MARKABERITA.ID | Jakarta, 22 Januari 2026 – Hujan deras pada Rabu pagi, 21 Januari 2026, tidak menyurutkan langkah Adiseno (M-207-UI) untuk menembus kemacetan Jakarta menuju rumah duka di bilangan Pramuka. Kepergian Abdurahman atau yang akrab disapa Maman “Simpay” (M-014-UI) bukan sekadar duka bagi Mapala UI, melainkan sebuah penanda berakhirnya sebuah era emas dari salah satu tonggak sejarah paling legendaris dalam dunia pencinta alam Indonesia: Musibah Semeru 1969.
Penyintas Terakhir dan Penjaga Estafet Nilai
Maman merupakan penyintas terakhir dari tragedi di Gunung Semeru yang merenggut nyawa Soe Hok Gie dan Idhan Lubis 56 tahun silam. Dengan berpulangnya Maman, seluruh jajaran pendaki legendaris yang terlibat dalam pendakian maut tersebut—termasuk Herman Lantang, Aristides Katoppo, Rudy Badil, Anton Wijayana, dan Fredy Lasut—kini telah tiada.
Dalam catatan pribadinya, Adiseno merefleksikan bahwa kehadiran sosok-sosok ini di masa lalu bukan sekadar “Urban Legend”, melainkan guru yang menanamkan nilai Egaliter Adat. Sebuah budaya setara yang meruntuhkan batasan senioritas formalitas, di mana setiap anggota dipanggil nama tanpa imbuhan “Bang” atau “Pak”, demi menjaga kedekatan batin sebagai satu tim di alam bebas.
Dari Egaliter Adat Menuju Egaliter Biologis
Tulisan ini menyoroti pergeseran budaya di dalam organisasi pencinta alam tertua di universitas tersebut. Adiseno mengenang bagaimana dahulu kesetaraan adalah mutlak, namun kini ia melihat gejala “kultus” atau senioritas yang kaku mulai merayap masuk.
Namun, harapan muncul melalui konsep Egaliter Biologis. Maman meninggalkan Retta Meditaria (M-651-UI), putrinya yang juga merupakan anggota Mapala UI. Fenomena ini menunjukkan bahwa Mapala UI telah berkembang dari sekadar organisasi mahasiswa menjadi sebuah “Extended Family” (keluarga besar) yang lintas generasi.
“Perginya Maman mengakhiri era menyintas musibah mengusung prestasi. Jika kuncinya adalah kekerabatan, maka tugas generasi berikutnya adalah memastikan keeratan itu tidak luntur oleh rasa malas atau ketakutan,” tulis Adiseno dalam catatannya.
Mengenang Jasa “Pelatih Tanpa Tanda Jasa”
Sosok Maman dikenang bukan hanya sebagai saksi sejarah Semeru, melainkan sebagai sosok yang murah hati membagikan ilmu dan alat pendakian kepada siapa saja, termasuk tetangga dan kerabat di luar organisasi.
Jenazahnya diantar menuju peristirahatan terakhir di Kemang, Bogor, diusung oleh para junior lintas angkatan yang terpaut ratusan nomor anggota—sebuah simbol penghormatan terakhir bagi sang “Simpay”.
Tentang Penulis:
Adiseno (M-207-UI) adalah anggota Mapala UI dan praktisi kegiatan alam bebas yang aktif mendokumentasikan sejarah dan dinamika organisasi pencinta alam di Indonesia.(Red).






