Paradoks Kedaulatan: Membangun Megastruktur, Mengunci Pintu Kemanusiaan?

Nasional339 Dilihat

​Markaberita.id | Minggu, 21 Desember 2025 – Indonesia saat ini sedang berada dalam persimpangan logika yang membingungkan. Di satu podium, kita merayakan pencapaian infrastruktur yang menembus langit sebagai bukti kemajuan peradaban. Namun di podium lain, kita menyaksikan keheningan yang menyesakkan saat bencana merenggut nyawa warga. Kontras ini memicu pertanyaan kritis: benarkah pembangunan kita saat ini sedang memuliakan manusia, atau justru sedang membangun monumen di atas pengabaian hak dasar rakyat?

​Pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) dan deretan Proyek Strategis Nasional (PSN) menjadi bukti betapa lenturnya kita terhadap keterlibatan asing. Atas nama percepatan ekonomi, karpet merah digelar bagi modal dan teknologi mancanegara. Kita menerima mereka sebagai “mitra strategis” dalam mencetak beton dan baja.

Baca Juga  KPK Gelar Operasi Senyap, Bupati Muara Enim Edison Terjaring OTT di Jakarta dan Sumsel

​Namun, sikap ini berbalik 180 derajat saat urusan kemanusiaan mendesak di daerah bencana. Tiba-tiba saja, tembok “harga diri bangsa” dibangun tinggi-tinggi untuk menolak bantuan internasional. Mengapa kita begitu terbuka pada asing untuk membangun gedung, namun mendadak menutup diri saat rakyat butuh pertolongan darurat?

​Satu kekhawatiran terbesar dalam model pembangunan saat ini adalah melemahnya taring negara di hadapan entitas bisnis. Jangan biarkan atas nama akrab dengan investasi, korporasi meminimalkan status dan peranan negara. Ketika fungsi kontrol dan perlindungan negara melunak demi menyenangkan investor, maka yang terjadi adalah penggusuran ruang hidup. Akibatnya, rakyat tersingkir, terpinggir, dan melintir menghadapi hidup yang getir. Pembangunan yang seharusnya menjadi solusi, justru menjadi mesin alienasi yang menjauhkan rakyat dari tanah dan hak-hak dasarnya.

Baca Juga  Dicap 'Barbar' oleh Abu Janda, Tokoh Pemuda Minang: Jangan Cuma Berani di Medsos, Ayo Naik Ring!

​Sudah saatnya kita bertransformasi dari model pembangunan yang ekstraktif menuju pembangunan yang menata kreativitas. Pembangunan sejati tidak boleh menjadi kesinambungan dari praktik keserakahan yang dibungkus dengan jargon modernitas.

  • ​Kedaulatan Bukan Isolasi: Menerima bantuan kemanusiaan global bukanlah kekalahan kedaulatan, melainkan manifestasi dari solidaritas universal.
  • ​Prioritas Nyawa di Atas Citra: Menjaga kehormatan bangsa bukan dengan membiarkan rakyat menderita demi sebuah citra kemandirian semu, melainkan dengan memastikan tidak ada satu pun nyawa yang melayang karena keterlambatan bantuan.

​Memanusiakan Pembangunan

​Markaberita.id mendesak pemerintah untuk menyelaraskan logika kebijakan. Kedaulatan sejati adalah kedaulatan yang mampu memberikan rasa aman dan perlindungan maksimal bagi warganya.

Baca Juga  Nyawa Siswa Ditukar Buku: Ichsanuddin Noorsy Bedah Anatomi "Kelumpuhan Sistem Nasional"

​Kita tidak butuh monumen megah jika di baliknya tersimpan luka warga yang menganga. Pembangunan harus memanusiakan manusia, meletakkan keselamatan publik di atas kepentingan etalase politik, dan memastikan bahwa negara tetap berdiri tegak sebagai pelindung rakyat, bukan sekadar pelayan korporasi.(Red).