Hari Demokrasi Internasional: Nge-Vlog Bareng Demokrasi, Biar Gak Kena “Bego-Begoan”!

Nasional925 Dilihat

​Markaberita.id | Editotial 15 September 2205 – ​15 September. Ingat tanggal ini, karena hari ini adalah Hari Demokrasi Internasional. Kalau disederhanakan, ini adalah hari di mana kita diingatkan bahwa negara ini, dan banyak negara lain di dunia, dikelola bareng-bareng. Bukan cuma sama presiden atau anggota DPR, tapi juga sama kita, rakyatnya.

​Tapi, jujur saja, ngomongin “demokrasi” kadang terasa berat, ya? Penuh teori, jargon, dan bikin ngantuk. Padahal, di era sekarang, demokrasi itu sudah masuk ke kehidupan kita sehari-hari, bahkan sampai ke layar HP kita. Ya, kita lagi di era “demokrasi digital”.

​Lapor! Status Literasi Kita Naik, Tapi Masih Ada “Hoaks Monster”

​Berdasarkan data dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), Indeks Literasi Digital Indonesia pada tahun 2024 mencapai skor 3.78 dari skala 5. Angka ini menunjukkan peningkatan yang menggembirakan. Artinya, kita makin melek digital. Makin banyak yang tahu cara pakai internet, belanja online, dan tentunya, nge-vlog!

Baca Juga  Prabowo Sentil Penolak MBG: Tak Ada yang Lebih Mendesak dari Perut Lapar

​Tapi, di balik skor yang naik itu, ada “monster” yang siap menerkam: HOAKS dan DISINFORMASI. Anggap saja ini seperti musuh utama kita dalam bermain game demokrasi. Menurut berbagai survei, penyebaran berita bohong menjadi salah satu tantangan terbesar bagi partisipasi politik yang sehat. Kenapa? Karena hoaks membuat kita gampang terprovokasi, memicu konflik, dan bikin kita percaya pada informasi yang menyesatkan.

​Generasi Z dan “Jari Partisipasi” yang Kuat

​Di sisi lain, ada kabar baik! Generasi Z dan milenial, yang sering dicap apatis, justru menunjukkan tren partisipasi politik yang unik dan kuat. Mereka tidak lagi hanya menunggu di bilik suara. Mereka berpartisipasi lewat “jari-jari” mereka.

  • ​Lapor via Media Sosial: Ada masalah jalan rusak? Keluhan soal pelayanan publik? Mereka langsung foto, bikin video TikTok atau Instagram Reels, lalu viral. Voila! Masalah bisa jadi perhatian publik.
  • ​Diskusi di Platform Digital: Mereka berdebat tentang kebijakan, mengkritisi pemerintah, dan menggalang petisi online. Platform seperti X (Twitter) dan Reddit menjadi “majelis rakyat” virtual yang tak pernah tidur.
  • ​Kampanye Kreatif: Kampanye pemilu tidak lagi melulu soal spanduk. Kini ada meme, konten edukasi yang ringan, dan video-video kreatif yang menjelaskan isu-isu politik dengan bahasa yang lebih mudah dicerna.
Baca Juga  LQ Indonesia Lawfirm: Era Mafia Hukum di Indonesia, Masyarakat Butuh Lawyer Bersih dan Berani Vokal

​Ini adalah bentuk partisipasi yang relevan dan efisien.

​Yuk, Bikin Demokrasi Kita Jadi Konten!

​Hari Demokrasi Internasional ini bukan cuma soal perayaan, tapi juga panggilan untuk beraksi. Mari kita ubah “newstaiment” (berita yang dikemas menghibur) menjadi “newstainment” yang mengedukasi.

  • ​Jadi “Fact-Checker” Pribadi: Sebelum like, share, atau comment, berhentilah sejenak. Tanyakan: “Benar nggak, sih?” Jika ragu, cari sumber lain. Jangan biarkan jempolmu jadi penyebar hoaks.
  • ​Buat Konten Positif: Alih-alih menyebarkan kebencian, coba bikin konten yang mengedukasi tentang pentingnya memilih, cara mengawasi jalannya pemerintahan, atau bahkan ide-ide kreatif untuk memecahkan masalah di sekitar kita.
  • ​Makin Pintar, Makin Keren: Literasi digital bukan sekadar kemampuan teknis. Ini soal kemampuan berpikir kritis dan berempati. Semakin kita pintar memilah informasi, semakin keren pula partisipasi kita dalam membangun bangsa.
Baca Juga  Niat Hati Cari Sehat Lewat MBG, 777 Siswa dan Guru SMAN 1 Lasem Malah Masuk IGD Massal!

​Demokrasi adalah proyek bersama yang tidak pernah selesai. Di era yang serba digital ini, mari kita buktikan bahwa partisipasi kita tidak hanya sebatas double tap atau share, melainkan aksi nyata yang cerdas, kritis, dan konstruktif.(Red).