BRIN Prediksi Potensi Perbedaan Awal Ramadan 1447 H / 2026 M

Nasional, Religi872 Dilihat

​MARKABERITA.ID | Jakarta, 17 Februari 2026  – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan adanya potensi perbedaan penetapan awal Ramadan 1447 Hijriah di Indonesia. Perbedaan ini diperkirakan terjadi karena adanya keberagaman kriteria dalam penentuan hilal (bulan baru) yang digunakan oleh berbagai organisasi kemasyarakatan Islam dan pemerintah.

​Koordinator Pokris Astronomi dan Observatorium BRIN, Profesor Thomas Djamaluddin, menjelaskan bahwa berdasarkan perhitungan astronomis, awal Ramadan tahun ini berpotensi jatuh pada dua tanggal yang berbeda, yakni 18 Februari dan 19 Februari 2026.

​”Ada potensi perbedaan awal Ramadan. Sebagian kemungkinan menetapkan pada 18 Februari, sementara yang lain pada 19 Februari,” ujar Thomas Djamaluddin dalam keterangannya.

​Perbedaan ini umumnya dipicu oleh dua standar utama yang berlaku di Indonesia:

  1. ​Metode Wujudul Hilal: Yang menetapkan bulan baru selama posisi hilal sudah berada di atas ufuk saat matahari terbenam.
  2. ​Kriteria MABIMS: Standar yang digunakan Pemerintah (Kemenag) yang mensyaratkan tinggi hilal minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat.
Baca Juga  Jaksa Agung: “Pemberantasan Korupsi dan Upaya Pendampingan Kejaksaan Agung dalam Proyek BTS 4G, Turut Memajukan Indonesia di Bidang Teknologi Informasi”

​Kementerian Agama (Kemenag) RI dijadwalkan akan menggelar Sidang Isbat pada Selasa, 17 Februari 2026, untuk mengambil keputusan resmi secara nasional. Sidang ini akan menjadi titik temu antara hasil perhitungan teknis (hisab) dengan pemantauan lapangan (rukyatul hilal).

​Pemerintah telah menyiagakan petugas di 96 titik pemantauan hilal yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia guna memastikan akurasi data sebelum memberikan pengumuman resmi kepada masyarakat.(Red).