Markaberita.id | Jakarta, 11 Oktober 2025 — Realitas geopolitik yang bergerak menuju kekuatan multipolar menuntut perusahaan vital negara bertransformasi secara cepat. Namun, Pertamina, sebagai pilar energi nasional, justru menampilkan postur yang jauh dari ideal.
Menurut Direktur Eksekutif Gerakan Kedaulatan Energi (GAKI), Feko Supriyadi, Pertamina selama dua periode rezim Joko Widodo disajikan kepada publik dengan kondisi “obesitas struktural” yang akut, menghambat kemampuan intinya.
”Data menunjukkan, sebelum restrukturisasi dilakukan, Pertamina tercatat memiliki 142 anak cucu perusahaan yang melebar ke sektor non-inti, mulai dari perhotelan, asuransi, maskapai penerbangan, hingga rumah sakit,” ungkap Feko Supriyadi.
Feko menegaskan bahwa postur yang terlampau gemuk ini merupakan salah satu penyebab fundamental atas kegagalan Pertamina.
”Wajar jika kita menyaksikan anomali: selama satu dekade, Pertamina belum mampu membangun kilang minyak baru. Akibatnya, ketergantungan impor minyak mentah dan produk BBM tetap tinggi. Jika konsumsi minyak harian Indonesia sekitar 1,6 juta barel sementara produksi hanya sekitar 600.000 barel per hari, maka defisit besar harus ditutup impor. Dengan asumsi kebutuhan impor minyak dan BBM mencapai 1 juta barel per hari, dan harga minyak di kisaran $70 per barel, Indonesia harus merogoh kocek lebih dari Rp 513 Miliar per hari untuk impor,” tegas Feko, merinci dampak finansial yang membebani keuangan negara.
Jalan Keluar: Reintegrasi dan Transformasi Total
Mengacu pada kebutuhan geoekonomi masa depan dan komitmen Presiden Prabowo Subianto, Feko Supriyadi mendesak Pertamina untuk segera melakukan penyembuhan penyakit struktural melalui dua langkah utama:
- Reintegrasi Struktural: Mengembalikan struktur Pertamina menjadi satu kesatuan yang terpadu dari hulu, hilir, gas, EBT, hingga infrastruktur, menghilangkan duplikasi biaya dan birokrasi yang timbul dari banyaknya anak usaha non-inti.
- Transformasi Sistem: Menciptakan sistem tata kelola energi yang mendukung transparansi dan akuntabilitas, fundamental untuk kultur perusahaan yang bersih dan efektif.
GAKI menyambut baik janji Direktur Utama Pertamina, Simon Aloysius Mantiri, untuk merampingkan struktur perusahaan pada akhir 2025. “Namun, target ini harus direalisasikan sebagai langkah strategis untuk Meningkatkan efisiensi, Memperkuat kendali negara atas aset strategis energi, dan Mempercepat pengambilan keputusan, bukan sekadar kosmetik,” ujar Feko.
Musuh Bersama: Mafia Migas
Di akhir pernyataannya, Feko Supriyadi menekankan bahwa semua formula perbaikan akan sia-sia jika satu variabel utama terlewat: “Musuh Bersama”.
”Gerakan Kedaulatan Energi mendesak Pertamina untuk benar-benar berpihak pada kepentingan rakyat dan bukan pada segelintir MAFIA MIGAS yang selama ini mengambil keuntungan dari inefisiensi dan ketergantungan impor kronis,” tutup Feko Supriyadi.(Red).






