Markaberita.id | Jakarta, 30 Agustus 2025 – Di tengah riuhnya demonstrasi yang mengguncang Jakarta sejak 25 Agustus 2025, ada satu suara penting yang menggema dari kalangan anak muda. M. Luthfi Arwien, Wakil Ketua Karang Taruna DKI Jakarta, yang memilih jalur persuasif untuk menenangkan suasana.
Alih-alih menyulut api, ia mengajak para pemuda untuk berpikir jernih. “Aspirasi politik boleh, tapi jangan sampai berubah jadi anarki!” serunya, mengingatkan kita pada pelajaran sejarah bahwa perjuangan pahlawan demokrasi selalu mengedepankan akal sehat, bukan merusak.
Dalam pesan yang dibalut nuansa persahabatan, pria yang akrab disapa MLA ini menekankan pentingnya melindungi sesama. “Tolong banget, kita lindungi kaum minoritas, saudara kita dari agama lain, dan orang-orang yang sedang berbisnis. Jangan ada penjarahan,” katanya. Ini bukan sekadar imbauan, tapi sebuah pengingat bahwa tindakan kita di jalanan punya dampak langsung pada kehidupan orang lain dan ekonomi bangsa.
MLA juga mengajak kita semua menjadi “superhero” bagi Jakarta. “Bantu gubernur untuk menjaga Jakarta. Kita jaga fasilitas umum, kita jaga Jakarta dan bangsa ini demi Indonesia yang lebih baik,” tambahnya. Pesan ini seolah mengajak kita bergabung dalam sebuah misi besar: #JagaJakarta.
Fakta di Balik Aksi: Dari Aspirasi Hingga Kerusakan
Sayangnya, pesan damai ini belum sepenuhnya didengarkan. Situasi Jumat malam lalu menyisakan pemandangan yang memilukan. Ibarat sebuah film aksi, adegan demi adegan kerusakan terekam jelas di berbagai sudut kota:
- Halte TransJakarta: Puluhan halte hancur, enam di antaranya hangus terbakar. Halte yang seharusnya menjadi tempat transit ribuan warga kini menjadi saksi bisu amarah massa.
- Kerugian Raksasa: Stasiun MRT Istora Mandiri tak luput dari sasaran. Kerusakan ditaksir mencapai Rp2,9 miliar—jumlah yang bisa digunakan untuk membangun sekolah atau fasilitas publik lain yang bermanfaat.
- Dampak Ekonomi: Untuk menghindari penjarahan, pusat perbelanjaan ternama seperti Atrium Senen dan Plaza Senayan terpaksa menutup pintunya lebih awal. Sebuah kerugian besar bagi para pedagang dan pekerja.
Di tengah puing-puing, para “pahlawan” kebersihan dari Dinas Bina Marga dan aparat TNI-Polri langsung bergerak cepat. Mereka berjuang mengembalikan senyum kota, membersihkan sisa-sisa amarah yang merugikan.
Pesan dari MLA ini menjadi penutup yang menyentuh, “Jaga kesehatan, keselamatan, dan jaga keamanan selalu untuk para pejuang demokrasi.” Sebuah pengingat bahwa tujuan mulia harus dicapai dengan cara yang mulia pula, tanpa mengorbankan diri sendiri atau orang lain.(Red).






