Rulsi Bintang Bicara Amal Tapi Akta Bicara Warisan Publik Lampung Tak Bisa Dibohongi

Hukum, Pendidikan682 Dilihat

 

Bandar Lampung, Markaberita.id

Bandar Lampung,Univeristas Malahayati 16 April 2025 – Pernyataan tertulis Pembina Yayasan Alih Teknologi Bandar Lampung (YATBL), Rusli Bintang, yang menyebut Universitas Malahayati didirikan untuk amal dan bukan warisan keluarga, kini menuai respons keras dari berbagai pihak. Pasalnya, isi akta hukum yang diklaim sebagai dasar legal justru membuktikan sebaliknya.

Dalam akta Notaris No. 243 Tanggal 17 Januari 2025 yang disahkan Kemenkumham dan dirujuk oleh Rusli sendiri, seluruh susunan pengurus yayasan justru diganti secara sepihak. Nama anak-anak dari istri pertama—yang turut membesarkan yayasan dan kampus selama puluhan tahun—dikeluarkan dari struktur.

Sebaliknya, kursi-kursi penting dalam yayasan diisi oleh istri kedua dan anak-anaknya.

Baca Juga  Warga Resah, Dugaan Peredaran SIM Palsu Mencuat di Lampung, Jejak Pemasaran Terendus hingga Wakatobi

“Kalau benar untuk masyarakat Lampung, mengapa hanya satu sisi keluarga yang dimasukkan ke dalam yayasan? Itu bukan amal, itu warisan yang dibungkus legalitas,” ujar salah satu tokoh akademisi Universitas Malahayati.

Pernyataan Rusli bahwa yayasan tidak dapat diwariskan pun terasa ganjil, sebab tindakan hukum yang ia tempuh justru memperlihatkan pewarisan kekuasaan secara struktural, tertutup, dan penuh konflik kepentingan.

Lebih jauh, kekhawatiran publik terhadap masa depan kampus ini bukan tanpa dasar. Salah satu institusi pendidikan lain yang dikelola oleh kelompok yang kini ingin menguasai YATBL adalah Institut Kesehatan Indonesia (IKI) di Jakarta.

_“IKI jelas-jelas tidak mampu dikelola dengan benar. Apakah Universitas Malahayati akan diarahkan ke jurang yang sama?”_ (16/04/2025) unimal,ujar salah satu dosen senior yang kini angkat bicara.

Baca Juga  kepala Desa Purun Nur Effendi menghadiri acara pelepasan siswa kelas IX Madrasah Tsanawiyah Al, Husna Tahun ajaran 2023/2024

Sementara itu, publik menilai langkah pelantikan pengurus yayasan di hotel mewah tanpa kuorum dan tanpa keterlibatan pengurus lama sebagai tindakan simbolik yang tidak menjawab substansi konflik.

Terlebih lagi, janji Rusli kepada aparat dan masyarakat untuk berdialog secara kekeluargaan tidak pernah ditepati.

Saat massa mahasiswa dan masyarakat menunggu, hanya Ibu Rosnati—istri sah dan ibu dari anak-anak yang dikeluarkan dari yayasan—yang datang sendirian menghadapi kerumunan.

“Rusli bintang bilang sedih, tapi terus menyulut api konflik, Mendatangkan Preman dari jakarta sampai 3 bis, tidak selsaai dengan itu mendatangkan preman yang dibungkus dengan pakaian satpam. Kalau memang ingin damai, seharusnya beliau duduk bersama, bukan sembunyi di balik akta dan pelantikan diam-diam,” tegas seorang mahasiswa Malahayati yang mengikuti aksi damai beberapa waktu lalu.

Baca Juga  Jelang Rakernas dan HUT Ke-3 DPP PWDPI Adakan Pemantapan Panitia

Kini, masyarakat Lampung, civitas akademika, dan alumni hanya punya satu harapan: agar Universitas Malahayati dikembalikan ke jalur semestinya—bukan menjadi korban dari drama pewarisan kekuasaan yang dibungkus jargon pengabdian.