TRANS 7 Menabur SARA, Gendang Perang Ditabuh! Habib Salim Jindan: Segera Datangi Lirboyo, Pelajari Budi Pekerti Kiai Sepuh, Atau Siap Ditutup!

Nasional1701 Dilihat

Markaberita.id | ​Jakarta, 15 Oktober 2025 — Kontroversi tajam yang dipicu oleh tayangan program Xpose di Trans7 telah memicu kemarahan yang meluas di seluruh Indonesia, dari kalangan ulama, Habaib, hingga jutaan santri. Program tersebut dinilai bukan hanya gagal etika, tetapi telah secara sengaja atau tidak sengaja mencederai martabat luhur institusi pesantren dan kehormatan para Kiai sepuh.

​Menanggapi gelombang kemarahan publik santri yang memuncak, Habib Salim Jindan, Pimpinan Majelis Ta’lim Al Habib Salim bin Ahmad bin Jindan, mengeluarkan kecaman yang sangat keras. Beliau mendesak manajemen Trans7 untuk segera melakukan permintaan maaf yang tulus, dengan kadar yang setara dengan penghinaan yang telah ditimbulkan.

​Habib Salim Jindan secara khusus menyoroti dugaan pelecehan yang ditujukan kepada KH. Anwar Manshur, Kiai sepuh Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, yang merupakan figur sentral dan panutan jutaan santri.

Baca Juga  Padepokan Hukum Indonesia Minta Menteri ESDM Hentikan Intervensi Internal PLN EPI

​“Kami sangat terkejut dan marah atas tayangan yang merendahkan martabat institusi suci seperti pesantren. Trans7 tidak cukup hanya meminta maaf tertulis di udara atau media sosial. Kami menuntut manajemen Trans7 datang langsung ke Pondok Pesantren Lirboyo, menghadap Kiai sepuh di sana, dan meminta maaf secara face-to-face. Mereka harus menunjukkan penyesalan mendalam atas kekhilafan yang telah melukai guru bangsa dan menodai kehormatan pesantren,” tegas Habib Salim Jindan, pada Selasa (14/10/2025).

​I. Pelecehan Pesantren: Tindakan Kriminal SARA

​Habib Salim Jindan menegaskan bahwa melecehkan ulama dan lembaga pendidikan agama, khususnya pesantren, adalah TINDAKAN KRIMINAL yang secara gamblang masuk dalam kategori SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan) dan wajib diproses secara hukum di NKRI.

Baca Juga  Antisipasi Dampak Konflik Timur Tengah, Serikat Pekerja BUMN Bersatu Kawal Stabilitas Logistik Nasional di Pelindo

​“Jika Trans7 ingin benar-benar berkontribusi positif, hadirkan tayangan yang mengedukasi masyarakat tentang jasa-jasa pesantren. Jangan pernah lagi memotong, memanipulasi, atau membingkai kehidupan santri dan ulama hanya untuk sensasi murahan. Pesantren itu warisan luhur yang wajib dihormati, bukan objek komedi atau bahan ghibah yang merendahkan,” lanjutnya.

​Tuntutan Keadilan dan Seruan kepada Pemerintah

​Habib Salim Jindan menyayangkan ketiadaan respons tegas dari lembaga negara yang berwenang:

​“Kemana Lembaga Penyiaran? Kemana Kementerian Agama? Kemana Kominfo? Jangan tutup mata! Kelambanan institusi ini dalam menyikapi pelecehan ini hanya akan memperkeruh suasana dan menabuh gendang perang dengan umat Islam. Saya meminta kepada Presiden RI, Bapak Prabowo, untuk turun tangan serius menangani kasus ini dan berpihak pada rakyat. Jika negara gagal melindungi kehormatan ulama, maka jangan salahkan kami jika kami menuntut agar Trans7 DITUTUP!” seru beliau.

Baca Juga  Dugaan Mark-Up Sepatu Sekolah Rakyat Jatim: Harga Selangit, CBA Desak Kejagung Turun Tangan

​II. Dukungan Penuh Boikot: Sikap Moral Kolektif

​Menanggapi masifnya gerakan boikot yang disuarakan oleh para santri dan alumni pesantren di berbagai daerah, Habib Salim Jindan menyatakan dukungan penuh. Menurutnya, boikot adalah bentuk aspirasi moral yang sah dan alat penolakan keras dari masyarakat yang merasa nilai-nilai keagamaannya telah dilecehkan.

​“Ini adalah sikap moral kolektif. Kami mendukung penuh langkah boikot oleh para santri hingga Trans7 memenuhi tuntutan untuk meminta maaf secara tulus di Lirboyo. Kami berharap ini menjadi pelajaran berharga bagi seluruh media massa di Indonesia untuk tidak lagi bermain-main dengan kehormatan ulama dan institusi pendidikan Islam,” pungkas beliau.(Red).