CITY OF LONDON: Imperium Lama Pengendali Dunia (Bagian 1)

Oleh: Ichsanuddin Noorsy dan M. Arief Pranoto

Internasional288 Dilihat

​MARKABERITA.ID | Jakarta, 16 Februari 2026 – Ia bukanlah London yang dikenal publik sebagai Ibu Kota Inggris Raya. Lupakan sejenak Istana Buckingham atau Gedung Parlemen. Jika ingin memahami bagaimana tali-temali kekuasaan lama berkelindan dengan kekuasaan modern, arahkan pandangan ke satu wilayah kecil seluas 2,9 km² di jantung London, tepat di tepi Sungai Thames. Itulah: City of London (CoL).

​Wilayah ini lebih tua dari negara Inggris modern. Di sinilah Londinium—nama Latin kuno untuk Kota London—berdiri hampir dua milenium lalu. Batas wilayahnya nyaris tak berubah sejak Abad Pertengahan, begitu pula sistem pemerintahannya yang memiliki otoritas sendiri.

​City of London Corporation dipimpin oleh Lord Mayor of London, sebuah jabatan yang umurnya melampaui banyak konstitusi di dunia. CoL memiliki kepolisian sendiri dan tradisi pemilihan yang unik, di mana dunia usaha (korporasi) memiliki suara formal. Bagi sebagian pihak, ini adalah anomali demokrasi; namun bagi yang lain, inilah warisan sejarah yang bertahan karena struktur fundamentalnya yang memengaruhi gereja dan negara hingga kini.

Baca Juga  PBB Sahkan Aturan Baru: Driver dan Kurir Online Kini Resmi Bukan 'Mitra'

Di Sini, Uang Tak Pernah Tidur

​Secara struktural, CoL adalah perancang sekaligus “imperium lama” dunia keuangan. Elit-elit CoL berperan mengatur perbankan dunia, trust fund, perusahaan cangkang (shell companies), serta menentukan esensi ketentuan hukum global. Mereka beroperasi melalui individu berpengaruh di institusi strategis.

​CoL juga menjadi pusat kendali bagi wilayah offshore seperti Cayman Islands, Jersey, Guernsey, dan British Virgin Islands. Sejalan dengan terkuaknya Dokumen Epstein, jaringan elit finansial, aristokrat, dan perantara kekuasaan global di atmosfer CoL mulai tercatat sebagai bagian dari jaringan tersebut.

​Pergeseran Kuasa: CoL, Washington, dan Tel Aviv

​Delapan puluh tahun lalu, kemenangan AS pada Perang Dunia II “memaksa” CoL menyerahkan sebagian kuasanya kepada imperium baru: Washington, melalui Kesepakatan Bretton Woods 1944. Namun, praktiknya tetap menunjukkan pembagian peran strategis, terutama yang berkaitan dengan Deklarasi Balfour 1917 dan pendirian Israel pada 1948.

​Melihat CoL dan Washington (dengan operasionalisasi keuangan di New York), kita tidak bisa mengabaikan eksistensi Tel Aviv. Dalam perspektif ini, peran keluarga Rothschild pada Bank of England dan keluarga Rockefeller pada Federal Reserve menjadi krusial.

Baca Juga  Polri Pamerkan Lukisan Para Penyandang Disabiltas di Bandara Soetta, Ketum PPDI Berikan Apresiasi

​Kajian seperti ini sering kali dicap sebagai “teori konspirasi” oleh akademisi berkiblat Barat. Namun, vonis tersebut sejatinya menutup realitas kekuasaan financial-military industrial complex di panggung global, termasuk jejaring NGO internasional (WEF, NED, filantropi) serta individu di lembaga multilateral (BIS, Bank Dunia, IMF, WTO, WHO). Jejaring ini memastikan kebijakan strategis imperium tetap berjalan sesuai desain.

​Titik Temu Epstein dan “Square Mile”

​Jeffrey Epstein muncul sebagai simpul geopolitik yang menjadi perantara berbagai jaringan; penghubung uang, seks, dan intelijen. Saat nama CoL mencuat dalam dokumen tersebut, terbukti adanya titik temu antara uang AS, struktur Inggris, dan intelijen lintas negara.

  • ​CoL atau yang dijuluki “Square Mile” bukanlah kota biasa:
  • Pasar Valuta Asing: Terbesar di dunia.
  • ​Institusi Raksasa: Rumah bagi bank investasi, firma hukum internasional, dan pengelola dana triliunan dolar.
  • Kekuasaan Senyap: Dihuni hanya oleh 10.000 penduduk, namun 500.000 profesional keluar-masuk setiap hari untuk mendikte arus modal global.
Baca Juga  Kilas Balik Capaian Kinerja Kejaksaan RI Sepanjang Tahun 2023

​Keputusan di sini berdampak pada nilai mata uang di Asia hingga harga komoditas di Afrika. Tanpa pidato dramatis atau kampanye, kekuasaan ini bekerja secara “senyap, mendikte, teknokratis, dan mengglobal”.

​“Negara dalam Negara” dan Ruang Abu-Abu

​Istilah “Negara dalam Negara” kerap disematkan pada CoL karena otonomi administratif kunonya. Meski secara hukum tetap bagian dari Inggris, konsentrasi kepentingan ekonomi di wilayah sempit ini menciptakan ruang abu-abu yang kompleks.

​Sebagai pusat keuangan global, London tak lepas dari skandal: manipulasi suku bunga, pencucian uang, hingga denda miliaran dolar. Struktur perusahaan lintas yurisdiksi dan instrumen keuangan yang rumit membuat pengawasan publik tidak pernah sederhana.

​Lagi-lagi digugat, apakah ini konspirasi? Ataukah sistem yang memang dirancang sulit dipahami sehingga mudah dicurigai?
​Mari kita telisik lebih lanjut pada bagian berikutnya.(Red).