
MARKABERITA.ID | Jakarta, 11 Maret 2026 – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar Rp 135,7 triliun pada dua bulan pertama tahun 2026 merupakan bagian dari strategi pemerintah untuk mempercepat dampak ekonomi bagi masyarakat.
Angka defisit per Februari 2026 tersebut mencatatkan kenaikan signifikan sebesar 342,4% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Purbaya menjelaskan bahwa perubahan tren ini dipicu oleh pergeseran pola belanja negara yang kini dipacu sejak awal tahun guna menghindari penumpukan realisasi di akhir tahun.
Menurut Purbaya, desain APBN 2026 memang diarahkan untuk defisit dengan tujuan memberikan stimulus yang lebih merata sepanjang tahun.
”Kita paksakan belanjanya lebih merata sepanjang tahun sehingga dampak belanja pemerintah terhadap perekonomian lebih terasa sejak dini. Ini berbeda dengan pola lama yang terfokus di akhir tahun,” ujar Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTA di Jakarta, Rabu (11/2/2026).
Hingga 28 Februari 2026, kondisi postur fiskal Indonesia menunjukkan dinamika sebagai berikut:
- Pendapatan Negara: Terkumpul Rp 358 triliun (tumbuh 12,8% yoy). Penerimaan Pajak: Rp 245,1 triliun (naik pesat 30,4%).Kepabeanan & Cukai: Rp 44,9 triliun (turun 14,7%).PNBP: Rp 68 triliun (turun 11,4%).
- Belanja Negara: Terealisasi Rp 493,8 triliun (melonjak 41,9% yoy). Belanja Pemerintah Pusat: Rp 346,1 triliun (naik signifikan 63,7%).Transfer ke Daerah (TKD): Rp 147,7 triliun (naik 8,1%).
Meski angka defisit terlihat melebar tajam di awal tahun, Purbaya meyakini instrumen fiskal tetap berada dalam jalur yang terkendali. Kombinasi antara pertumbuhan pajak yang positif dan akselerasi belanja pusat diharapkan mampu menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi nasional di tengah tekanan eksternal.
”APBN terus berperan optimal sebagai instrumen stabilisasi sekaligus penggerak pertumbuhan ekonomi nasional,” pungkasnya.(Red).






