Markaberita.id | Jakarta, 22 Juli 2025 – Suasana internal DPD Partai Golkar Jakarta Timur memanas. Wakil Ketua Bidang Pemenangan Pemilu, Noman Silitonga, S.H., menyampaikan pernyataan keras, membongkar apa yang ia sebut sebagai “manuver politik dua kaki” menjelang Musyawarah Daerah (Musda) DPD Golkar DKI Jakarta.
Noman secara terang-terangan menunjuk Sekretaris DPD Golkar Jakarta Timur, Sdr. Sardi Wahab, yang juga menjabat Anggota DPRD DKI Jakarta, sebagai dalang manuver tersebut.
Etika Partai Terkoyak oleh Ambisi Pribadi?
“Kami kecewa dan malu. Ini persoalan etika dan komitmen organisasi. Manuver dua kaki yang didalangi Sdr. Sardi Wahab sangat mencoreng marwah partai dan melecehkan hasil pleno yang sah,” ujar Noman dengan nada tegas.
Pernyataan ini mencuat setelah DPD Partai Golkar Jakarta Timur sebelumnya telah secara resmi menetapkan dukungan kepada H. Ahmed Zaki Iskandar sebagai calon Ketua DPD Golkar DKI Jakarta. Dukungan ini merupakan hasil pleno bersama seluruh pimpinan kecamatan, menunjukkan konsensus yang kuat. Namun, belakangan, muncul gelagat dan upaya yang mengarah pada pencabutan dukungan dan pemberian dukungan ganda secara tidak transparan.
“Golkar Bukan Milik Perorangan!”
Noman Silitonga menduga bahwa manuver ini didorong oleh ambisi pribadi. “Kami menduga ini adalah ambisi Saudara Sardi Wahab untuk menduduki kursi pimpinan dewan, yang seharusnya tidak mengorbankan kredibilitas partai. Kami menolak cara-cara seperti ini. Golkar bukan milik perorangan, tapi milik seluruh kader,” tegasnya, memperingatkan agar kepentingan pribadi tidak mengorbankan integritas partai.
Pihak Noman Silitonga menegaskan akan terus mengawal hasil keputusan pleno dan memastikan Partai Golkar Jakarta Timur tetap berada dalam jalur yang benar, menjunjung tinggi disiplin dan loyalitas struktural.
“Kami ingin membangun Golkar yang solid, bermartabat, dan punya etika. Bukan Golkar yang tunduk pada manuver pribadi,” pungkas Noman, menutup pernyataannya dengan seruan untuk menjaga kehormatan partai.
Fenomena ini menyoroti pentingnya menjaga integritas dan komitmen dalam setiap organisasi politik, terutama menjelang momen krusial seperti Musda. Akankah suara Noman Silitonga mampu meluruskan kembali arah Golkar Jakarta Timur, ataukah manuver “dua kaki” ini akan terus berlanjut? Perkembangan selanjutnya patut kita ikuti.(Red).






