Markaberita.id | Jakarta, 1 Desember 2025 — Jagat maya kembali dihebohkan oleh kritik pedas yang dilayangkan aktivis lingkungan dan penulis muda, Balqis Humaira. Dalam unggahan terbarunya, Balqis menuding kebijakan kehutanan yang dikeluarkan pada era Ketua Umum PAN, Zulkifli Hasan, saat menjabat sebagai Menteri Kehutanan (Menhut) di masa lalu, sebagai akar penyebab masifnya deforestasi dan bencana hidrometeorologi di Sumatera, termasuk banjir dan longsor.
Balqis membuka kritiknya dengan menyoroti kontras mencolok antara citra publik pejabat dan dampak riil dari kebijakan yang mereka tanda tangani.
“Gue udah bosen liat pejabat senyum manis di depan kamera… tapi di balik senyum itu ada tanda tangan yang bikin hutan Sumatera jungkir balik kayak digilas truk tambang,” tulis Balqis dengan nada geram, Ahad (30/11/2025).
Kritik Balqis secara spesifik menyorot Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) di Riau sebagai contoh nyata. Kawasan yang seharusnya menjadi benteng terakhir ekosistem vital di Sumatera tersebut, kini disebut Balqis tinggal serpihan. Menurutnya, pembukaan lahan untuk sawit ilegal dan perambahan yang tak terkendali adalah akibat langsung dari agresivitas izin pelepasan kawasan hutan di masa kepemimpinan Zulkifli Hasan.
“Gue nggak bilang lo yang nebang pohonnya sendiri. Tapi setiap izin itu adalah lampu hijau. Setiap tanda tangan itu mengubah ekosistem,” tegas Balqis.
Laporan-laporan lembaga lingkungan juga sering mencatat percepatan dan perluasan pelepasan kawasan hutan untuk kepentingan industri ekstraktif pada periode tersebut. Balqis menilai dampak kumulatif dari kebijakan masa lalu inilah yang kini dirasakan langsung oleh masyarakat Sumatera dalam bentuk bencana lingkungan yang kian sering terjadi.
Balqis secara lugas menolak narasi yang sering digunakan pemerintah bahwa banjir di Sumatera hanyalah fenomena alam biasa. Ia menegaskan bahwa bencana hidrometeorologi yang meningkat frekuensinya—seperti banjir dan longsor—adalah bencana kebijakan.
“Air deras turun tanpa rem karena nggak ada lagi akar pohon yang nahan… Ini bukan marahnya bumi, ini imbas tanda tangan pejabat. Termasuk tanda tangan lo, Zul,” tulisnya.
Ia menjelaskan secara edukatif bahwa kerusakan hutan telah menghilangkan fungsi alamiah hutan sebagai penyerap dan penahan air. Akibatnya, masyarakat di hilir menjadi korban, sementara pejabat dinilai sibuk dengan pencitraan dan pengalihan isu.
Selain menargetkan pejabat, Balqis juga mengkritik masyarakat luas yang dianggapnya terlalu mudah teralihkan oleh gosip selebriti dan drama politik, sehingga abai terhadap isu-isu kebijakan fundamental yang berdampak langsung pada lingkungan dan keselamatan warga.
“Aib seleb nggak bikin kampung lo kebanjiran. Tapi deforestasi bikin,” tegasnya, menyentil urgensi kesadaran publik terhadap isu lingkungan.
Menutup kritiknya, Balqis melontarkan pertanyaan moral yang menohok kepada Zulkifli Hasan dan seluruh pembuat kebijakan kehutanan di Indonesia.
“Berapa banyak nyawa lagi yang harus rusak sebelum pejabat mengakui bahwa kebijakan salah arah itu punya konsekuensi?”
Hingga berita ini diterbitkan, pihak Zulkifli Hasan belum memberikan tanggapan resmi terkait kritik tajam dari Balqis Humaira yang telah memicu diskusi luas di media sosial.(Red).






