Jakarta Terkepung Banjir, Barisan Jakarta: Kepercayaan Diri Kadis SDA Berujung Kegagalan Nyata

Megapolitan203 Dilihat

​Markaberita.id | Jakarta, 12 Januari 2026 – Ibu Kota kembali lumpuh akibat banjir yang merata di sejumlah wilayah hari ini. Menanggapi situasi tersebut, kelompok masyarakat Barisan Jakarta melontarkan kritik tajam kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, khususnya Dinas Sumber Daya Air (SDA), yang dinilai gagal mengantisipasi dampak musim hujan meski telah didukung anggaran triliunan rupiah.

​Kondisi Jakarta yang kembali terendam dengan ketinggian air bervariasi tidak hanya melumpuhkan aktivitas warga, tetapi juga memicu kemacetan parah di titik-titik vital. Barisan Jakarta menilai bencana ini merupakan buah dari sikap “terlalu percaya diri” (overconfident) jajaran pimpinan Dinas SDA yang tidak dibarengi dengan mitigasi yang mumpuni.

Baca Juga  Perkuat Sinergi Budaya, Poros Pemuda Minang Usul Perubahan Nama Halte Matraman Menjadi Halte Balairung

​Barisan Jakarta menyoroti adanya kesenjangan lebar antara narasi kesiapan yang kerap disampaikan ke publik dengan realita di lapangan.

​“Ini bukan hujan luar biasa, ini adalah kegagalan luar biasa. Kadis SDA terlalu percaya diri, namun faktanya Jakarta tetap tenggelam. Titik banjirnya masih itu-itu saja, masalahnya tetap sama, dan warga selalu menjadi korban,” tegas Lintang Fisuma ketua umum Barisan Jakarta dalam keterangan tertulisnya (12/1).

​Lebih lanjut, Barisan Jakarta menggarisbawahi tiga poin utama penyebab kegagalan ini:

  1. ​Perencanaan yang Lemah: Program pengendalian banjir tidak menyentuh akar permasalahan di wilayah rawan.
  2. ​Minimnya Pengawasan: Proyek infrastruktur air dinilai tidak berjalan optimal secara fungsional.
  3. ​Buruknya Eksekusi: Anggaran triliunan rupiah setiap tahunnya dianggap tidak memberikan dampak signifikan (ironi anggaran).
Baca Juga  Geger Video Mie Gacoan Matraman Diserang, Begini Fakta Aslinya Kata Polisi!

​Barisan Jakarta mendesak agar Pemprov DKI berhenti menggunakan narasi “cuaca ekstrem” sebagai tameng pembenaran. Mereka menuntut adanya langkah konkret dan pertanggungjawaban pejabat terkait.

​“Jakarta tidak butuh laporan Asal Bapak Senang (ABS). Jika kepercayaan diri pejabat lebih besar daripada hasil kerja di lapangan, maka banjir akan terus menjadi agenda tahunan. Kami menuntut evaluasi total terhadap kinerja Dinas SDA dan tindakan tegas bagi pejabat yang gagal,” pungkas pernyataan tersebut.(Red).