Markaberita.id |Jakarta,13 Agustus 2025 – Dalam sebuah diskusi yang menggugah di Rasil TV dengan judul: ” Kemiskinan Harga Diri“, pengamat ekonomi terkemuka, Ichsanuddin Noorsy, mengajak publik untuk mencermati isu-isu yang tak banyak dibicarakan, tetapi krusial bagi masa depan bangsa. Dengan analisis yang tajam dan lugas, ia memaparkan krisis yang tersembunyi di balik angka-angka optimistis pemerintah.
Geopolitik dan Perang Hibrida Global: Sinyal Bahaya yang Meluas
Diskusi dimulai dengan isu Palestina yang dinilai Ichsanuddin sebagai cerminan dari agenda global yang lebih besar. Menurutnya, niat Israel untuk “membersihkan Gaza” bukan hanya soal perebutan wilayah, melainkan terkait dengan penguasaan sumber daya alam dan dorongan motif keagamaan. Ia menyoroti fenomena ketahanan Hamas sebagai kekuatan spiritual dan secara tegas menolak gagasan relokasi warga Palestina ke Pulau Galang, yang dianggapnya sebagai pembenaran atas penjajahan.
Lebih lanjut, Noorsy menggambarkan situasi global saat ini sebagai “perang hibrida” atau Perang Dunia III. Perang ini tidak hanya terjadi di medan tempur, tetapi juga dalam bentuk perang dagang, mata uang, dan semikonduktor, yang dipicu oleh rivalitas Amerika Serikat dan Tiongkok. Menurutnya, konflik-konflik ini adalah dampak langsung dari sistem kapitalisme yang ia sebut sebagai akar penderitaan dan ketidakadilan global.
Ekonomi Indonesia: Antara Pertumbuhan Semu dan Jeratan Utang
Beranjak ke isu nasional, Ichsanuddin Noorsy secara tajam mempertanyakan klaim pertumbuhan ekonomi sebesar 5,12%. Menurutnya, angka tersebut tidak lebih dari ilusi. Angka itu terasa semu dan kosong karena tidak sejalan dengan realitas di lapangan: lesunya investasi dan daya beli masyarakat yang kian melemah. Hal ini menimbulkan pertanyaan, “Siapa sebenarnya yang menikmati pertumbuhan ini?”
Lebih jauh, ia menyoroti ketergantungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pada pajak yang begitu tinggi, mencapai 82%. Kondisi ini, kata Ichsanuddin Noorsy, menunjukkan bahwa negara sedang kebingungan mencari sumber pendapatan lain, bahkan sampai memunculkan ide-ide kontroversial, seperti wacana memajaki kiriman pesan dan transfer uang.
”Ini seperti gali lubang, tutup lubang,” ujarnya dengan nada kritis. “Masyarakat sadar bahwa APBN bersandar pada pajak, sementara utang luar negeri terus meningkat dan membebani.”
Situasi ini, menurutnya, menciptakan sebuah lingkaran setan. Pemerintah mengambil utang baru untuk menutupi utang lama, yang pada akhirnya akan menjadi beban berat bagi generasi mendatang. Dengan daya beli masyarakat yang rendah dan jeratan utang yang semakin mengikat, masa depan ekonomi Indonesia menjadi tanda tanya besar.
Krisis Data dan Ancaman Terhadap Kedaulatan Bangsa
Puncak dari analisis kritis Ichsanuddin adalah mengenai “krisis data” yang sudah berlangsung lama, mulai dari masalah KTP hingga temuan desa fiktif. Ia menyebut hal ini sebagai “rekayasa kebijakan berbasis kepalsuan.”
Yang paling mengkhawatirkan, Ichsanuddin Noorsy memperingatkan bahwa penyerahan data kependudukan ke pihak asing, khususnya Amerika, akan mengancam kedaulatan data Indonesia. Jika ini terjadi, Indonesia berpotensi menjadi “negara bagian virtual” dari Washington, kehilangan kendali atas informasi fundamental warganya. Analisis ini menjadi pencerahan penting bagi publik untuk memahami bahwa isu ekonomi dan data kependudukan memiliki dampak langsung terhadap kedaulatan dan masa depan bangsa.
Pesan untuk Masyarakat: Berbuat Baik dan Mandiri di Tengah Ketidakpastian
Menutup diskusinya, Ichsanuddin Noorsy menyatakan tidak perlu berdebat dengan pihak yang tidak mau mendengar. Ia mengajak masyarakat untuk fokus pada hal-hal yang bisa mereka kendalikan: berbuat baik, saling menolong, dan meningkatkan iman. Ia menyadari bahwa masyarakat kini harus menghadapi berbagai “perang” (proksi, asimetris, informasi, dan pangan) sendirian karena negara dianggap tidak memberikan perlindungan yang memadai.
”Jika tidak bisa menolong orang lain, selamatkan lingkungan sekitar. Wujudkan kebaikan dengan berbagi ilmu, pemahaman, dan pengertian. Meringankan beban dan pikiran orang lain,” pesannya.(Red).






