Beda “Penurunan” dan “Perlambatan”, GSBK Minta Publik Cermati Tata Kelola BSI

Hukum, Nasional74 Dilihat

​JAKARTA, Markaberita.com — Koordinator Nasional Gerakan Santri Biru Kuning (GSBK), Febri Yohansyah, mendesak publik dan pemegang saham untuk mencermati secara objektif dinamika keuangan PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI). Ia menekankan pentingnya membedakan antara “penurunan laba” dan “perlambatan pertumbuhan laba” agar evaluasi terhadap perusahaan berjalan secara proporsional.

​Sorotan ini disampaikan GSBK menyusul perlambatan pertumbuhan laba BSI dari periode 2024 ke 2025, yang kerap dikaitkan kembali oleh sebagian pihak dengan insiden serangan siber ransomware kelompok LockBit pada 2023 silam.

​Febri mengakui bahwa serangan siber terhadap BSI pada Mei 2023 merupakan peristiwa serius yang sempat mengganggu layanan perbankan dan mencuri perhatian publik. Kendati demikian, ia menilai insiden masa lalu tersebut tidak boleh dijadikan “tirai” atau tameng untuk menutupi pertanyaan seputar efektivitas kinerja internal saat ini.

Baca Juga  Sorotan CBA: Saat Wamenperin Rangkap Jabatan Jadi Komisaris Utama Pertamina Gas

​”BSI pernah mengalami musibah pada 2023. Serangan LockBit memang fakta dan menimbulkan persoalan serius. Tetapi, jangan biarkan satu kejadian dari luar menjadi tirai yang menutupi segala pertanyaan soal kinerja internal yang melambat,” ujar Febri dalam keterangannya, Sabtu (19/9/2026).

​Berdasarkan data keuangan resmi BSI, laba bersih perseroan sebenarnya terus mengalami kenaikan dari tahun ke tahun: tercatat Rp5,70 triliun pada 2023, meningkat menjadi Rp7,01 triliun pada 2024, dan kembali naik menjadi Rp7,57 triliun pada 2025.

​Namun, GSBK mencermati adanya perlambatan pada besaran kenaikan laba. Kenaikan dari 2023 ke 2024 mencapai sekitar Rp1,30 triliun, sedangkan dari 2024 ke 2025 melambat menjadi sekitar Rp561,6 miliar.

Baca Juga  Angin Perubahan Bansos: Fokus Baru untuk Kelompok Paling Rentan dan Asa Produktivitas bagi yang Mampu

​”Kalau manajemen betul profesional dan jujur, mengapa pertumbuhan laba dari 2024 ke 2025 hanya sekitar Rp561,6 miliar? Padahal dari 2023 ke 2024 pertumbuhannya masih sekitar Rp1,3 triliun,” kritik Febri.

​Ia menegaskan bahwa faktor eksternal seperti peretas bukanlah penentu tunggal kesehatan finansial sebuah bank. Keberhasilan mempertahankan performa yang stabil, menurutnya, sangat bergantung pada profesionalisme internal.

​”Yang menjaga laba bukan kehadiran atau ketiadaan peretas. Yang menjaga laba adalah manajemen yang profesional, perencanaan yang matang, efisiensi yang konsisten, dan pelayanan yang sungguh-sungguh,” tegasnya.

​Di sisi lain, data resmi BSI menunjukkan bahwa perusahaan tidak mengalami kerugian ataupun penurunan laba bersih. Pada awal 2026, BSI bahkan melaporkan perolehan laba Rp1,36 triliun dengan pertumbuhan sekitar 17 persen secara tahunan, yang ditopang oleh ekspansi pembiayaan serta bisnis emas.

Baca Juga  Suryadharma Ali, Mantan Menteri Agama, Tutup Usia di Jakarta

​Meski demikian, GSBK menilai perbedaan antara penurunan dan perlambatan pertumbuhan laba ini harus menjadi pemicu bagi pemangku kepentingan untuk meneliti lebih dalam aspek tata kelola (governance), kualitas pembiayaan, efisiensi, dan strategi bisnis jangka panjang BSI.

​”Bank ini membawa nama syariah dan mengelola dana masyarakat luas. Karena itu, transparansi, profesionalisme, dan kepercayaan publik harus selalu menjadi prioritas utama,” pungkas Febri.(red).