JAKARTA, MARKABERITA.COM – Suhu politik di media sosial kembali memanas. Kali ini, pegiat media sosial Permadi Arya atau Abu Janda menuai kecaman hebat dari tokoh muda Minangkabau. Penyebabnya, Abu Janda melontarkan diksi “barbar” saat menyinggung masyarakat Minang, sebuah label yang dianggap menghina martabat dan kultur etnis yang menjunjung tinggi tata krama tersebut.
Ketua Umum Forum Pemuda Peduli Jakarta, Endriansyah, secara terbuka melayangkan protes keras. Baginya, melabeli masyarakat Minang sebagai kelompok “barbar” adalah bentuk serangan yang tidak berdasar dan melukai hati masyarakat luas. Ia menilai Abu Janda telah melampaui batas dengan menjadikan sentimen etnis sebagai komoditas opini yang provokatif.
”Kata ‘barbar’ dalam KBBI memiliki konotasi negatif yang sangat dalam, yakni tidak beradab dan kejam. Mengaitkan ini dengan masyarakat Minang adalah bentuk penghinaan yang nyata. Abu Janda perlu ingat, etika berpendapat tidak memberikan ruang bagi siapa pun untuk merendahkan identitas suku atau budaya orang lain,” tegas Ryan kepada awak media, Jumat (29/5/2026).
Ryan tidak ingin sekadar membalas umpatan di kolom komentar. Sebagai bentuk keseriusan dalam membela harga diri masyarakat Minang, ia menantang Abu Janda untuk berduel secara sportif di atas ring tinju. Menurut Ryan, tantangan ini adalah bentuk “tabayun” fisik bagi mereka yang hanya berani berkoar di balik layar ponsel.
”Ini soal keberanian. Kalau merasa benar dan merasa kuat, jangan cuma berani berkoar di media sosial. Saya tantang Abu Janda untuk tabayun langsung di atas ring tinju. Kita selesaikan secara laki-laki dengan aturan yang profesional. Biar publik tahu, siapa yang sebenarnya beradab dan siapa yang justru berperilaku barbar,” tantangnya.
Ryan bahkan menyatakan kesiapannya untuk berkomunikasi dengan promotor olahraga hiburan seperti Holywings Sport Show (HSS) atau Superstar Knockout untuk memfasilitasi duel tersebut. Ia menekankan bahwa tantangan ini adalah bentuk edukasi agar para influencer tidak lagi seenaknya melabeli kelompok masyarakat dengan stereotip kasar.
Di sisi lain, polemik ini memantik perdebatan di ruang publik. Sejumlah pengamat komunikasi memperingatkan bahwa narasi bernada stereotip etnis di media sosial adalah pemicu konflik sosial yang berbahaya. Kebebasan berpendapat, menurut pengamat, harus dibarengi dengan tanggung jawab moral agar tidak memperlebar polarisasi di tengah masyarakat.
Menutup pernyataannya, Ryan memberikan pesan pamungkas bagi seluruh figur publik di Indonesia. Ia mengajak semua pihak untuk lebih bijak dalam bertutur dan menghargai keberagaman. “Indonesia ini rumah besar bagi banyak suku. Jangan merasa paling hebat lalu menghina orang lain. Kalau mau keras, ayo keras secara sportif. Jangan cuma kuat di status media sosial saja,” tutupnya.
Hingga berita ini ditulis, pihak Abu Janda belum memberikan respons resmi atas tantangan terbuka yang dilayangkan oleh Ketua Umum Forum Pemuda Peduli Jakarta tersebut.(Red).






