MARKABERITA.ID | Jakarta, 15 Januari 2025 – Visi besar Indonesia Emas 2045 kini berada di titik nadir. Harapan menjadikan puncak bonus demografi sebagai motor penggerak ekonomi dunia terancam kandas jika pemerintah tidak segera melakukan reformasi total pada arah kebijakan publik, khususnya yang berdampak langsung pada Generasi Z (Gen-Z).
Ekonom sekaligus pakar kebijakan publik, Dr. Ichsanuddin Noorsy, menyampaikan peringatan keras terhadap tren kebijakan pemerintah saat ini. Ia menilai negara terlalu “terobsesi” pada pencapaian angka makroekonomi, namun abai terhadap penguatan kualitas mental dan intelektual manusia sebagai fondasi utama.
Dari Bonus Menuju Bencana Demografi
Noorsy memperingatkan bahwa dominasi penduduk usia produktif bukan jaminan kemakmuran. Tanpa persiapan sistemik, fenomena ini justru berisiko menjadi disaster demography (bencana demografi) yang membebani negara.
“Indonesia Emas itu bukan sekadar soal angka pertumbuhan ekonomi di atas kertas. Pertanyaannya, apakah negara benar-benar hadir membentuk kualitas nalar dan mental Gen-Z? Jika pola kebijakan masih dangkal dan parsial, maka 2045 hanya akan menjadi deretan angka kosong di spanduk kampanye,” tegas Noorsy dalam wawancara di Surabaya, Selasa (13/1/2026).
Tiga Dosa Besar Desain Pembangunan Manusia
Dalam analisisnya, Noorsy membedah tiga titik lemah yang dianggap sebagai kegagalan grand design pembangunan manusia di tanah air:
- Orientasi Tenaga Kerja Murah: Kebijakan saat ini dianggap terlalu berfokus pada kuantitas dan keterampilan teknis sesaat demi pasar kerja. Hal ini mengorbankan kemampuan berpikir kritis (critical thinking) yang sangat krusial di era kecerdasan buatan (AI).
- Inflasi Nilai Akademik: Noorsy mengkritik keras sistem pendidikan yang mempermudah perolehan indeks prestasi tinggi (IPK) namun melonggarkan kejujuran akademik. Hasilnya, tercipta generasi dengan nilai tinggi namun rapuh dalam ketahanan berpikir.
- Krisis Struktur Nilai: Di tengah gempuran globalisasi yang pragmatis, negara dianggap gagal memberikan proteksi terhadap moralitas dan integritas generasi muda, sehingga karakter bangsa semakin terkikis.
Reorientasi: Belajar dari Transformasi Asia Timur
Sebagai solusi konkret, Noorsy mendesak pemerintah untuk melakukan reorientasi kebijakan dengan berkaca pada keberhasilan Korea Selatan dan China. Kedua negara tersebut terbukti sukses mengintegrasikan kemajuan ekonomi dengan penguatan basis budaya serta nilai kebangsaan yang sangat kuat.
“Korea Selatan dan China menunjukkan bahwa ekonomi berbasis nilai dan budaya adalah kebijakan nyata, bukan sekadar wacana. Kita butuh keberanian politik untuk mengoreksi arah kebijakan hari ini demi menyelamatkan masa depan peradaban Indonesia,” pungkasnya.(Red).






