey Epstein yang menyeret nama-nama elit global ke dalam pusaran pedofilia menjadi lonceng kematian bagi legitimasi moral sang adidaya tunggal. Saat integritas “polisi dunia” ini luruh, tatanan multipolar yang dipimpin poros Rusia-China-Iran siap mengisi ruang hampa kekuasaan tersebut. Iran bahkan siap berperang untuk martabat bangsanya.
Sejarah yang Berulang
Sejarah mencatat bahwa imperium besar sering kali runtuh bukan karena invasi eksternal, melainkan pembusukan internal. Jika skandalbWatergate menjatuhkan Nixon dan skandal Monica Lewinsky mencoreng Clinton, maka kasus Jeffrey Epstein adalah hantaman telak yang melampaui sekadar urusan ranjang. Ini adalah potret busuknya oligarki politik, militer, dan finansial Barat.
Hilangnya memo penuntutan Epstein dari Departemen Kehakiman AS (US DOJ) secara misterius pada Februari 2026 kian menguatkan dugaan adanya konspirasi untuk melindungi jaringan elit. Di titik ini, klaim AS sebagai penjaga kemanusiaan dan demokrasi terasa seperti lelucon di atas kuburan moral publik.
Militerisme dan Hilangnya Nurani
AS memiliki rekam jejak panjang dalam intervensi militer—mulai dari Korea, Vietnam, hingga dukungan tanpa batas pada Israel di Palestina yang kini divonis sebagai kejahatan perang oleh ICJ. Namun, ada pergeseran signifikan:
Resistensi Domestik: Publik AS, terutama kaum terpelajar, mulai melawan kebijakan luar negeri pemerintah yang dianggap standar ganda.
Represi Penguasa: Respon Washington yang mengkriminalisasi gerakan anti-Zionis dan mendeportasi aktivis menunjukkan wajah otoritarian yang selama ini mereka tuduhkan pada negara lain.
Iran dan Gagalnya Hegemoni di Asia Barat
Di kancah global, taji AS mulai tumpul. Kasus Iran menjadi bukti nyata:
Iran Bukan Target Mudah: Berbeda dengan Irak atau Afghanistan, Iran berdiri tegak dengan dukungan strategis Rusia dan China.
Kedaulatan Nuklir: Teheran secara tegas menyatakan tidak akan melepaskan hak nuklirnya, meski di bawah ancaman sanksi atau militer. Seperti juga Korea Utara, Iran memiliki Inter Continental Ballistic Missile (ICBM), ujar intelejen Barat.
Diplomasi Macet: Washington terjebak dalam “perang kata-kata” tanpa posisi tawar yang kuat. Diplomasi yang didengungkan dianggap sepihak karena AS tidak lagi mendominasi panggung ekonomi dunia.
Gamangnya Washington di Hadapan China
Sejak China memenangkan perang infustri manufaktur, teknologi informasi, dan stabilitas nilai tukar, AS terlihat gagap. Di Indo-Pasifik, AS memaksakan mekanisme multilateral yang sering kali merugikan kedaulatan negara berkembang (seperti memori pahit KMB bagi Indonesia). Sementara China lebih memilih jalur bilateral yang pragmatis.
Ketidakmampuan AS menjaga dominasi ekonomi membuat banyak negara mulai beralih ke aliansi alternatif seperti BRICS Plus.
Bom Waktu bagi Donald Trump
Bagi Donald Trump, dokumen Epstein adalah bom waktu. Menjelang kontestasi politik domestik, isu pedofilia dan jaringan hitam elit ini mengancam legitimasi moralnya sebagai POTUS ke-45 dan 47. Ketakutan akan pemakzulan dan runtuhnya modal sosial menjadi bayang-bayang kelam bagi lingkaran dalam kekuasaan Trump.
Lebih parah lagi, kebijakan _Trump Corollary_ memicu keretakan di internal NATO. Sekutu-sekutu lama mulai mempertanyakan relevansi kepemimpinan AS yang kian tidak stabil dan munafik.
AS saat ini berdiri di atas fondasi yang rapuh. Jika rujukan utama kekuasaan hanyalah materialisme dan mengabaikan nurani serta kesepakstan global, maka kehancuran hanyalah soal waktu. Dokumen Epstein bukan sekadar skandal seks; ia adalah simbol busuknya sebuah imperium yang telah kehilangan kompas moralnya. Sebagaimana hukum alam, kehidupan yang membusuk akan mati dan terkubur, menyisakan ruang bagi sejarah baru untuk tumbuh.(Red).


