Markaberita.id | Jakarta, 14 Oktober 2025 — Uji coba perdana “Night at the Ragunan Zoo” sukses besar dengan menarik 3.708 hingga 3.713 pengunjung. Lonjakan minat ini disambut gembira oleh Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung Wibowo, yang segera memprioritaskan penyelesaian masalah parkir.
“Saya sudah mendapatkan laporan bahwa minat masyarakat itu luar biasa, di luar dugaan. Hari pertama saja sudah terjadi antrean panjang. Karena itu, penanganan parkir dalam jangka menengah dan panjang di Ragunan sudah harus menjadi prioritas utama,” ujar Pramono di Kebayoran Lama Utara, Jakarta Selatan, Senin (13/10/2025).
Respons cepat Gubernur terhadap isu parkir menunjukkan kesigapan manajerial. Namun, bagi Forum Kekeluargaan Relawan Pemuda Nusantara (FK REPNUS), fokus kritisnya adalah: Taman Margasatwa Ragunan (TMR) adalah lembaga Konservasi, Edukasi, dan Penelitian. Mandat utamanya adalah Kesejahteraan Satwa, bukan peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) sebagai prioritas utama. Program wisata malam yang spekulatif ini harus segera dihentikan dari logika komersial murni dan dikembalikan ke dalam kerangka etika konservasi yang ketat.
I. Konservasi di Atas Komersialisasi: Tuntutan Kritis Berbasis Sains
1. Klaim “Tidak Stres” Harus Didukung Data Ilmiah
Pernyataan dari staf khusus Gubernur yang mengklaim satwa “tidak stres” adalah klaim prematur dan tidak didukung data ilmiah yang sahih. Kesejahteraan satwa adalah isu biologis mendalam yang melibatkan analisis stres hormonal (kortisol) dan perubahan pola perilaku (etogram), bukan sekadar observasi kasat mata publik.
Tuntutan Konkret: TMR harus menghentikan klaim verbal dan segera memublikasikan data ilmiah yang membuktikan kepatuhan etika konservasi:
- Kadar Kortisol: Publikasi data fluktuasi hormon stres pada koleksi satwa diurnal (aktif siang) seperti Harimau dan Kuda Nil, sebelum, saat, dan sesudah operasional malam.
- Etogram: Publikasi data pemantauan pola istirahat untuk membuktikan bahwa kebisingan dan cahaya buatan minimal tidak mengganggu fase tidur penting satwa.
2. Ancaman Nyata terhadap Siklus Gelap Total Satwa
Setiap satwa, terutama yang diurnal, sangat bergantung pada siklus gelap total untuk regulasi hormonal dan ritme sirkadian. Kehadiran publik dan segala bentuk disturbance (cahaya buatan, suara, getaran) di malam hari berpotensi merusak ritme tersebut. Gangguan tidur kronis ini secara fundamental bertentangan dengan prinsip kesejahteraan satwa dan mandat konservasi TMR.
Faisal Nasution, Ketua Umum Forum Kekeluargaan Relawan Pemuda Nusantara (FK REPNUS), menegaskan pentingnya etika ini. “Kami mendukung inovasi, tapi tidak dengan mengorbankan nyawa dan kesejahteraan satwa. Ragunan harus ingat, mereka adalah fasilitas konservasi beretika, bukan theme park semata. Eksperimen bisnis yang berpotensi menyiksa satwa hanya demi mengejar PAD harus dihentikan dan dievaluasi ulang secara total,” ujar Faisal.
3. Transparansi Institusional sebagai Jaminan Etika
Keputusan strategis terkait operasional malam harus dipertanggungjawabkan oleh Kepala Konservasi dan tim Dokter Hewan TMR. Tanpa data ilmiah yang transparan dan dapat diverifikasi, publik akan menganggap TMR telah memprioritaskan potensi pendapatan di atas mandat konservasi yang diamanatkan.
II. Isu Infrastruktur dan Ekonomi (Dukungan Manajerial)
Meskipun konservasi adalah yang utama, perbaikan manajerial yang cepat juga krusial bagi keberlanjutan program:
- Parkir: Solusi Cepat Mendesak. Prioritas Gubernur pada elevated parking adalah langkah jangka panjang yang baik, namun TMR membutuhkan solusi jangka pendek yang efektif (kerja sama lahan parkir luar dan shuttle bus) untuk segera mengatasi lonjakan pengunjung.
- Transportasi Internal: Isu Keterjangkauan. Layanan e-car (5 orang) dengan tarif Rp250.000 per jam tergolong mahal. Jika tujuan wisata malam adalah untuk publik yang lebih luas, tarif harus dikaji ulang menjadi lebih terjangkau per orang atau per rute.
- Frekuensi Operasional dan Konsistensi Evaluasi. Keputusan mempertahankan frekuensi setiap Sabtu malam adalah bijak. Program hanya boleh dilanjutkan secara permanen setelah semua pembenahan infrastruktur selesai dan, yang terpenting, hasil audit konservasi (data kortisol, etogram) menunjukkan hasil yang aman dan stabil.
Kesimpulan dan Tuntutan Mendesak
Pusat konservasi tidak boleh menjalankan eksperimen etika tanpa dasar ilmiah. Tuntutan untuk Pendapatan Asli Daerah (PAD) tidak boleh menjadi alasan untuk mengorbankan kesejahteraan satwa yang menjadi aset konservasi negara.
Tuntutan Mendesak kepada Pemprov DKI Jakarta:
- Hentikan Klaim dan Segera Transparan: Hentikan klaim non-ilmiah. Program wisata malam harus disikapi sebagai risiko etika yang hanya boleh dilanjutkan jika didukung oleh laporan audit konservasi yang terverifikasi dan dipublikasikan, khususnya data Kadar Kortisol pada satwa diurnal.
- Selesaikan Infrastruktur Jangka Pendek: Implementasikan solusi parkir dan transportasi internal yang inklusif dan terjangkau sebelum memperluas program secara ambisius.
Tanpa data ilmiah yang kuat, program wisata malam Ragunan berisiko mengkhianati mandatnya sebagai lembaga konservasi dan mengarah pada eksploitasi satwa. (Red)



